Konten dari Pengguna
Lembide, Penjaga yang Hilang, dan Rahasia Kelam Danau Laut Tawar
18 Mei 2025 15:46 WIB
Β·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Lembide, Penjaga yang Hilang, dan Rahasia Kelam Danau Laut Tawar
Lembide, makhluk mitologi Gayo, diyakini pergi karena Danau Laut Tawar rusak. Kini, manusialah yang menjadi ancaman terhadap alam yang dulu dijaga dengan penuh kearifan.Abdan Sakura
Tulisan dari Abdan Sakura tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Konon, di dataran tinggi Takengon, tepat di atas permukaan Danau Laut Tawar, masih terdengar bisikan legenda tua yang terus diwariskan dari zaman ke zaman, dari mulut ke mulut. Di sanalah, di jantung tanah Gayo, hidup makhluk mitologi bernama Lembide. Orang-orang mengenalnya dengan berbagai nama Balum-Bili, Balum-Beude, namun yang paling menakutkan adalah Lembide.
Makhluk ini mampu berubah rupa, terkadang menjadi tikar hanyut yang diam mengendap, menunggu mangsanya yang lengah dengan sabar. Ia bukan sekadar hantu biasa, melainkan penjaga batas yang tak semua orang bisa lihat, tapi keberadaannya tetap dipercaya oleh masyarakat Gayo.
Saya tumbuh besar bersama kisah ini. Masa kecil saya habiskan di Lentik, Kecamatan Kebayakan, Takengon. Setiap libur sekolah, saya ikut orang tua ke kebun kopi di Temung. Itu nama tempat di mana pepohonan temung berdiri kokoh, di ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut. Dari lereng yang menghadap danau, saya menyaksikan birunya Laut Tawar yang memantulkan langit. Dulu, danau itu bukan hanya berkah hidup bagi masyarakat Gayo. Dia adalah cermin. Ia adalah sahabat. Ia adalah bagian dari tubuh kami sendiri.
Setiap sore, setelah memetik kopi, sepulang dari kebun kami biasanya segera mandi menyelam ke dalam sejuknya air danau. Danau itu tak jauh dari kebun, hanya beberapa langkah melewati tebing. Ibu selalu berpesan dengan suara setengah berbisik kepada kami, βKalau mandi, jangan terlalu ke tengah. Nanti ada Lembide.β Kami mendengarkan bukan karena takut, melainkan karena percaya. Kami percaya ada batas tak kasatmata yang tak boleh dilanggar.
Pada masa itu, airnya masih jernih. Ikan mujair berenang santai di sela kaki kami, dan sesekali, kilauan ikan emas (bawal) menyembul dari permukaan, bagai menari di antara bias senja. Pemandangan dari kebun, kala langit tak berawan, memperlihatkan danau seolah tengah merayakan kehidupan.
Saya tidak pernah merasa perlu merasionalkan Lembide. Tak penting apakah ia nyata atau hanya bayangan ketakutan kolektif masyarakat Gayo, Yang saya tahu, Lembide adalah bahasa, cara orang tua kami memberlakukan batas. Jangan serakah. Jangan serampangan. Jangan merasa paling berkuasa di tempat yang bukan milikmu sendiri. Ia bukan sekadar mitos, ia adalah cinta yang menyamar sebagai ancaman, agar manusia tidak terlalu pongah di hadapan alam.
Namun, bertahun-tahun berselang, saat saya kembali dari perantauan, dari Yogya yang jauh, yang dulu membuat saya rindu bau tanah basah Takengon di pagi hari, danau itu menyambut dengan wajah cemberut dan semeraut. Ia tak lagi tenang dalam pemahaman yang sama. Dia tampak letih. Di sisinya berdiri bangunan-bangunan yang tumbuh tanpa cinta, seperti vila-vila murah yang dibangun tanpa memahami lanskap, tanpa mengerti bahwa estetika adalah bentuk penghormatan pada alam.
Danau itu kini lebih seperti seorang yang kecewa dan murka, memendam amarah pada tangan-tangan tak acuh yang telah merusak kedamaiannya. Saya duduk termenung di tepi danau, berusaha mengingat kembali kenangan indah masa kecil yang perlahan menghilang itu. Hati saya terasa remuk karena menyadari masa itu tak mungkin terulang.
Sekarang saya mengerti, Lembide telah pergi. Kepergiannya bukan karena mitosnya dilupakan, tetapi karena danau yang menjadi tanggung jawabnya kini sudah sangat rusak. Mungkin Lembide merasa jijik dengan kondisi danau serta masyarakatnya.
