Konten dari Pengguna
Tentang Kapur yang Patah
28 September 2025 14:22 WIB
·
waktu baca 10 menit
Kiriman Pengguna
Tentang Kapur yang Patah
Kapur yang Patah bercerita tentang Arman, seorang guru sejarah di sebuah sekolah negeri pinggiran kota yang penuh dengan keterbatasan. Di balik idealismenya untuk mendidik generasi muda, ia harus berhFandi Achmad Fahrezi
Tulisan dari Fandi Achmad Fahrezi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kapur yang Patah
Bel sekolah berdering panjang, memecah kesunyian pagi di sekolah negeri yang berdiri di pinggir kota kecil. Bangunan itu tampak renta: cat dindingnya kusam, jendela-jendelanya berdebu, dan atap sengnya berderit setiap kali angin lewat. Dari kejauhan, sekolah ini seperti rumah tua yang terus dipaksa berdiri meski tulang-tulangnya rapuh.
Di halaman depan, bendera merah putih berkibar malas, warnanya mulai pudar oleh panas matahari dan hujan. Lapangan tanah yang seharusnya digunakan untuk upacara lebih sering berubah jadi kubangan ketika hujan turun. Beberapa anak datang tergesa-gesa, seragam mereka lusuh, ada yang masih basah karena dicuci pagi-pagi buta. Tas punggung mereka penuh tambalan, tapi mata mereka tetap berbinar seolah sekolah adalah satu-satunya ruang di mana harapan bisa disimpan.
Pak Darma melangkah pelan menuju kelasnya. Sepatunya yang sudah aus menimbulkan bunyi gesekan pelan di lantai koridor yang retak-retak. Di tangannya, ia membawa sebatang kapur putih yang tinggal separuh. Baginya, kapur itu adalah senjata sekaligus beban. Ia tersenyum tipis melihat anak-anak berlarian menuju kelas, sebagian masih membawa bekal dalam plastik, sebagian lagi sibuk menghapus sisa tanah di kaki mereka. Ruang kelas itu sederhana, tapi penuh cerita. Meja kayu bergores-gores nama, bekas coretan murid-murid yang bosan. Kursi-kursi reyot berderit setiap kali murid duduk atau bergerak. Di sudut ruangan, sebuah kipas angin tua berdiri kaku, berdebu, hanya berfungsi jika dipukul beberapa kali. Aroma kapur bercampur dengan bau lembab tembok yang jarang disentuh cat baru.
Pak Darma menatap murid-muridnya satu per satu. Ada Rina, anak nelayan yang selalu datang dengan rambut basah karena harus membantu orang tuanya sebelum berangkat. Ada Joko, yang sering tertidur di kelas karena malamnya mengojek membantu bapaknya. Ada pula Sari, yang meskipun sepatunya sobek, selalu mencatat dengan rapi di buku bekas.
“Anak-anak,” ucap Pak Darma, suaranya serak tapi hangat, “ilmu itu seperti air. Kalau kalian rajin menimba, sumur tidak akan pernah kering. Tapi kalau dibiarkan, ia bisa mengendap dan membusuk.”Beberapa anak mengangguk, ada yang tersenyum simpul, ada pula yang masih menunduk, entah karena mengantuk atau malu. Namun bagi Pak Darma, setiap mata yang menatapnya adalah alasan untuk bertahan. Walau hanya dengan kapur yang patah, ia merasa sedang menulis jejak yang tak akan hilang di hati anak-anak ini.
Tapi jauh di dalam hatinya, ada getaran resah. Ia tahu, begitu melangkah keluar dari kelas ini, kenyataan lain akan menunggunya: setumpuk berkas, rapat mendadak, dan gaji yang tak sebanding dengan keringat yang jatuh setiap hari.
Bel pulang baru saja berbunyi ketika Pak Darma melangkah keluar dari kelas. Senyum tipisnya lenyap begitu ia masuk ke ruang guru. Di atas meja kerjanya, bertumpuk map-map warna biru dan hijau, masing-masing diikat dengan karet yang sudah melar. Kertas-kertas keluar dari sisi map, seperti ingin berteriak karena terlalu penuh.
Patah
Ia duduk pelan, membuka satu map, lalu menghela napas panjang.
