Konten dari Pengguna

Pinjaman Harapan atau Jebakan

Fandi Achmad Fahrezi
Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Jember
17 September 2025 15:28 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Pinjaman Harapan atau Jebakan
Pinjaman online dapat menjadi penolong jika dalam keadaan terdesak namun dapat menjadi jebakan jika digunakan untuk menggantungkan diri secara ekonomi.
Fandi Achmad Fahrezi
Tulisan dari Fandi Achmad Fahrezi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
pixabay com
zoom-in-whitePerbesar
pixabay com
Harapan
‎Fenomena pinjaman online (pinjol) menjadi bagian tak terelakkan dalam kehidupan masyarakat modern. Akses yang mudah, pencairan yang cepat, dan syarat yang minim membuat pinjol sering dipilih ketika individu menghadapi keterbatasan dana. Namun, persoalan mendasar yang muncul adalah: apakah pinjol sebaiknya digunakan untuk kebutuhan mendesak (urgensi) ataukah layak diperlakukan sebagai sumber modal untuk investasi? Pertanyaan ini perlu dijawab dengan logika rasional dan perspektif ekonomi agar masyarakat tidak terjebak dalam jebakan hutang.
‎Dalam ekonomi rumah tangga, kebutuhan mendesak sering muncul tiba-tiba: biaya kesehatan, pendidikan anak, atau transportasi penting. Dalam konteks ini, pinjol berfungsi layaknya “pemadam kebakaran” ia memang tidak ideal untuk digunakan setiap hari, tetapi pada saat rumah terbakar, kehadirannya menjadi penolong.
‎Menggunakan pinjol untuk kebutuhan mendesak berarti:
‎1. Dana yang dicairkan hanya dipakai sementara untuk menutup kekurangan sesaat.
‎2. Pembayaran dilakukan segera setelah jatuh tempo, dengan disiplin ketat agar tidak membengkak.
‎3. Tidak ada ambisi memperbesar limit untuk konsumsi, melainkan sekadar menyelesaikan masalah darurat.
Jebakan‎
‎Dari sudut pandang ekonomi, pola ini masih rasional karena pinjol diposisikan sebagai alat likuiditas jangka pendek, bukan sebagai mesin pencetak keuntungan. Analogi sederhananya, seperti meminjam ember tetangga ketika dapur kebakaran; ember itu bukan alat investasi, tetapi penyelamat keadaan. Sebaliknya, ketika pinjol dipakai untuk tujuan investasi, maka logika yang berjalan menjadi lebih rumit. Secara teori, setiap modal dapat diputar untuk menghasilkan nilai tambah. Namun, pinjol memiliki dua karakteristik yang membuatnya berbahaya sebagai sumber investasi:
‎1. Bunga tinggi dan tenor pendek keuntungan dari investasi kecil (misalnya jualan harian) sering tidak sebanding dengan beban bunga.
‎2. Efek domino jika satu pinjaman gagal dilunasi tepat waktu, seluruh skema bisa runtuh.
‎Bayangkan seseorang meminjam Rp200.000 dari pinjol dengan tenor 30 hari. Bunga dan biaya admin rata-rata = 20% sehingga yang harus dibayar kembali = Rp240.000.
‎Dana Rp200.000 tersebut dipakai untuk usaha kecil (jualan minuman).
‎Keuntungan bersih rata-rata dari jualan = Rp5.000 per hari.
‎Dalam 30 hari, total keuntungan = Rp150.000.
‎Hasilnya:
‎Keuntungan usaha = Rp150.000
‎Kewajiban pinjol = Rp240.000
‎Defisit = Rp90.000
‎Artinya, meskipun usaha berjalan lancar, hasilnya tetap tidak bisa menutupi beban bunga pinjol. Ini menunjukkan bahwa pinjol sebagai modal investasi lebih sering berakhir rugi ketimbang untung. Mengibaratkan pinjol sebagai modal investasi mirip dengan menanam benih di tanah yang tandus: meskipun ada kemungkinan tumbuh, risiko gagal panen jauh lebih besar daripada hasil yang diharapkan. Bahkan jika benih tumbuh, biaya pupuk dan perawatan (baca: bunga dan denda) bisa menggerus hasil panen hingga tidak tersisa.
‎Logika rasional menuntut kita menimbang opportunity cost. Konsep opportunity cost pertama kali diperkenalkan oleh Friedrich von Wieser (1851–1926), seorang ekonom Austria dari Mazhab Austria. Ia mengembangkan konsep ini dalam bukunya " The Natural Value" (Der natürliche Wert) yang diterbitkan tahun 1889. Wieser berargumen bahwa nilai ekonomi tidak hanya dilihat dari harga pasar, melainkan juga dari nilai alternatif terbaik yang hilang ketika seseorang membuat pilihan.
‎Secara sederhana, opportunity cost adalah biaya dari pilihan yang dikorbankan ketika seseorang memilih suatu alternatif. Dalam ekonomi, tidak ada keputusan yang gratis. Setiap kali kita memilih A, maka ada B (atau pilihan lain) yang harus kita lepaskan, dan itulah yang disebut biaya peluang. Contohnya, Jika seorang mahasiswa menggunakan Rp200.000 untuk bayar pinjol, maka opportunity cost-nya adalah uang tersebut tidak bisa dipakai untuk kebutuhan makan, transportasi, atau investasi kecil lainnya. Jadi opportunity cost bukan sekadar uang yang keluar, melainkan nilai dari pilihan terbaik yang dikorbankan.
‎Oleh karena itu, dalam kerangka ekonomi, penggunaan pinjol sebagai alat survival masih dapat diterima, sementara penggunaan pinjol sebagai alat akumulasi modal justru bertentangan dengan prinsip efisiensi. Modal seharusnya berasal dari sumber yang lebih murah dan stabil (tabungan, koperasi, atau kredit produktif dengan bunga rendah), bukan dari pinjol dengan bunga harian yang mencekik.
Trending Now