Konten dari Pengguna

Geopolitik dalam Hyperreality: Venezuela Menjadi ‘Negara Teroris’ Versi AS

Abdullah Akbar Rafsanjani
Mahasiswa Hubungan Internasional dari Universitas Kristen Indonesia
6 Desember 2025 10:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Geopolitik dalam Hyperreality: Venezuela Menjadi ‘Negara Teroris’ Versi AS
Geopolitik dalam hyperreality: Venezuela menjadi ‘negara teroris’ versi AS. Hyperreality memberi alat untuk mengungkap bagaimana negara adidaya membangun citra sampai memproduksi musuh. #userstory
Abdullah Akbar Rafsanjani
Tulisan dari Abdullah Akbar Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Bendera Venezuela. Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Bendera Venezuela. Sumber: Freepik.com
Amerika Serikat memberikan tekanan terhadap rezim Nicolas Maduro di Venezuela dengan memberikan label organisasi teroris terhadap kelompok militer-narkoba yang disebut Cartel de los Soles. Dominasi informasi yang dipublikasi media dan yang beredar telah menyatakan bahwa Amerika Serikat secara resmi menyebut bahwa Cartel de los Soles dikontrol langsung oleh Maduro dan elite militer, sehingga pemerintah Venezuela dikambinghitamkan sebagai sponsor “narco-terorisme".
Amerika Serikat melabelkan teroris untuk nantinya membenarkan intervensi militer ataupun sanksi intensif ke negara Venezuela. Di pihak Venezuela—termasuk pemerintah Caracas—menyebut klaim itu sebagai kebohongan politik atau propaganda Amerika Serikat untuk melegitimasi jikalau Amerika Serikat ingin menyerbu negara Venezuela.
Maka, wacana ini merupakan medan simulasi di mana tuduhan kriminal akan ikut merekonstruksi narasi yang dibangun untuk mendefinisikan ulang identitas politik sebuah negara dari aktor internasional ke negara teroris. Pandangan Jean Baudrilliard tentang hyperrealitas membantu memahami fenomena ini, yaitu ketika representasi seperti media dan deklarasi politik menjadi pengaruh besar terhadap kenyataan di lapangan.
Ilustrasi tentara Venezuela. Foto: AFP/JUAN BARRETO
Label “teroris” tidak muncul karena ada pengadilan terbuka yang membuktikan keterlibatan riil negara melainkan melalui keputusan administratif eksternal (FTO designation) ditambah pernyataan pejabat Amerika serikat, ditambah pemberitaan luas di media internasional.
Hukum media dan persepsi publik mulai berlaku sebelum atau terlepas dari verifikasi independen. Ketika label teroris ini mulai melekat, ini akan memberikan hak bagi Amerika Serikat untuk menjustifikasi sanksi, membenarkan operasi militer, realitas geopolitik pun berubah menjadi fakta baru, tapi karena simulasi ancaman yang kuat. Publik global, media internasional, bahkan beberapa aktor regional mulai memperlakukan tuduhan tersebut sebagai “realitas objektif”, padahal klaim itu bersifat politis, bergantung pada representasi.
Jean Baudrilliard memandang bahwa masyarakat kontemporer itu tak lagi hidup dalam realitas yang murni, tetapi melalui tatanan representasi di mana tanda, citra, dan narasi media punya kekuatan yang menggantikan realitas itu sendiri. Dan di kondisi ini, manusia tidak bisa membedakan lagi mana fakta dan mana konstruksi, sehingga keduanya melebur menjadi suatu realitas baru yang disebut hyperreality.
Ilustrasi masyarakat. Foto: Djem/Shutterstock
Baudrillard menekankan bahwa dunia modern dipenuhi oleh simulacra, yaitu representasi yang tidak hanya menyalin realitas, tetapi juga menggantikannya. Simulacra ini bekerja melalui representasi, distorsi, dan simulacrum, sehingga dalam konteks politik global, simulacra bekerja melalui wacana negara, media internasional, lembaga keamanan, dan aparat diplomasi, ketika sebuah narasi diproduksi secara konsisten hingga ke titik di mana itu dianggap sebagai kenyataan objektif, meski empirisnya masih diperdebatkan (seperti kasus invasi AS ke Irak karena dianggap rezim Saddam Husein memiliki senjata pemusnah massal).
Penggunaan konsep ini penting untuk membaca kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Venezuela. Tuduhan bahwa pemerintah Nicolás Maduro mengendalikan organisasi teroris, seperti Cartel de los Soles misalnya, sering dibangun lebih melalui dokumen administratif dan pernyataan pejabat AS daripada melalui verifikasi independen.
Ilustrasi Peta Amerika Serikat. Foto: Victor Soares/Shutterstock
Melalui kacamata Baudrillard, label tersebut dapat dipahami bukan sebagai deskripsi faktual, melainkan sebagai simulasi ancaman yang diproduksi untuk menciptakan realitas politik baru, yakni bahwa Venezuela adalah “negara sponsor terorisme”.
Dengan demikian, konsep hyperreality memberi alat untuk mengungkap bagaimana negara adidaya membangun citra, memproduksi musuh, dan menciptakan legitimasi moral untuk kebijakan tertentu. Dalam hyperreality, ancaman tidak harus nyata agar dapat berfungsi, cukup “tampak seperti nyata” melalui repetisi media dan kontrol narasi.
Dalam kasus Venezuela, politik luar negeri AS dapat dipahami sebagai produksi hyperreality, sebuah ancaman yang dibangun simulacra, sehingga ada konsekuensi nyata berupa sanksi, isolasi diplomatik, hingga potensi tindakan militer.
Trending Now