Konten dari Pengguna
Binatang Buas
21 November 2025 21:00 WIB
Ā·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Binatang Buas
Perilaku laki-laki yang tetap genit meski memiliki pasangan dapat dipahami melalui konsep micro-cheating, kebutuhan validasi sosial, hingga ketidakjelasan batas relasional dalam ruang digital. SebalikFandi Achmad Fahrezi
Tulisan dari Fandi Achmad Fahrezi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Binatang
Perilaku seorang laki-laki yang tetap bersikap genit kepada perempuan lain meskipun telah memiliki pasangan misalnya berfoto dengan perempuan lain disertai caption ambigu merupakan fenomena yang sering muncul dalam interaksi modern, terutama di media sosial. Fenomena ini menjadi lebih kompleks ketika pelaku meyakinkan bahwa ia telah mendapat izin dari pasangannya. Untuk memahami dinamika ini secara kritis, diperlukan kerangka analisis dari psikologi sosial, sosiologi interaksi, dan teori hubungan interpersonal.
āDalam kajian InternationalJournalofSocial Science and HumanResearch perilaku semacam ini dapat dikategorikan sebagai micro-cheating, yaitu perilaku ambang yang ātidak cukup ekstremā untuk disebut perselingkuhan. Namun, secara emosional dapat mengancam rasa aman pasangan. Klaim bahwa ia telah mendapat izin tidak selalu mencerminkan kesetaraan emosional yang berarti bisa saja izin diberikan karena tekanan relasional, keengganan menimbulkan konflik, atau sekadar ketidakmampuan pasangan untuk menegosiasikan batas secara asertif. Bukankah ini seperti sebuah rumah memiliki pagar, tetapi pagar itu tidak jelas tingginya. Orang luar dapat melangkah masuk sedikit tanpa dianggap menerobos, tetapi tetap saja batasnya kabur dan membuat penghuni rumah tidak merasa aman sepenuhnya. Perilaku genit adalah melangkah ke area pagar abu-abu yang tidak disebut melanggar, tetapi tetap meresahkan.
āDi sisi lain, dalam teori impression management dari Erving Goffman membantu menjelaskan motif perilaku tersebut. Media sosial menyediakan panggung di mana individu menampilkan diri ideal mereka. Dalam konteks ini, berfoto mesra dengan perempuan lain dan memberikan caption ambigu dapat menjadi cara seseorang mempertahankan citra diri sebagai sosok menarik, ramah, atau diinginkan banyak orang. Sedangkan dalam UnravelingtheParadoxes of Narcissism karya Morf, C. C., & Rhodewalt, F , individu dengan kecenderungan high extraversion dan kebutuhan validasi yang tinggi cenderung menikmati respons sosial eksternal, seperti komentar dan perhatian dari lawan jenis. Hal tersebut tidak serta-merta menunjukkan patologi kepribadian, tetapi mengindikasikan ketidakmatangan regulasi identitas relasional. Mudahnya, seperti pemain musik yang sudah memiliki kontrak dengan satu label, tetapi tetap sering tampil gratis di banyak tempat hanya untuk memastikan bahwa ia masih diinginkan oleh penonton. Secara kontrak mungkin tidak salah, tetapi dari sisi etika profesional, hal itu memunculkan ambiguitas komitmen.
Lalu, dari perspektif sosiologi interaksi berdasarkan dari karya Connell, R. W yang berjudul Masculinities konstruksi maskulinitas dalam banyak masyarakat masih menempatkan menjadi disukai banyak perempuan sebagai indikator status sosial laki-laki. Dalam kultur tersebut, mendekati banyak perempuan dianggap normal selama tidak melewati batas fisik yang eksplisit. Hal ini menjadikan klaim sudah izin sebagai legitimasi simbolik, bukan negosiasi setara. Dengan kata lain, pria bisa saja merasa tidak bersalah karena perilakunya dianggap wajar dalam norma sosial tertentu, padahal secara emosional perilaku tersebut tetap bermasalah bagi pasangannya.