“RPP, silabus, jurnal harian, catatan remedial...” ia membaca satu per satu. Suaranya lirih, nyaris seperti orang bergumam kepada diri sendiri.
Kertas itu berderet seperti ular tak berujung. Lembar pertama menuntutnya menjabarkan tujuan pembelajaran dengan bahasa akademis yang rumit, sementara yang ia hadapi sehari-hari adalah murid-murid yang sering tak punya buku, bahkan ada yang datang tanpa sarapan.
“Kadang aku merasa bukan guru, tapi juru tulis,” desisnya.
Tangannya gemetar menyalin kalimat-kalimat formal. Kata-kata seperti kompetensi inti, kompetensi dasar, indikator, dan penilaian autentik ia tulis tanpa keyakinan. Bukan karena ia tak paham, melainkan karena realitas di kelas sangat berbeda. Murid-muridnya lebih butuh sepiring nasi daripada rubrik penilaian yang kaku.
Di meja sebelah, Bu Ratna, seorang guru muda...menoleh sambil tersenyum getir.
“Pak, jangan kaget. Kalau semua berkas itu belum lengkap, gaji kita bisa ditahan.”
“Ditahan?” alis Pak Darma terangkat.
“Iya, katanya bagian dari penertiban administrasi. Entah benar atau tidak, pokoknya tanpa tumpukan kertas, kita dianggap tak bekerja.”
Pak Darma terdiam. Ia teringat ucapannya sendiri di kelas tadi pagi: ilmu itu seperti air. Tapi kini, di hadapannya, ilmu justru mengering karena terjerat kertas.
Sore itu, ia dipanggil kepala sekolah untuk rapat mendadak. Di ruang rapat kecil, para guru duduk dengan wajah lelah. Kepala sekolah, dengan nada datar, membacakan instruksi dari dinas: laporan kegiatan literasi harus masuk besok pagi, lengkap dengan dokumentasi foto dan tanda tangan.
“Bagaimana bisa, Pak?” tanya salah seorang guru. “Kegiatannya saja belum sempat jalan.”
“Ya, dibuat saja,” jawab kepala sekolah singkat.
“Dibuat?” suara Pak Darma tercekat.
“Iya, formalitas. Yang penting berkas masuk. Urusan realisasi, belakangan.”
Pak Darma merasa dadanya sesak. Formalitas. Kata itu seperti palu yang menghancurkan semangatnya. Bukankah tugas guru mendidik? Mengapa kini seolah mereka hanya sibuk dengan sandiwara laporan?
Setelah rapat bubar, ia kembali ke mejanya, menatap layar laptop usang yang sering macet. Ia mencoba menulis laporan sesuai format, tapi setiap kata terasa seperti menulis kebohongan. Ia tahu beberapa rekan memilih jalan mudah: mengambil template dari internet, mengganti nama, menempel tanda tangan. Semua beres dalam hitungan jam.
Ia sendiri menolak. Tapi menolak berarti duduk semalaman, memikirkan kalimat, mengisi tabel, sampai matanya berair.
Jam dinding menunjuk pukul sembilan malam ketika ia masih berada di ruang guru. Lampu neon berkedip, suara jangkrik dari luar masuk lewat jendela. Tangannya kaku mengetik, tapi pikirannya melayang pada anak dan istrinya yang menunggunya di rumah.
Ia menghela napas, lalu berkata lirih pada dirinya sendiri,
“Kalau guru hanya sibuk dengan berkas, lalu siapa yang benar-benar mengajar?”
Keesokan harinya, ruang guru dipenuhi obrolan yang tak lagi asing bagi telinga Pak Darma. Segerombolan guru duduk melingkar, menumpuk map merah di meja, sambil bercanda seolah beban administrasi hanyalah permainan kecil. Di meja itu, aroma kopi sachet bercampur dengan asap rokok yang memenuhi udara.
“Dar, kau tahu kabar terbaru?” tanya Pak Joni, guru senior yang dikenal lihai berurusan dengan dinas.
Pak Darma menoleh dengan setengah hati. “Apa lagi?”
“Katanya ada tunjangan baru. Tapi syaratnya laporan kegiatan harus lengkap, plus dokumentasi. Kau mau kubantu uruskan? Tinggal kasih fotokopi KTP dan tanda tangan, urusan beres.”
