Konten dari Pengguna

Soeharto, Antara Luka dan Rindu di Hari Pahlawan

Ismail Mony
Alumni Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang 2025, Ketua Umum HMI Koorkom UMM 2024-2025
10 November 2025 12:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Soeharto, Antara Luka dan Rindu di Hari Pahlawan
Refleksi Hari Pahlawan 2025: di antara rindu dan luka terhadap Soeharto, bangsa ini diuji untuk jujur menatap sejarah, antara pembangunan dan pembungkaman, antara ingatan dan pelajaran.
Ismail Mony
Tulisan dari Ismail Mony tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi foto, Soeharto Presiden RI Ke 2. sumber (Martin Reno)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi foto, Soeharto Presiden RI Ke 2. sumber (Martin Reno)
Setiap peringatan Hari Pahlawan, bangsa ini diajak kembali merenungkan makna perjuangan dan kepahlawanan. Namun, refleksi itu tampaknya belum sepenuhnya selesai. Sebab, tahun ini, publik kembali dihadapkan pada wacana yang memecah ingatan kolektif: pengusulan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. Bagi sebagian kalangan, wacana tersebut merupakan bentuk pengakuan atas jasa besar seorang pemimpin yang membawa stabilitas dan kemajuan ekonomi. Namun bagi sebagian lain, ia adalah bentuk pengaburan sejarah, sebab di balik “stabilitas” itu tersimpan luka panjang tentang pembungkaman, kekerasan politik, dan pelanggaran hak asasi manusia.
Di titik ini, bangsa Indonesia kembali diuji dalam kemampuannya menghadapi masa lalu secara jujur. Sejarah, sebagaimana dikatakan Benedict Anderson (2006), bukan sekadar kumpulan fakta, tetapi konstruksi imajiner yang terus dinegosiasikan oleh generasi yang hidup di masa kini. Dengan kata lain, perdebatan tentang Soeharto bukan hanya soal penilaian terhadap masa lalu, tetapi juga cerminan dari kondisi psikologis dan politik bangsa hari ini tentang bagaimana kita memilih untuk mengingat dan melupakan.
Dua Wajah Sejarah
Soeharto memang meninggalkan jejak yang kompleks. Di satu sisi, ia adalah simbol pembangunan dan stabilitas. Pemerintahannya berhasil menurunkan inflasi, meningkatkan ketahanan pangan, serta memperluas infrastruktur dasar. Narasi ini menempatkannya sebagai “Bapak Pembangunan”, figur yang dianggap membawa keteraturan setelah periode ketidakpastian politik pada 1960-an.
Namun, di sisi lain, masa Orde Baru juga menyimpan sisi gelap yang panjang: pembungkaman politik, pelarangan partai, sensor media, penyingkiran terhadap kelompok yang dianggap “subversif”, serta pelanggaran HAM yang tak pernah tuntas. Dalam kerangka Michel Foucault (1977), kekuasaan semacam ini bekerja bukan hanya melalui paksaan, tetapi melalui pembentukan pengetahuan dan wacana yang membuat represi tampak seperti ketertiban. Maka, stabilitas yang dibanggakan Orde Baru sejatinya dibangun di atas pengendalian tubuh dan pikiran warga negara.
Kedua wajah sejarah ini, pembangunan dan represi, tak bisa dipisahkan tanpa merusak keutuhan makna. Namun, dalam ingatan publik, keduanya sering diperlakukan secara terpisah. Sebagian memilih mengingat Soeharto sebagai pemimpin yang menenteramkan, sebagian lain mengenangnya sebagai simbol ketakutan. Akibatnya, sejarah menjadi ruang yang terfragmentasi antara “rindu” dan “luka”.
Ingatan Kolektif dan Nostalgia Politik
Sosiolog Prancis Maurice Halbwachs (1992) menjelaskan bahwa ingatan kolektif selalu dibentuk oleh konteks sosial masa kini. Kita tidak pernah mengingat masa lalu secara murni; kita memilih bagian-bagian tertentu yang relevan dengan kebutuhan identitas dan stabilitas hari ini. Dalam konteks Indonesia, nostalgia terhadap Soeharto sering kali muncul sebagai respons terhadap kekecewaan terhadap kondisi sekarang korupsi yang merajalela, kemacetan politik, dan ketidakpastian ekonomi.
