Konten dari Pengguna

Mengapa AS Mendesak Kenaikkan Anggaran NATO Menjadi 5% PDB: Perspektif Neorealis

Abdullah Akbar Rafsanjani
Mahasiswa Hubungan Internasional dari Universitas Kristen Indonesia
24 Oktober 2025 14:37 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mengapa AS Mendesak Kenaikkan Anggaran NATO Menjadi 5% PDB: Perspektif Neorealis
Artikel ini membahas mengapa AS mendesak Eropa untuk meningkatkan anggarannya
Abdullah Akbar Rafsanjani
Tulisan dari Abdullah Akbar Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sumber: Freepik.com
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Freepik.com
Sistem internasional digambarkan sebagai anarkis atau tidak ada otoritas pusat yang menjamin keamanan negara, seperti itulah orang-orang realis atau neorealis berkata. Negara pada dasarnya bertindak dalam kondisi di mana mereka harus mengandalkan diri sendiri (self-help) untuk menjaga kelangsungan dan keamanan mereka. Dalam konteks aliansi pertahanan seperti NATO, munculnya tekanan dari AS kepada sekutu untuk meningkatkan anggaran pertahanan dapat dipahami sebagai reaksi struktural terhadap ancaman yang lebih besar, redistribusi peran kekuatan, dan kebutuhan menjaga keseimbangan kekuatan (balance of power). Anerika Serikat selama ini menjadi kekuatan yang mendominasi di NATO, mulai dari faktor kapabilitas militernya hingga pemberian dana atau investasi untuk pertahanan. Akan tetapi, dengan dinamika geopolitik yang terjadi seperti kebangkitan Tiongkok, perang Rusia-Ukraina, dan mulai tergesernya prioritas AS kearah politik domestik, maka aktivitas Amerika Serikat di NATO menjadi semakin memberatkan. AS terus menekan sekutu agar “berkontribusi lebih” dalam militer dan pertahanan, sebab situasi saat ini menuntut pembagian tanggung jawab yang lebih adil agar aliansi tetap relevan dan efektif.
Dari sudut pandang balance of power, peningkatan belanja sekutu NATO merupakan bagian dari strategi untuk menjaga agar Eropa tetap mampu mempertahankan dirinya sendiri. Karena dengan melihat dinamika sekarang, meski AS mengharuskan kehadirannya secara jangka panjang di Eropa untuk menahan Rusia, sekutu Eropa sendiri akan sulit melakukan operasi perang tingkat tinggi tanpa dukungan AS bila mereka tidak memperkuat kemampuan mereka jadi lebih mandiri. Lalu, ada kekhawatiran tentang “free-riding” atau sekutu yang bergantung secara tidak proporsional pada AS. Dari perspektif neorealisme, negara ingin memaksimalkan keuntungannya relatif terhadap orang lain (relative gains) dan menghindari beban yang tidak seimbang. Ini berarti AS ingin agar sekutu tidak hanya menambah angka belanja, tetapi juga memperkuat kapabilitas nyata sehingga aliansi memiliki daya tahan yang kuat dan semua pihak merasa ikut serta dalam memelihara keamanan khususnya yang menjadi anggota NATO.
Lalu dilihat dari konsep distribution of power yang menjadi inti dalam neorealisme, AS mendorong sekutu untuk meningkatkan anggaran karena perubahan ancaman strategis. Laporan IISS “Global defence spending soars to new high” menyebut bahwa pada 2024, pengeluaran pertahanan global mencapai US$2,46 triliun, naik dari US$2,24 triliun tahun sebelumnya yang mencerminkan bahwa negara-negara besar meningkatkan investasi militer mereka secara signifikan. Sehingga, karena kondisi tersebut maka sekutu NATO yang tetap berada di bawah standar 2% persen GDP belanja pertahana negara itu dianggap belum cukup mengahadapi ancaman-ancaman yang terus berkembang. Dalam penetapan target belanja yang dibuat oleh NATO bisa menjadi sinyal strategis, disaat KTT NATO di The Hauge pada Juni 2025 lalu, para pemimpin NATO sudah yakin berkomitmen untuk menginvestasikan 5% dari GDPnya per tahun untuk pengeluaran terkait pertahanan dan keamanan pada 2035 dengan 3,5%nya demi kebutuhan inti pertahanan. Penetapan target yang dilakukan NATO telah menunjukkan bahwa AS ingin memastikan aliansinya tidak hanya punya komitmen formal, tetapi juga meningkatkan kapasitasnya secara bertahap.
Peningkatan anggaran sekutu-sekutu NATO ini juga terkait peran AS yang mulai berganti, AS sedang memposisikan dirinya agar lebih fokus pada area domestiknya dan akan menuntut Eropa agar mengambil sebagian besar tanggung jawab jangka panjangnya untuk pertahanan Eropa. AS secara tidak langsung telah meminta sekutu-sekutu NATOnya untuk mengambil langkah nyata agar beban AS tidak terus-terusan meningkat di Eropa, yang dimana dalam sisi neorealisme bisa dimaknai merupakan usaha AS untuk menjaga posisinya sebagai hegemon dengan beban yang terkendali, bukan yang hegemon yang kelebihan ekstensi dan rentan.
Namun, terdapat tantangan, meskipun target anggaran dan upaya peningkatannya sudah dibuat. Meskipun AS mendesak sekutu menaikkan anggaran, tantangannya adalah memastikan bahwa peningkatan tersebut diiringi dengan peningkatan kemampuan dan interoperabilitas bukan hanya angka di atas kertas. Merujuk dari analisis IISS “Defending Europe Without the United States: Costs and Consequences” skenario di mana Eropa mencoba mempertahankan diri tanpa A dan menemukan bahwa biaya finansial dan industri bagi Eropa akan sangat besar, apalagi dalam mengembangkan rantai industri pertahanan, logistik, hingga mobilitas tempur. Mau tidak mau, Eropa mesti melakukan internal balancing sehingga itulah yang membuat AS mendesak sekutu-sekutu NATO untuk meningkatkan kapabilitas pertahanan Eropanya sendiri untuk menjaga kredibilitas aliansi dan menangkal Rusia atau ancaman lainnya secara efektif. Jika NATO tidak segera melakukan internal balancing, beban AS akan tetap besar atau bahkan meningkat, yang membuat aliansi menjadi rapuh.
Jika sekutu-sekutu NATO terus bergantung pada AS dan tidak meningkatkan kontribusi mereka, maka potensi deterrence aliansi akan merosot lawan mungkin memahami bahwa respons kolektif tidak cukup kuat. Dalam kerangka neorealisme, ini mengurangi “costs” bagi lawan untuk mencoba agresi karena sinyal pertahanan kolektif menjadi kurang kredibel. Di sisi lain, secara politik domestik, tekanan AS ini juga mencerminkan bahwa AS tidak mau tetap berada dalam posisi “pembela dunia” sendirian. Dalam kondisi global terkini, dengan AS terlibat di banyak kawasan, menjaga prioritas Eropa sambil menghadapi peningkatan ancaman Tiongkok dan Rusia berarti bahwa AS ingin mendorong sekutu untuk mengambil lebih banyak tanggung jawab. Hal ini konsisten dengan logika neorealisme yang melihat bahwa hegemon harus mampu mengatur beban aliansinya (distribution of power) agar tidak terkuras secara berlebihan dan tetap bisa menjaga posisi dominan global.
Trending Now