Pak Darma mengernyit. “Tapi kegiatan itu kan belum pernah kita jalankan.”
Pak Joni terkekeh. “Ah, Dar… jangan kaku begitu. Semua orang juga tahu laporan itu cuma formalitas. Kita buat fotonya, pakai anak-anak sebagai model. Besok selesai, uang cair. Toh, siapa yang rugi?”
Bu Ratna yang duduk di dekat mereka menyahut lirih, “Yang rugi itu murid-murid, Pak. Mereka belajar bahwa kebohongan bisa dibenarkan asal untung.” Ucapan itu membuat suasana sesaat hening. Tapi tawa Pak Joni segera memecah lagi. “Ratna, kau masih muda. Idealisme itu bagus, tapi kalau terlalu tegak, cepat patah. Lihat Darma ini, sudah lima belas tahun mengajar, masih hidup pas-pasan. Mau sampai kapan?”
Kata-kata itu menusuk Pak Darma. Ia tidak membalas, hanya menatap slip gajinya yang kusut di dalam saku. Ia tahu ada kebenaran pahit di ucapan Joni: idealisme tidak selalu bisa menafkahi keluarga.
Beberapa hari kemudian, terjadi peristiwa yang membuat batinnya makin goyah. Sekolah mendapat kunjungan mendadak dari pengawas dinas. Semua guru sibuk menyiapkan berkas. Pak Joni dan kawan-kawannya dengan cepat mengeluarkan map tebal berisi laporan rapi, lengkap dengan stempel dan tanda tangan. Bahkan ada foto-foto kegiatan yang seolah nyata, padahal Pak Darma tahu itu hasil rekayasa.
Ketika pengawas datang ke kelasnya, Pak Darma hanya bisa menunjukkan catatan seadanya. Ia lebih banyak menyiapkan bahan ajar daripada memoles laporan. Hasilnya? Pengawas mencatat kekurangannya, bahkan memberi teguran tertulis. Setelah rombongan pengawas pergi, Pak Joni menepuk bahu Darma sambil tersenyum miring.
“Sudah kubilang, Dar. Kalau kau tak ikut arus, kau akan tenggelam. Di negeri ini, kejujuran itu mahal, bahkan kadang dianggap kebodohan.”
Pak Darma menatap kosong papan tulis yang masih berdebu. Hatinya bergemuruh. Ia merasa terjebak di persimpangan: tetap tegak dengan idealisme dan menanggung konsekuensi, atau ikut arus dan mengkhianati nurani.
Malam itu, di beranda rumah, ia berkata pada istrinya, “Aku merasa seperti berdiri di tengah sawah yang dipenuhi tikus. Aku berjuang menanam padi, tapi mereka memakannya dengan rakus. Sampai kapan aku harus bertahan?”
Istrinya hanya menatapnya lama, lalu menjawab pelan, “Mas, yang terpenting kita masih bisa hidup jujur. Tapi kalau jujur membuatmu hancur, apakah kita harus terus begini?”
Kata-kata itu menghantam Pak Darma lebih keras daripada ejekan rekan gurunya.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Pak Darma memilih berjalan sendirian ke sawah di pinggir desa. Tempat itu sering menjadi ruang sunyinya, jauh dari hiruk pikuk administrasi, teguran pengawas, atau cemooh rekan kerja. Di sana, hamparan padi yang menguning menyambutnya, berayun pelan tertiup angin sore.
Ia berhenti di pematang, lalu duduk di bawah pohon randu. Dari kejauhan, suara anak-anak yang sedang bermain bola terdengar riang, kontras dengan kepenatan yang ia pikul.
Pak Darma menatap sawah itu lama sekali. Ia membatin, “Para petani ini bekerja dari subuh, keringat mereka membasahi tanah. Tapi saat panen tiba, harga gabah ditentukan orang-orang kota yang tak pernah menyentuh lumpur. Bukankah itu sama dengan guru? Kami mendidik anak bangsa, tapi nilai dan nasib kami ditentukan oleh angka-angka di meja birokrat.”
Ingatan akan percakapan dengan istrinya kembali menghantam. Kata-kata Bu Siti tentang anak-anak yang minder, tentang kebutuhan rumah tangga, menggema di telinganya. Ia merasa dirinya seperti kerbau yang dicocok hidung: kuat bekerja, tapi terus ditarik ke arah yang tidak ia kehendaki.
