Konten dari Pengguna

Infrastruktur Digital Huawei: Alat Tiongkok Menghadapi AS di Bidang Teknologi

Abdullah Akbar Rafsanjani
Mahasiswa Hubungan Internasional dari Universitas Kristen Indonesia
8 Januari 2026 17:25 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Infrastruktur Digital Huawei: Alat Tiongkok Menghadapi AS di Bidang Teknologi
Tulisan ini membahas bagaimana infrastruktur digital Huawei yang dimiliki China menjadi alat untuk menghadapi persaingan AS
Abdullah Akbar Rafsanjani
Tulisan dari Abdullah Akbar Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik.com
Selama satu dekade ini, persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah berkembang tak hanya di arena militer atau perdagangan, akan tetapi ke ranah teknologi dan dalam konteks ini adalah infrastruktur digital global. Huawei yang merupakan perusahaan teknologi asal Tiongkok telah menjadi aset penting bagi Tiongkok dalam membangun pengaruh global, terutama dominasinya melalui infrastruktur digital.
Huawei tak hanya menjadi produsen gadget, akan tetapi menjadi penyedia tulang punggung digital seperti jaringan 4G dan 5G, kabel serat optik, hingga pusat data yang menjadi penopang ekonomi digital, komunikasi, dan sistem keamanan. Disinilah Huawei beririsan dengan kepentingan strategis Tiongkok dan menjadi sumber kecemasan Amerika Serikat. Kekuatan Huawei bukan cuma di inovasi seperti smartphonenya, tetapi di kemampuannya menguasai lapisan infrastruktur paling dasar dari sistem digital global. Infrastruktur ini bersifat jangka panjang, mahal untuk diganti, dan menciptakan ketergantungan struktural bagi negara pengguna, apalagi harganya juga bersaimg dengan kompetitor sejenisnya seperti Nokia, Ericsson, hingga Samsung.
Huawei berhasil menancapkan pengaruhnya terutama di Asia, Afrika, Timur Tengah, dan Amerika Latin karena wilayahnya kerap kali memiliki keterbatasan pendanaan, kebutuhan konektivitas tinggi, dan minim alternatif vendor Barat yang kompetitif secara harga. Di banyak negara pada kawasan tersebut, Huawei hadir bukan hanya sebagai pemasok teknologi, tetapi sebagai mitra pembangunan nasional. Dominasi ini tidak dapat dilepaskan dari keterkaitannya dengan Belt and Road Initiative (BRI), khususnya pada DigitalSilk Road. BRI menyediakan payung geopolitik dan finansial bagi ekspansi perusahaan teknologi Tiongkok ke luar negeri. Dalam kerangka ini, Huawei menjadi aktor kunci dalam membangun jaringan digital lintas negara.
Digital Silk Road mulai dari jaringan 5G, kabel serat optik lintas batas, hingga sistem smart city sering kali menggunakan teknologi Huawei sebagai standar utama. Dengan demikian, BRI tidak hanya membangun pelabuhan, jalan, dan rel kereta, tetapi juga arsitektur digital yang menghubungkan negara-negara mitra dengan ekosistem teknologi Tiongkok. Tidak seperti infrastruktur fisik yang memakan waktu lama dan biaya besar, infrastruktur digital relatif cepat tapi dampaknya lebih dalam. Jaringan ini membentuk aliran data hingga tata kelola informasi, sehingga inilah letak Huawei menjadi instrumen strategis yang efektif bagi Tiongkok.
Inilah yang dikhawatirkan Amerika Serikat, Huawei bukan cuma persaingan bisnis, tetapi soal keamanan nasional dan kepemimpinan teknologi global. Infrastruktu hingga jaringan digital lainnya bisa menjadi penopang kecerdasan buatan, sistem militer, logistik, dan ekonomi digital. Menguasai infrastruktur tersebut berarti punya pengaruh terhadap seluruh ekosistem di atasnya. Meski bukti publik tentang penyalahgunaan Huawei masih diperdebatkan, bagi AS, risiko potensial saja sudah cukup untuk membenarkan kebijakan pembatasan terhadap Huawei.
Karena hal tersebutlah, AS berusaha menghalau kemajuan Huawei lewat pelarangan penggunaan perangkat Huawei di jaringan domestik, membatasi akses Huawei terhadap semikonduktor canggih, hingga mendorong sekutu-sekutu AS untuk memilih vendor alternatif. Sayangnya, usaha ini tidak semua berhasil terutama di negara-negara berkembang yang lebih memikirkan kebutuhan pembangunan dibandingkan pertimbangan politis AS.
Bagi banyak negara berkembang, pilihan terhadap Huawei bukan semata dukungan ideologis kepada Beijing, melainkan keputusan pragmatis. Tetapi hasil dari pilihan itu adalah semakin luasnya pengaruh struktural Tiongkok dalam sistem digital global. Melalui dominasi infrastruktur digital dan integrasinya dengan BRI, Huawei telah menjadi salah satu alat paling efektif Tiongkok dalam menghadapi Amerika Serikat. Bukan dengan perang terbuka, tetapi lewat pembangunan jaringan yang mengikat dunia ke standar Tiongkok.
Trending Now