Konten dari Pengguna
Visi 2030 Arab Saudi dan Pelajaran bagi Indonesia yang Masih Bergantung pada SDA
22 September 2025 11:03 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Visi 2030 Arab Saudi dan Pelajaran bagi Indonesia yang Masih Bergantung pada SDA
Artikel ini berisi tentang bagaimana Visi 2030 Arab Saudi menjadi pelajaran untuk Indonesia agar tidak ketergantugan kepada SDA untuk ekonominyaAbdullah Akbar Rafsanjani
Tulisan dari Abdullah Akbar Rafsanjani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Arab Saudi selama puluhan tahun sudah dikenal sebagai negara petro-statet dimana negara ini sangat bergantung pada minyak sebagai sumber pendapatan utama. Tetapi, semenjak harga minyak global mengalamo fluktuasi secara tajam pasca 2014, Arab Saudi menyadari bahwa negara akan rapuh jika fondasi ekonomi berbasis satu komoditas. Karena itu, saat 2016 meluncurkan program visi 2030nya yang merupakan strategi jangka panjang untuk melakukan diversifikasi ekonomi untuk mengurangi ketergantungan pada minyak dan memperkuat sektor non-migas mereka.
Beralih ke Indonesia, situasi ini tak jauh beda, dimana ekonomi Indonesia masih ditopang oleh sumber daya alam mulai dari batu bara, kelapa sawit, hingga nikel. Kontribusi ekspor SDA masih mendominasi dan hilirisasipun masih berjalan sebagian. Fluktuasi harga komoditas global kerap memengaruhi stabilitas makroekonomi Indonesia. Dari titik ini, pengalaman Saudi dalam Vision 2030 bisa menjadi cermin penting.
Visi 2030 ini berlandaskan tiga pilar utama yaitu vibrant society, thriving ekonomi, and ambitious nation. Yang intinya menyiapkan ekonomi Arab Saudi agar tidak tergantung dengan minyak. Maka Arab Saudi melakukan langkah-langkah seperti:
1. Membuka sektor ekonomi kreatif seperti pariwisata dan hiburan
2. Mengembangkan energi terbarukan
3. Mengoptimalkan Public Investment Fund sebagai sovereign wealth fund untuk membiayai proyek-proyek strategis.
4. Membangun mega proyek seperti NEOM yang direncanakan menjadi kota futuristik tetapi berbasis teknologi hijau.
Tetapi hal ini bukan tanpa kendala, dalam merealisasi visi ini terdapat kendala seperti biaya yang besar bahkan membengkak, keterlambatan pembangunan, hingga keraguan investor. Sehingga ini menunjukkan bahwa melakukan diversifikasi ekonomi membutuhkan perencanaan jangka panjang yang matang, tata kelola yang disiplin, dan strategi yang tepat serta bertahap.
Indonesia juga mengalami dilema yang mirip, contoh salah satunya adalah pemerintah mendorong hilirasi nikel untuk memperkuat industri baterai dan kenderaan listrik tetapi masih menghadapi tantangan infrastruktur, teknologi, dan kapasitas SDM. Maka, ada beberapa pelajaran penting yang bisa diambil dari vision 2030 untuk Indonesia:
1. Diversifikasi ekonomi mesti menjadi prioritas. Arab Saudi sadar kalau bergantung pada SDA saja akan membuat mereka terguncang kapan saja. Indonesia harus serius mendorong diversifikasi ini, bukan hanya bertumpu di hilirisasi SDA tetapi bisa lewat sektor industri manufaktur, pariwisata, hingga game seperti yang dilakukan Arab Saudi dengan Esport World Cup. Ekonomi kreatif ini bisa menjadi pilar baru.
2. Investasi pada sumber daya manusia. Arab Saudi yang terlalu lama terlena ekonominya dengan minyak menyebabkan SDMnya menjadi βmanjaβ sehingga di awal-awal visi 2030 ini dilakukan, Arab Saudi sempat mengalami masalah dengan kapasitas SDMnya yang belum memadai. Maka, Indonesia harus belajar dari sini terlebih sedang mengalami bonus demografi sehingga ini adalah kesempatan emas untuk membangun tenaga kerja ahli melalui pendidikan vokasi, riset-riset di universitas, hingga kerja sama internasional untuk pendidikan agar tidak terjadi ketimpangan antara ambisi pembangunan dan kapasitas tenaga kerja.
3. Perencanaa ambisius tapi tetap realitstis. Visi 2030 Arab Saudi memang proyek ambisius yang spektakuler tetapi sering menghadapi penyesuaian. Indonesia perlu berhati-hati dan memperhatikan tata kelola internalnya agar rencana mega proyek seperti IKN tidak menjadi beban fiskal.
4. Jadikan lingkungan dan keberlanjutan menjadi pertimbangan utama. Arab Saudi sudah mulai bahkan menjalankan transisi energi, walau memang masih terjadi kendala. Indonesia dengan hilirisasinya harus disertai standar lingkungan yang ketat agar tidak hanya memindahkan masalah lingkungan dari satu sektor ke sektor lainnya.
Visi 2030 Arab Saudi memberi kita gambaran bahwa diversifikasi ekonomi agar tidak ketergantungan SDA bukanlah proses yang instan dan juga penuh tantangan. Dengan mengambil pelajaran dari Saudi, Indonesia punya peluang untuk keluar dari jebakan ekonomi berbasis SDA dan membangun fondasi ekonomi yang lebih tangguh, berdaya saing, dan berkelanjutan.