Di tengah perenungannya, seorang petani tua lewat, mendorong gerobak kecil berisikan padi. Petani itu tersenyum ramah.
“Lagi mikir, Pak Guru?” tanyanya.
Pak Darma mengangguk pelan. “Iya, Pak. Kadang saya merasa seperti padi ini. Berdiri tegak, tapi akhirnya dipotong juga.”
Petani itu terkekeh. “Bedanya, Pak, padi yang merunduk itu bermanfaat. Kalau manusia? Terkadang yang jujur malah disingkirkan. Dunia ini aneh.”
Kalimat sederhana itu menancap di hati Pak Darma. Ia sadar, bahkan orang desa yang setiap hari bersahabat dengan lumpur pun melihat ketidakadilan dengan mata telanjang.
Malam harinya, ia duduk di kamar, menatap buku catatan yang sudah usang. Di halaman depan, ia dulu pernah menulis sebuah kutipan yang ia kagumi sejak mahasiswa:
“Pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia.”
Namun kini, ia bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku masih memanusiakan diriku sendiri jika terus membiarkan keluarga terpuruk? Apakah aku masih manusiawi jika membiarkan anakku menahan malu di sekolahnya?”
Air matanya jatuh. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun mengajar, ia merasa panggilan jiwanya mulai goyah.
“Barangkali, aku harus berhenti jadi guru. Barangkali, ada jalan lain untuk tetap hidup dengan bermartabat.”
Hari itu, udara pagi di sekolah terasa lebih berat dari biasanya. Pak Darma melangkah ke ruang guru dengan langkah gontai, membawa selembar kertas yang telah ia ketik semalaman: surat pengunduran diri. Tangannya bergetar saat menggenggamnya, seolah kertas itu jauh lebih berat daripada sebongkah batu. Ruang guru sudah ramai. Pak Joni sedang bercanda dengan guru lain, memperlihatkan slip tunjangan barunya. “Lihat, Dar! Kalau ikut cara saya, sekarang kau juga sudah bisa bawa motor baru ke sekolah,” ujarnya sambil tertawa keras.
Pak Darma hanya tersenyum tipis. “Selamat, Jon,” katanya pelan.
Tanpa banyak bicara, ia berjalan menuju meja kepala sekolah. Ruangan itu sunyi ketika ia masuk. Kepala sekolah menatapnya dengan alis terangkat.
“Ada apa, Darma?”
Dengan suara lirih, namun tegas, ia menjawab, “Pak, saya ingin mengundurkan diri.”
Kepala sekolah terperangah. “Apa kau serius? Kau guru yang baik, Dar. Murid-murid menyukaimu. Jangan gegabah.”
Pak Darma menunduk, lalu mengangkat wajahnya yang basah oleh keringat dingin. “Saya sudah berusaha bertahan, Pak. Tapi saya merasa dunia ini bukan lagi ruang yang bisa menampung idealisme saya. Saya ingin mencari jalan lain, jalan yang lebih jujur untuk keluarga saya.”
Kepala sekolah terdiam, lalu akhirnya menerima surat itu dengan wajah muram. “Keputusan ada di tanganmu. Tapi ingat, Darma, sekali kau tinggalkan kelas, sulit bagimu kembali.”
Keluar dari ruangan itu, dada Pak Darma terasa sesak sekaligus lega. Ia melangkah ke kelas terakhirnya dengan hati bergetar. Murid-muridnya menatap penuh tanya saat ia berdiri di depan papan tulis.
“Anak-anak,” katanya, suaranya hampir pecah, “ini mungkin pertemuan terakhir kita. Bapak ingin kalian tahu, ilmu itu bukan hanya soal angka di rapor, tapi juga tentang bagaimana kalian bisa hidup jujur dan bermartabat.”
Seisi kelas hening. Beberapa anak menunduk, ada yang menitikkan air mata. Pak Darma menulis kalimat terakhir di papan tulis dengan kapur putih:
“Hidup itu bukan hanya bertahan, tapi juga menemukan jalan yang benar.”
Setelah itu, ia meletakkan kapur di meja seakan meletakkan seluruh idealismenya dan berjalan keluar.

