Konten dari Pengguna

Inflasi Cumlaude: Ketika Gelar Kehormatan Tak Lagi Eksklusif

Anggun Aulia
Saat ini penulis sedang berkuliah di Universitas Sebelas Maret
29 Juni 2025 16:42 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Inflasi Cumlaude: Ketika Gelar Kehormatan Tak Lagi Eksklusif
Tulisan ini berisi tentang fenomena inlfasi cumlaude yang belakangan ini terjadi di banyak universitas.
Anggun Aulia
Tulisan dari Anggun Aulia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto oleh Emily Ranquist: https://www.pexels.com/id-id/foto/fotografi-orang-lulus-1205651/
zoom-in-whitePerbesar
Foto oleh Emily Ranquist: https://www.pexels.com/id-id/foto/fotografi-orang-lulus-1205651/
Dulu, gelar cumlaude adalah simbol prestasi akademik tertinggi yang hanya diraih segelintir mahasiswa dengan capaian luar biasa. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, predikat ini semakin sering terdengar di setiap upacara wisuda. Tak sedikit kampus yang meluluskan puluhan hingga ratusan mahasiswa cumlaude dalam satu angkatan. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: apakah gelar cumlaude masih memiliki nilai eksklusif seperti dulu?
Fenomena ini berakar dari tekanan eksternal,seperti akreditasi kampus. Banyak kampus mendorong dosen untuk memberi nilai tinggi agar mahasiswa cepat lulus dan memperbaiki reputasi kampus. Banyak perguruan tinggi yang menerapkan sistem peniliaian yang lebih longgar, seperti pemberian nilai remedial atau penyesuaian bobot tugas, sehingga mahasiswa lebih mudah mencapai IPK minimal cumlaude.
Selain itu, kemudahan akses informasi, teknologi, dan sumber belajar membuat mahasiswa lebih mudah meraih nilai tinggi dibandingkan era sebelumnya. Dulu, mahasiswa harus mengandalkan buku fisik yang terbatas jumlahnya di perpustakaan atau menunggu dosen memberikan materi secara langsung. Kini, hanya dengan beberapa klik, mahasiswa dapat mengakses ribuan bahkan jutaan jurnal ilmiah dan video pembelajaran yang memperkaya pemahaman mereka secara instan.
Platform seperti Youtube dan bahkan media sosial seperti TikTok dan Instagram memberi ruang belajar yang fleksibel. Melalui video singkat berdurasi satu hingga tiga menit, konsep-konsep rumit dapat disederhanakan dan disampaikan dengan cara yang menarik dan mudah dicerna. Hal ini tentu menjadi keunggulan tersendiri, namun juga menimbulkan keresahan. Ketika akademik terasa semakin instan, proses pembelajaran yang seharusnya bersifat mendalam justru tergantikan oleh pemahaman instan dan permukaan. Di titik inilah kualitas belajar patut dipertanyakan, apakah nilai tinggi yang diraih benar-benar mencerminkan penguasaan materi atau hanya sekadar hasil shortcut intelektual?
Ketika predikat cumlaude menjadi hal yang lumrah, nilai prestisiusnya pun memudar. Lulusan cumlaude kini harus bersaing lebih ketat karena jumlah mereka yang semakin banyak. Mahasiswa yang benar-benar unggul dalam kualitas harus bersaing dengan lulusan โ€œcumlaude massalโ€ yang mungkin hanya kuat secara numerik, namun lemah dalam praktik.
Tentu bukan berarti setiap lulusan cumlaude tidak layak. Banyak diantara mereka benar-benar bekerja keras dan pantas mendapatkannya. Namun ketika gelar kehormatan diberikan secara massal tanpa pembeda yang jelas, masyarakat pun kehilangan parameter untuk menilai kualitas lulusan. Dunia kerja menjadi lebih skeptis terhadap IPK tinggi. Mereka menganggapnya tidak lagi sebagai jaminan keunggulan kompetensi.
Inflasi cumlaude adalah cerminan perubahan dalam sistem pendidikan tinggi kita. Predikat cumlaude semestinya kembali menjadi simbol eksklusifitas yang diraih melalui keunggulan yang sebenar-benarnya, bukan sekadar angka di transkrip. Cumlaude kini bukan lagi soal siapa yang paling pintar, tetapi siapa yang paling siap menghadapi dunia setelah wisuda.
Trending Now