Konten dari Pengguna
Perempuan Merdeka Menentukan Pilihan
20 September 2022 14:58 WIB

Kiriman Pengguna
Perempuan Merdeka Menentukan Pilihan
Seperti yang sering kita ketahui belakangan ini, perempuan selalu merasa diintimidasi oleh pilihan-pilihan yang ingin mereka suarakan, padahal perempuan juga berhak memilih dan bersuara. Sri Mardaleni
Tulisan dari Sri Mardaleni tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Salah satu kesulitan yang dihadapi oleh perempuan awam yaitu merasa bimbang dalam menentukan pilihan hidup, memilih untuk menjadi seorang wanita karir atau bekerja dari rumah sebagai fulltime ibu rumahtangga. Padahal, jika kita telusuri lebih dalam, makna perempuan memiliki peran yang multifungsi, karena bisa saja perempuan memilih dua peran yang berbeda dalam satu waktu, bahkan bisa melakukan pilihan-pilihan lain selayaknya pilihan yang membanjiri kaum laki-laki.

Untuk mempertegas pengertian awam pada tulisan kali ini, maka rasanya perlu diperjelas bahwa maksud dari awam di sini hanyalah sebatas pemikiran yang sama di khalayak ramai.
Selanjutnya, Apa itu perempuan awam? Apakah seorang perempuan yang tidak memiliki pengalaman sama sekali atau perempuan yang tidak memiliki skill dan pendidikan?
Bagi saya sendiri, pilihan tersebut membuat ketidakbebasan dalam menikmati hidup. Adakalanya masyarakat masih mempertanyakan atau mengklasifikasikan kehidupan seseorang dengan sebuah pekerjaan.
Selayaknya kehidupan, terkadang beberapa pilihan akan membuat kita kebingungan dalam menentukan pilihan itu sendiri, begitupun dengan perempuan kebanyakan atau perempuan awam yang berada di tengah-tengah masyarakat saat ini. Hal ini selaras dengan pernyataan yang diberikan oleh Kierkegaard, bahwa manusia menderita ketika harus memilih antara dua hal yang sama baiknya. Sebagai contoh kecilnya, saya bisa saja memilih untuk menulis artikel ini, atau saya kembali bertandang mengerjakan tugas kuliah yang harus diselesaikan pada hari yang sama.
Kebebasan seringkali mendatangkan konsekuensi yang sulit ditanggung. Kita menderita karena kita punya pilihan, dan ketika salah memilih, maka kita mengutuk diri sendiri. Filsafat Kierkegaard sejak awal sudah bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan praktis eksistensial, menyangkut apa yang harus ia lakukan, dan bukan apa yang ia ketahui.
Bagi Kierkegaard, pertanyaan yang relevan dalam filsafat bukanlah mengenai hakikat kodrat manusia seperti pencarian dalam sejarah filsafat sejak Aristoteles. Melainkan apa yang harusnya dilakukan manusia, khususnya bagi dirinya sendiri, agar dapat menemukan kedamaian dan makna hidup.
Lalu, bisa kita lihat contoh nyata bagaimana pilihan tersebut di tengah kaum perempuan di sekitar kita. Seorang ibu yang memilih untuk menjadi ibu rumahtangga atau wanita karir kadangkala harus menimbang kembali pilihan tersebut demi eksistensi di dalam masyarakat, agar tidak salah pilih dalam kacamata keluarga maupun orang-orang di sekitar.
Kita lupa, bahwa kedua hal itu bisa dilakukan secara bersamaan tanpa harus memilih salah satunya. Menurut hemat saya yang barangkali akan terjun ke dunia pernikahan, memilih menjalani keduanya adalah pilihan terbaik, sebab wanita juga memiliki kebutuhan pribadi, seperti kebutuhan kecantikan, makan dan pengembangan diri. Kebutuhan ini rata-rata kurang terpenuhi jika perempuan memiliki suami yang kurang mapan dalam menafkahi.
Saya berharap, perempuan lebih mandiri untuk menentukan pilihan hidupnya sendiri, meskipun keputusan tersebut harus bertentangan dengan kemauan orang-orang di sekitarnya, akan tetapi bukan sebuah pilihan yang akan bertentangan dengan prinsip agama dan norma kehidupan, karena perempuan juga harus memiliki prinsip dalam menjalani kehidupannya sendiri.

