Konten dari Pengguna
Mengapa Masa Depan Kita Bergantung pada Seberapa Sering Kita Melamun?
31 Desember 2025 13:29 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Mengapa Masa Depan Kita Bergantung pada Seberapa Sering Kita Melamun?
Melamun memberi ruang untuk menemukan diri, merenung, dan hadir sepenuhnya. Latih kemampuan berdiam, membaca, dan menikmati jeda untuk kesehatan mental dan refleksi hidup.Abdan Sakura
Tulisan dari Abdan Sakura tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa hari terakhir, saya sering duduk menatap layar ponsel tanpa benar-benar membaca apa pun. Jari berhenti menggulir, mata lelah, kepala penuh. Pesan menumpuk, notifikasi terus berdenting, dan saya merasa bersalah karena tidak “melakukan apa-apa”. Di saat-saat itu, saya hanya diam, bukan karena kehabisan pikiran, tapi karena terlalu banyak yang datang sekaligus. Dan di momen seperti itulah saya menyadari: melamun kini terasa seperti kesalahan.
Kita hidup di era ketika informasi datang tanpa henti, lebih cepat daripada kemampuan kita untuk memahaminya. Namun anehnya, berhenti sejenak justru dipandang sesuatu yang tidak wajar. Menarik diri dari keramaian, tidak segera merespons, atau sekadar diam sering dianggap sebagai tanda kemunduran. Seolah nilai seseorang diukur dari seberapa cepat ia bergerak dan seberapa sibuk ia terlihat. Padahal, melamun pernah menjadi bagian wajar dari hidup, sebuah ruang pelan tempat kita menyusun kembali diri sendiri.
Di tengah logika kapitalisme global, melamun kehilangan tempatnya. Diam diterjemahkan sebagai kemalasan, jeda dianggap tidak produktif. Kita dibiasakan untuk terus hadir, terus terhubung, terus bekerja. Segalanya ditakar lewat kecepatan dan hasil yang bisa dihitung. Akibatnya, kelelahan tidak lagi terasa sebagai sinyal untuk berhenti, melainkan sebagai kondisi normal. Byung-Chul Han menyebut kelelahan lahir bukan karena kita kurang beraktivitas, melainkan karena tuntutan untuk selalu aktif tanpa henti (The Burnout Society, 2010).
Dalam pengalaman saya, melamun justru muncul ketika pikiran terlalu penuh. Ide-ide datang serempak, saling bertabrakan, dan belum sempat diberi bentuk. Dalam keadaan seperti itu, melamun bukan kekosongan, melainkan kepenuhan yang menunggu waktu. Ia menangguhkan tuntutan dunia luar. Hal ini mengingatkan saya pada konsep flâneur dari Walter Benjamin, sebuah cara mengalami dunia tanpa harus tunduk pada obsesi, pasar, tuntutan, atau pengakuan.
Namun, mengapa kita begitu takut pada jeda? Mungkin karena saat berhenti, kita dipaksa berhadapan dengan diri sendiri. Tanpa distraksi, tanpa arahan luar. Ada kecemasan di sana: takut merasa tidak berguna, takut tertinggal, takut mendengar pikiran sendiri terlalu jelas. Padahal, justru dalam jeda itulah kesadaran diberi waktu untuk kembali berdaulat, bukan sebagai alat produksi, tetapi sebagai pengalaman manusia otentik.
Pada momen-momen inilah buku menjadi teman yang paling dekat. Ia memberi jarak dari kebiasaan hidup yang selalu menuntut kita hadir di banyak hal, tetapi jarang benar-benar berada di satu tempat. Saat membaca, saya tidak sedang dikejar apa pun. Tidak perlu segera mengerti, tidak harus langsung menanggapi. Saya bisa berhenti di satu paragraf, menutup buku sejenak, lalu melanjutkannya lagi tanpa rasa bersalah. Seperti melamun, membaca memberi ruang untuk tinggal lebih lama pada satu pikiran, satu perasaan, satu waktu dan satu penghayatan hidup.
Sayangnya, ruang semacam ini kian sulit ditemukan. Di zaman sekarang, kemampuan berbicara dengan diri sendiri justru menjadi sebuah keistimewaan. Rendahnya minat baca bukan semata soal kemalasan, melainkan gejala dari hilangnya kebiasaan untuk tinggal lebih lama.
Data UNESCO menunjukkan cuma satu dari seribu orang yang benar-benar gemar membaca. Meski angka resmi tahun 2024 diklaim naik, kenyataannya tetap saja ironis: kita enggan membaca buku, tetapi luar biasa berisik di media sosial. Kita terbiasa membaca cepat, melompat, dan berpindah sebelum informasi sempat mengendap. Seperti yang pernah dikatakan Theodor W. Adorno, budaya modern kerap melatih manusia untuk membaca tanpa berpikir, mengerti tanpa memahami, peduli tanpa empati, dan akhirnya, berkomentar tanpa tahu.
Maka pertanyaannya bukan lagi seberapa sering kita membaca, melainkan apakah kita masih memberi ruang bagi pikiran? Apakah kita masih sanggup berdiam dan membiarkan sebuah gagasan mengubah cara kita berpikir?
Kita membutuhkan momen untuk melamun agar dapat menemukan kembali otentisitas diri. Jika kita tak lagi mampu berdiam dan menunggu sesuatu yang lebih besar tumbuh di dalam pikiran, bagaimana mungkin kita bisa menghargai perjalanan hidup? Pada akhirnya, kita hanyalah tamu dalam putaran waktu, singgah sejenak dalam penantian yang pasti akan berujung. Sebelum waktu itu habis, berikanlah diri kesempatan untuk hadir sepenuhnya; untuk benar-benar "ada" dalam setiap jeda.
Dunia yang baik adalah dunia yang memberi tempat bagi melamun, yang tidak menuntut segala sesuatu harus segera berguna. Melalui apa yang tampak lambat, seperti melamun, mendengarkan, atau membaca -kita menyadari bahwa imajinasi manusia bekerja pada ritme yang berbeda dari mesin dan algoritma. Masa depan tidak bisa diserahkan sepenuhnya pada kecepatan teknologi, kita tetap membutuhkan manusia yang mampu berdiam, merenung dan melamun.
Untuk itu, kembalilah ke buku, bacalah dengan pelan, dan melamunlah. Apa yang patut kita khawatirkan di masa depan bukanlah fusi kecerdasan buatan, biotek, dan infotek, melainkan ketidakmampuan kita meregenerasi kembali kondisi mental dunia modern yang rapuh, kehilangan makna, dan lenyapnya ruang hening yang semestinya paling intim dengan diri kita sendiri.
Sebab, ketika kemampuan itu hilang, kita tidak hanya kehilangan waktu, tetapi juga kehilangan distingsi terdalam yang tak dapat direplikasi oleh kecerdasan mesin. Di masa depan, segalanya mungkin bisa dihitung, diprediksi, dan diotomatisasi, namun hanya manusia yang mampu melampaui data melalui lamunan. Di situlah ciri khas yang membuat kita benar-benar manusia, sebuah kedalaman yang takkan pernah bisa diubah menjadi sekadar algoritma.

