Konten dari Pengguna
Generasi Sandwich: Korban Sistem atau Kurang Bijak Mengatur Uang?
12 September 2025 20:30 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Generasi Sandwich: Korban Sistem atau Kurang Bijak Mengatur Uang?
Generasi sandwich: korban sistem atau kurang bijak mengatur uang? Tekanan hidup nyata, tapi kesadaran finansial juga jadi kunci keluar dari lilitan roti ini. #userstoryA M FIQRAM PABOTTINGI
Tulisan dari A M FIQRAM PABOTTINGI tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa itu generasi sandwich? Analogi sederhananya dapat dilihat pada kasus gaji bulanan yang baru saja masuk ke rekening. Sebelum sempat disisihkan untuk tabungan, sebagian sudah dipakai untuk kebutuhan biaya sekolah adik, sebagian lagi untuk kebutuhan orang tua, dan sisanya dipakai untuk cicilan rumah serta kebutuhan anak.
Fenomena ini dialami jutaan orang Indonesia, dan mereka punya sebutan tersendiri: generasi sandwich. Istilah ini merujuk pada orang yang berada di usia produktif, tetapi terhimpit tanggung jawab ganda yaitu menopang orang tua sekaligus membiayai keluarga inti. Selama ini, generasi sandwich sering digambarkan sebagai pahlawan keluarga. Namun, mari berhenti sejenak dan bertanya: Apakah mereka sepenuhnya korban sistem ekonomi yang timpang atau ikut terjebak karena keputusan finansial yang kurang bijak?
Tidak dapat dipungkiri, banyak faktor struktural yang membuat generasi ini semakin terhimpit. Pertama, biaya hidup naik lebih cepat daripada gaji. Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi tahunan berada di kisaran 3%. Namun, kalau kita teliti lebih dalam, kenaikan biaya pendidikan dan kesehatan bisa jauh melampaui angka itu.
Kedua, minimnya jaminan sosial. Program pensiun dan asuransi masih belum menjangkau mayoritas pekerja. Akibatnya, banyak orang tua tidak memiliki dana hari tua sehingga beban berpindah pada anak-anak. Ketiga, kesenjangan antargenerasi. Orang tua masih berharap pada dukungan anak, sedangkan anak harus bergulat dengan persaingan kerja yang semakin ketat. Dari sisi ini, wajar saja jika banyak yang menilai generasi sandwich hanyalah korban dari sistem yang belum berpihak.
Namun, pertanyaan berikutnya: Apakah semua kesalahan ada di luar diri mereka? Belum tentu. Ada faktor perilaku yang sering kali ikut memperparah keadaan. Literasi keuangan di Indonesia masih rendah dan banyak keluarga tidak terbiasa menabung atau berinvestasi sejak dini. Gaya hidup konsumtif juga sering menjadi jebakan: keinginan menjaga status sosial membuat orang mengorbankan kestabilan keuangan jangka panjang.
Di sisi lain, membicarakan uang dalam keluarga masih dianggap tabu. Padahal, justru percakapan tersebut penting demi menghindari krisis. Jika semua masalah hanya dilihat sebagai βsalah sistemβ, kita bisa kehilangan peluang untuk mendorong perubahan nyata dari diri sendiri.
Kenyataannya, generasi sandwich butuh dua hal sekaligus. Dari sisi negara, diperlukan perbaikan sistemik berupa jaminan sosial yang lebih kokoh, kebijakan pensiun yang jelas, hingga akses pembiayaan pendidikan yang lebih adil. Semua itu bisa mengurangi beban yang ditanggung generasi muda. Dari sisi individu, perlu ada kesadaran finansial. Mulai dari mengatur anggaran bulanan, menabung, berinvestasi, hingga berani membuka percakapan soal uang dalam keluarga.
Keduanya saling melengkapi. Perubahan dari atas tanpa kesadaran dari bawah hanya setengah jalan. Sebaliknya, disiplin pribadi tanpa dukungan kebijakan yang baik akan membuat upaya individu tetap berat.
Generasi sandwich memang nyata. Mereka bukan sekadar istilah, melainkan wajah dari tekanan ekonomi yang dialami banyak keluarga Indonesia. Namun, menempatkan mereka hanya sebagai korban tidak akan menyelesaikan masalah. Mereka adalah korban sekaligus pelaku: korban dari sistem yang belum sempurna sekaligus pelaku dari berbagai keputusan keuangan yang masih bisa diperbaiki.
Pertanyaan yang lebih penting bukan lagi terkait dengan mereka sebagai korban atau tidak, melainkan sampai kapan mereka mau terus terhimpit di antara roti dan kapan mereka berani meracik resep hidup yang baru.

