Konten dari Pengguna
Jika Sekedar Angka Tentunya Semut Sudah Berkuasa
24 Agustus 2025 17:23 WIB
Ā·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Jika Sekedar Angka Tentunya Semut Sudah Berkuasa
Kebenaran dalam filsafat memiliki beragam teori, mulai dari korespondensi (sesuai realitas), koherensi (selaras dengan sistem berpikir), hingga pragmatisme (diukur dari manfaat praktis). Dari sini munFandi Achmad Fahrezi
Tulisan dari Fandi Achmad Fahrezi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Semut
āKebenaran pada dasarnya merupakan suatu kesesuaian antara pernyataan dengan kenyataan. Dalam filsafat, kebenaran sering dibedakan menjadi beberapa teori: teori korespondensi (kebenaran sesuai realitas), teori koherensi (kebenaran selaras dengan sistem berpikir), serta teori pragmatisme (kebenaran diukur dari manfaat praktisnya). Dari beragam teori tersebut, kebenaran utilitarian lebih dekat dengan pragmatisme: sesuatu dianggap benar sejauh memberi manfaat bagi sebanyak mungkin orang.
āUtilitarianisme adalah aliran etika yang berkembang di abad ke-18 dan 19, dipopulerkan oleh Jeremy Bentham dan John Stuart Mill. Prinsip utamanya adalah the greatest happiness for the greatest number kebahagiaan terbesar untuk jumlah orang terbanyak. Kebenaran, dalam kerangka utilitarian, tidak semata diukur dari fakta obyektif, melainkan dari seberapa jauh ia mampu menghadirkan manfaat sosial, kesejahteraan, atau kebahagiaan kolektif.
āBentham (1789) dalam An Introduction to the Principles of Morals and Legislation menjelaskan bahwa baik-buruknya suatu tindakan bergantung pada konsekuensi kebahagiaan atau penderitaan yang ditimbulkannya. John Stuart Mill (1863) dalam Utilitarianism memperdalam gagasan ini dengan menekankan kualitas kebahagiaan, bukan sekadar kuantitasnya. Dengan demikian, kebenaran utilitarian bukanlah kebenaran yang kaku, melainkan kebenaran yang bergerak sesuai konteks sosial dan kemanfaatannya.
Angka
āMenurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Indeks Tingkat Gemar Membaca (TGM) nasional pada tahun 2024 mencapai 72,44 kenaikan signifikan dibandingkan 66,77 pada tahun 2023. Meskipun meningkat, skor tersebut masih dalam kategori sedang (rentang 50,1ā75).
āIndeks IPLM (Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat) juga meningkat, menjadi 73,52 naik 5,9 % dari tahun sebelumnya. Meski begitu, aktivitas membaca sejak usia dini masih rendah: hanya sekitar 17,21 % anak dibacakan cerita dongeng, dan 11,12 % membaca buku bersama orang tua. Adapun hasil tes PISA 2022 menunjukkan kondisi literasi baca siswa Indonesia masih rendah: peringkat ke-69 dengan skor total sekitar 1108, dan skor membaca sekitar 359
āKondisi ini memiliki relevansi dengan konsep kebenaran utilitarian. Karena ketika minat baca rendah, ukuran ābenarā sering kali bukan lagi fakta yang dapat diverifikasi, melainkan manfaat praktis yang segera dirasakan. Siswa lebih percaya informasi yang langsung membantu mereka dalam tugas atau pekerjaan, ketimbang informasi yang menuntut perenungan mendalam.
āJika utilitarianisme menekankan manfaat, rendahnya minat baca memperkuat kecenderungan pelajar untuk menilai kebenaran dari aspek kegunaan saja. Misalnya, siswa di SMK lebih menyukai ringkasan, handout, atau video pembelajaran singkat di TikTok dan YouTube ketimbang membaca buku tebal. Bagi mereka, kebenaran yang penting adalah yang bisa langsung dipraktikkan untuk ujian atau keterampilan kerja.
āNamun, hal ini menimbulkan dilema. Di satu sisi, berpikir utilitarian mendorong kecepatan dalam mengakses manfaat. Di sisi lain, bila tidak diimbangi dengan tradisi membaca, siswa kehilangan kedalaman kritis dalam memahami konteks kebenaran itu sendiri. Misal, Di sebuah SMK negeri di Jember, seorang guru sejarah memberikan tugas membaca bab tertentu dari buku Sejarah Indonesia. Hanya sebagian kecil siswa yang benar-benar membaca. Sebagian besar mencari ringkasan di internet atau menyalin jawaban dari grup WhatsApp. Ketika ditanya mengapa, salah satu siswa menjawab:
āDalam kacamata utilitarian, tindakan siswa ini dianggap ābenarā karena menghasilkan manfaat langsung: tugas selesai, nilai aman, waktu luang tersisa. Namun dalam perspektif kebenaran filosofis, siswa gagal memahami isi teks secara mendalam. āKebenaran utilitarian bisa dianalogikan dengan obat sakit kepala. Bagi pasien, obat dianggap benar dan baik karena segera menghilangkan rasa sakit. Namun, jika hanya berorientasi pada manfaat praktis, pasien bisa saja mengabaikan penyebab sebenarnya dari sakit kepala tersebut. Demikian pula siswa SMK: informasi yang instan memberi manfaat cepat, tetapi bisa mengabaikan kebenaran yang lebih substantif.
āSelaras dengan itu, Menurut Franz Magnis-Suseno (1999) dalam bukunya Etika Dasar, utilitarianisme memang efektif sebagai ukuran praktis tindakan, namun berisiko mereduksi kebenaran hanya pada aspek kegunaan. Ia menegaskan bahwa etika tidak bisa berhenti pada yang berguna, tetapi juga harus mempertimbangkan āyang benar secara moralā.
āHal senada ditegaskan oleh John Stuart Mill (1863, Utilitarianism) bahwa kualitas kebahagiaan harus lebih diutamakan daripada kuantitasnya. Dengan demikian, minat baca yang rendah membuat siswa terjebak pada ākebenaran utilitarianā dalam arti sempit yang penting cepat berguna padahal kebenaran yang lebih tinggi menuntut proses, refleksi, dan kedalaman berpikir.