Buas
Selanjutnya, Sternberg, R. J. dengan teori A TringularofLove menekankan relasi yang sehat dibangun oleh tiga unsur: komitmen, keintiman, dan kejujuran emosional. Klaim bahwa ia sudah diizinkan tidak otomatis mencerminkan kejujuran emosional. Izin yang diberikan tanpa perundingan yang matang atau tanpa mempertimbangkan beban emosional pasangan hanya menjadi retorika pembenaran (self-serving justification). Di sini penting membedakan: izin formal bukan berarti kenyamanan emosional. Serupa dengan seseorang yang mengizinkan temannya meminjam motor karena sungkan menolak, bukan karena sungguh rela. ā
āKemudian, penting untuk membedah sikap perempuan lagi yang sudah tahu laki-laki tersebut punya kekasih tapi tetap mau dengan berbagai alasan, seperti: "Dia bilang pasangannya sudah memberi izin, kami hanya berinteraksi biasa, atau dia yang mendekati, bukan saya.ā
āSebuah artikel yang berjudul A TheoryofPsychologicalReactance karya Brehm, J, menjelaskan bahwa manusia cenderung tertarik pada sesuatu yang secara sosial dianggap dibatasi. Ketika perempuan mengetahui bahwa laki-laki tersebut sudah memiliki kekasih, batas ini dapat menciptakan sensasi ketertarikan terselubung yang tidak selalu disadari. Bukan karena ia ingin merebut, tetapi karena larangan itu sendiri menimbulkan dorongan emosional. Pada saat yang sama, perempuan mungkin mengalami cognitive dissonance, yakni terjadinya konflik antara nilai moral (misal: menghargai hubungan orang lain) dan kenyataan emosional (misal: merasa nyaman, tertarik, atau dihargai oleh laki-laki tersebut). Setidaknya begitulah pendapat dari Festinger dalam A Theory of Cognitive Dissonance. Sederhananya, Seperti seseorang yang tahu makanan manis tidak baik untuk kesehatannya, tetapi tetap memakannya sambil berkata hari ini saja bukan karena ia tak peduli, melainkan karena rasa itu memberi kenyamanan sesaat.
āSelain itu, berdasarkan teori kelekatan milik Bartholomew & Horowitz yang tertulis dalam Attachment styles among young adults, dijelaskan bahwa sebagian orang memiliki pola kelekatan yang membuat mereka mudah tertarik pada figur yang mampu memberi rasa aman, perhatian, atau kehangatan. Ketika laki-laki yang berpasangan memberikan perhatian lembut, misalnya merespon cepat, memuji, atau berbicara dengan cara yang meyakinkan... perempuan bisa merasa dihargai dan diterima. Bagi sebagian orang yang memiliki kebutuhan afeksi tinggi, ini dapat memicu kedekatan emosional meski mereka tahu situasinya rumit. Hmm, acap kali seperti seseorang melihat tanaman yang tampak sangat subur dan indah di pekarangan orang lain. Ia tahu tanaman itu bukan miliknya, tetapi keindahan dan kehangatannya membuat ia berhenti sejenak untuk mengagumi. Ia tidak memiliki niat mengambilnya, tetapi tetap merasakan daya tarik emosional.
āPotensi yang lain juga dijelaskan oleh Carol Gillgan dalam In a Different Voice: Psychological Theory and Women's Development, bahwa perempuan sering dibentuk oleh norma-norma sosial untuk menjaga hubungan, menghindari penolakan, dan merespons dengan empati. Dalam konteks tertentu, perempuan mungkin tetap terlibat karena merasa tidak enak menolak, merasa hubungan sosial harus tetap harmonis, atau merasa laki-laki tersebut tulus dalam kedekatannya. Lebih jauh, ketika laki-laki tampil percaya diri dan persuasif ditambah klaim āpasanganku sudah tahuā maka terbentuklah relasi kuasa halus yang tidak selalu tampak sebagai paksaan. Ini bukan manipulasi eksplisit, tetapi dinamika sosial yang memengaruhi keputusan perempuan.
āTerakhir, dari segi kominikasi interpersonal menjelaskan bahwa sinyal nonverbal, seperti senyum hangat, respons cepat, perhatian intens...mudah ditafsirkan sebagai ketertarikan emosional, padahal belum tentu demikian. Perempuan yang memang merasakan kenyamanan dapat menafsirkan sinyal ambigu sebagai tanda kedekatan yang lebih dalam dari yang sebenarnya terjadi. Begitulah kata Burgoon.