Dulu Danau Laut Tawar jernih, kini keruh karena limbah rumah tangga. Keramba ikan ilegal menjamur seperti parasit. Hotel-hotel mewah berdiri menghadap danau, seolah tersenyum menyambut pariwisata, namun tanpa malu membuang limbahnya.
Lebih parah lagi, semua ini terjadi di bawah pengawasan pejabat daerah yang lebih sering terlihat tersenyum di spanduk ucapan selamat datang daripada benar-benar melihat kondisi langsung. Mereka berfoto, bersalaman, tertawa tentang "pengembangan pariwisata," sambil mengabaikan fakta bahwa pariwisata yang mereka banggakan justru mematikan ekosistem danau. Mereka tahu bagaimana mengucap "ekowisata berkelanjutan" tanpa tahu bagaimana caranya menyaring limbah domestik. Mereka berbicara soal konservasi dengan lidah yang sama yang menandatangani izin pembukaan kafe, hotel, vila-vila, dan keramba liar.
Dan masyarakat? Ah, masyarakat kita... Terlalu banyak yang sudah terbiasa hidup dalam paradigma pongah yang membutakan. Mereka membangun di danau yang sama, membuang sampah plastik, limbah rumah sakit, dan mencibir siapa pun yang berbicara soal konservasi seolah-olah itu adalah kelompok masyarakat perkotaan. Mereka memperlakukan danau seperti ember. Seperti kubangan air cuci motor. Bukan lagi sebagai entitas hidup, bukan lagi cermin diri mereka sendiri.
Lalu, siapakah sebenarnya hantu dalam cerita ini? Apakah Lembide? Bukan. Jika Lembide benar-benar ada, ia pasti sudah lama meninggalkan tanggung jawabnya. Bagaimana mungkin ia menjaga sebuah danau yang penduduknya justru berlomba-lomba menghancurkan tempat tinggalnya sendiri secara perlahan-lahan?
Hari ini, kita hidup dikelilingi masyarakat Gayo yang absurd sekaligus pongah. Kita menangisi danau yang rusak, sambil menambah satu paku lagi di peti matinya. Kita menggelar festival budaya di tepi danau sambil membiarkan sampah-sampah. Kita berbicara tentang menjaga kearifan lokal sambil menjual tanah kita sendiri kepada orang asing, kepada investor luar. Kita ini siapa sebenarnya?
Mungkin, saat kita terus membanggakan pembangunan daerah, ada baiknya kita melihat sebentar ke negara-negara Eropa Utara. Di sana, seperti di Denmark atau Swedia, mereka benar-benar mengerti perbedaan sekaligus hubungan penting antara kemajuan dan menjaga alam. Ini bukan hanya omongan kosong, tapi sudah menjadi prinsip moral yang tertanam dalam setiap aturan mereka. Mereka tidak terburu-buru membangun industri tanpa memikirkan dampaknya, karena bagi mereka, alam adalah dasar dari peradaban, bukan sekadar barang yang bisa diperjualbelikan.
Melihat perbedaan ini, seperti dalam teori perbandingan sosial, kita jadi sadar sekaligus merasa jijik dengan kondisi tempat kita sendiri. Rasanya seperti danau itu, lelah menanggung beban dari makhluk yang mengaku beradab.
Dan inilah ironi terbesar kita, urang Gayo, kita takut pada hantu, tapi tidak takut menjadi hantu bagi alam. Kita mendongengkan Lembide untuk menakut-nakuti anak-anak kita, tapi lupa mendidik diri kita sendiri agar tidak menjadi Lembide yang sebenarnya, menggulung masa depan dengan keserakahan diri kita sendiri.
Karena kita selalu percaya diri, bahwa alam diciptakan hanya untuk kita. Kita antroposentris dan egois, seolah-olah semua hal bisa dieksploitasi, ditambang, digerus, diperas, disedot, dan dihisap tanpa batas. Padahal, di balik keserakahan itu, alam juga punya batas yang tak boleh dilanggar.
Kelak, jika anak-anak kita bertanya, "Mengapa danau ini tidak lagi biru?", apakah jawaban kita, "Karena kita terlalu sibuk berfoto-foto di tepinya?" Atau, akankah kita berbisik lirih, "Kami lalai. Kami terlalu serakah. Kami terlalu sibuk dengan urusan sendiri." Jika suatu hari nanti pertanyaan itu muncul dari bibir anak-anak kita, jangan lagi menyalahkan pihak lain. Jujurlah kepada mereka. Katakan bahwa kitalah yang merusaknya (yaitu kalian dan aku), kita semua adalah perusak.

