Konten dari Pengguna

Anak yang Tak Diinginkan

Naufal Demelzha
Mahasiswa Hubungan Internasional UMM dan Peneliti Parrhesia Collective Academia
13 Oktober 2025 11:23 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Anak yang Tak Diinginkan
Esai curhatan anak yang seringkali merasa tak diinginkan.
Naufal Demelzha
Tulisan dari Naufal Demelzha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Freepik/GStudioImagen
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi ibu dan anak. Foto: Freepik/GStudioImagen
“Semua ini hampa,” bisik hati kecilku saban kali sesuatu tercapai, meskipun banyak orang berkata bangga. Kekosongan itu tumbuh dari satu sumber: tak pernah ada tepukan dari seorang ayah. Pengakuan datang sepotong-sepotong, nyaris seluruhnya dari ibu yang paling paham bagaimana seorang anak bertahan dengan separuh kasih sayang. Ia selalu ada, kapan pun dan di mana pun. Namun yang kuinginkan sedari awal adalah dua tangan yang sama-sama memeluk. Sampai hari ini, aku masih bergulat dengan perasaan sebagai anak yang tak diinginkan dan sulit dibanggakan.
Aku sering iri pada teman-teman yang pulang dengan cerita sederhana: ayahnya menjemput sepulang sekolah, mengelus kepala, bertanya apakah hari ini menyenangkan. Iri itu bukan karena aku membenci mereka, melainkan karena aku tak punya kamus untuk menerjemahkan bahasa sayang seorang ayah. Sesekali aku mencoba berdamai dengan kenyataan: mungkin tidak semua orang lahir untuk menerima pelukan yang sama. Tapi berdamai bukan berarti berhenti merindukan. Rindu itu seperti lampu di ruang tamu; kadang redup, kadang terang, namun selalu menyala.
Di malam-malam yang sepi, aku kerap mendengar suaraku sendiri menjelma dua orang: anak kecil yang menunggu dipuji dan orang dewasa yang lelah terus-menerus membuktikan diri. Anak kecil itu ingin ditatap sambil mendengar “aku bangga padamu”. Orang dewasa itu menimpali, “kita tak butuh itu untuk hidup, tapi mengapa dada tetap sesak?” Di antara dua suara itu, aku belajar menegakkan punggung tanpa kehilangan kelembutan. Bahwa kuat bukan berarti kebal, dan rapuh bukan berarti kalah.
Aku mulai mengumpulkan momen-momen kecil sebagai alat ukur ketangguhanku: berusaha antusias dan menahan diri untuk tidak sinis ketika orang lain bercerita tentang keluarganya, menutup laptop tepat waktu agar tubuhku tidak merasa dihukum, memperlambat langkah saat lewat depan rumah-rumah yang lampunya hangat. Aku menamai momen-momen itu sebagai “hadiah sunyi”. Sebuah hadiah yang tidak dibungkus pita, namun menyelamatkan akal sehatku. Dengan cara itu, aku menyadari betapa seringnya diri ini selamat berkat kebiasaan sederhana yang sengaja kupelihara.
Ilustrasi keluarga. Foto: Freepik
Ada masa ketika aku menyalahkan diriku sendiri: mungkin aku yang tak cukup baik untuk dicintai, mungkin aku yang terlalu bising, terlalu keras kepala, terlalu ambisius. Namun pelan-pelan aku mengerti, seorang anak tidak pernah berkewajiban membuat dirinya pantas bagi kasih sayang orang tua. Kasih sayang seharusnya turun tanpa syarat, dan ketika syarat itu hadir, luka ikut mendaftar sebagai anggota keluarga. Menyadari ini bukan untuk menuduh siapa pun, melainkan untuk membebaskan diriku dari beban yang bukan bagianku sejak awal.
Aku juga belajar bahwa kebanggaan tidak melulu soal piala dan angka di transkrip. Kebanggaan bisa berbentuk punggung ibu yang tak lagi terbebani karena aku mampu berdiri sendiri. Bisa berupa napas yang lebih tenang ketika kubayar tagihan tanpa berkeringat dingin. Bisa sesederhana caraku menatap cermin dan berkata, “kamu cukup, sekalipun tak ada yang menonton”. Barangkali itulah definisi baru “dibanggakan” yang kupilih: bukan menunggu seseorang mengangkat namaku, tapi memilih cara hidup yang tidak mengkhianati diriku sendiri.
Perlahan, aku membangun keluarga dari orang-orang yang memilih tinggal: teman yang mengingatkan untuk makan, dosen yang menanyakan kabar tanpa agenda, kolega yang pulang dari warung kopi setelah berkata “istirahatlah”. Mereka tidak menggantikan siapapun, tapi mereka mengisi ruang yang dulu kosong dengan konsistensi kecil. Dari mereka aku belajar, rumah tidak selalu alamat, pun juga berbentuk bangunan yang kokoh; rumah adalah ritme pertemuan, bahasa yang tak perlu diterjemahkan, dan perhatian yang tidak ditagih.
Jika suatu hari aku bertemu lagi dengan ayah, dengan semua sejarah yang terlalu berat disebut dalam sekali duduk, aku ingin datang bukan sebagai wasilah penyampai luka, tapi sebagai saksi yang utuh. Aku ingin mengatakan bahwa ketidakhadirannya pernah membentuk jurang, tapi jurang itu kini telah kututup dengan jembatan-jembatan kecil yang kubangun sendiri: pengetahuan, kerja keras, kejujuran pada perasaan, dan kesediaan memaafkan tanpa harus melupakan pelajarannya. Barangkali itulah cara paling dewasa untuk menjaga hati: mengakui fakta, membatasi dampaknya, lalu melanjutkan hidup seperti sediakala.
Ilustrasi kelurga. Foto: Freepik
Aku menulis ini bukan untuk mengemis belas kasihan. Aku menulis agar versi anak kecil di dalam diriku punya arsip, agar ia tahu bahwa kita sama-sama bertahan. Aku menulis agar orang yang merasa serupa dapat duduk sejenak, menarik napas, dan memahami bahwa rasa tak diinginkan bukan vonis akhir, melainkan titik mula dalam merekonstruksi makna. Kita boleh lahir dari puing-puing, namun kita tak wajib menetap di sana.
Hari ini, ketika orang-orang memujiku karena nilai, gelar, atau gelombang prestasi lain, aku akan mengangguk dan mengucap terima kasih. Tapi ketika malam tiba dan lampu kamar redup, aku memuji diriku karena hal-hal yang tidak tampak: keberanian untuk bangun lebih pagi esok hari, kelembutan untuk memaafkan yang tak akan pernah meminta maaf, dan tekad untuk menjadi seorang ayah yang kelak tidak membuat anaknya menulis esai seperti ini. Mungkin itulah kemenangan yang sesungguhnya—bukan di panggung, melainkan di dalam diriku sendiri.
Pada akhirnya, “anak yang tak diinginkan” bukan gelar yang kuterima sepenuhnya. Ia hanya cerita bab pembuka yang mengantarku pada pilihan-pilihan berikutnya. Di halaman-halaman selanjutnya, aku memegang pena. Aku menuliskan cara baru mencintai keluarga yang masih tersisa, cara baru membanggakan diriku tanpa merendahkan siapapun, cara baru menutup pintu masa lalu sambil membuka jendela masa depan. Jika esok ada yang bertanya siapa aku, aku akan menjawab dengan sederhana: aku adalah seseorang yang belajar menjadikan kekurangan sebagai arah, bukan alasan. Dan itu, bagiku, akhirnya cukup.
Trending Now