Zygmunt Bauman (2017) dalam Retrotopia menyebut fenomena ini sebagai bentuk “kerinduan terhadap masa lalu yang belum pernah benar-benar ada.” Nostalgia, katanya, adalah reaksi psikologis terhadap ketidakpastian modernitas: manusia cenderung menoleh ke belakang ketika masa depan tampak suram. Dalam konteks Indonesia, nostalgia terhadap Orde Baru menjadi semacam pelarian kolektif dari kelelahan demokrasi. Ketika demokrasi terasa gaduh dan lamban, sebagian orang merindukan “ketertiban” masa lalu meski ketertiban itu dibayar dengan kebebasan.
Politik Melupakan dan Rekonsiliasi yang Tertunda
Banyak bangsa menghadapi dilema serupa. Spanyol, misalnya, setelah jatuhnya diktator Francisco Franco, sempat memilih untuk “melupakan” masa lalunya demi menjaga stabilitas politik. Namun tiga dekade kemudian, mereka memindahkan makam Franco dari Valley of the Fallen, sebagai simbol keberanian menghadapi sejarah secara jujur. Melupakan ternyata tidak menyembuhkan; ia hanya menunda luka. Korea Selatan juga masih bergulat dengan warisan Park Chung-hee, pemimpin yang membawa kemajuan ekonomi tetapi menindas kebebasan. Mereka menghormatinya sebagai tokoh sejarah, tetapi tidak menobatkannya sebagai pahlawan.
Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa pengakuan terhadap masa lalu yang gelap bukan bentuk dendam, melainkan bagian dari rekonsiliasi nasional. Paul Ricoeur (2004) menyebutnya sebagai “hermeneutika ingatan” yakni upaya memahami masa lalu tanpa menutupi rasa bersalah, agar bangsa dapat melangkah tanpa beban.
Sayangnya, Indonesia masih terjebak dalam politik melupakan (politics of forgetting). Kita cenderung menutupi sisi kelam sejarah dengan narasi pembangunan dan ketertiban. Padahal, bangsa yang menolak mengingat tidak akan pernah sungguh-sungguh belajar. Wacana pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto apapun hasilnya seharusnya dijadikan momentum untuk membuka kembali ruang dialog, bukan sekadar perdebatan administratif.
Menimbang Ulang Makna Kepahlawanan
Hari Pahlawan memberi kesempatan untuk meninjau kembali makna kepahlawanan. Dalam konteks sejarah modern, pahlawan bukan hanya mereka yang memegang senjata, tetapi juga mereka yang mempertahankan nurani dan kemanusiaan di tengah tekanan kekuasaan. Pahlawan sejati bukanlah figur yang tanpa cela, tetapi yang berani menanggung risiko demi kebenaran.
Soeharto, tanpa diragukan, adalah bagian penting dari sejarah Indonesia. Ia punya jasa, tetapi juga meninggalkan luka. Menolak atau menerima pemberian gelar kepahlawanan untuknya bukan semata persoalan moral, melainkan cermin dari kedewasaan bangsa dalam menulis sejarahnya sendiri. Apakah kita ingin membangun masa depan dengan ingatan yang utuh, atau dengan nostalgia yang selektif?
Bangsa yang besar bukan bangsa tanpa luka, melainkan bangsa yang berani menatap lukanya dan menjadikannya pelajaran. Dalam konteks itulah, peringatan Hari Pahlawan seharusnya tidak berhenti pada penghormatan simbolik, tetapi menjadi refleksi mendalam tentang bagaimana kita memaknai perjuangan, keadilan, dan kemanusiaan. Sebab hanya bangsa yang berani mengingat secara jujur yang akan mampu melangkah tanpa dibayangi masa lalunya sendiri.
Trending Now