Konten dari Pengguna

Mahalnya Empati di Zaman Modern

Aby Sakaria Putra Keliat
Sarjana Ekonomi Pembangunan Universitas Sumatera Utara.
23 November 2025 6:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mahalnya Empati di Zaman Modern
Mahalnya empati di zaman modern: Dunia yang semakin cepat dan keras hanya bisa dilunakkan dengan hati yang tetap lembut; dan itu dimulai dari diri kita. #userstory
Aby Sakaria Putra Keliat
Tulisan dari Aby Sakaria Putra Keliat tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi kelangkaan empati teknologi pemisah emosional (Gemini.Ai)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kelangkaan empati teknologi pemisah emosional (Gemini.Ai)
Di tengah kemajuan teknologi serba canggih, keterhubungan digital, dan arus informasi yang tak terbatas, empati seharusnya menjadi kemampuan yang semakin mudah tumbuh. Namun, realitasnya berkata lain; empati justru menjadi barang mahal dan langka, seakan semakin sulit ditemukan dan semakin jarang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Kemajuan yang menghadirkan kenyamanan ternyata juga menciptakan jarak emosional yang tak kasat mata.

Arus Informasi yang Mengikis Kepedulian

Zaman digital mengizinkan kita untuk menerima ratusan informasi hanya dalam hitungan menit. Setiap hari, kita melihat berita bencana, konflik, penderitaan manusia, hingga keluh-kesah personal yang memenuhi linimasa media sosial. Pada awalnya, paparan seperti ini bisa membangkitkan empati. Namun, lama-kelamaan, otak manusia mengalami keletihan emosional akibat terlalu sering terpapar penderitaan.
Akibatnya, banyak orang menjadi kebal. Bencana di negara tetangga, kekerasan pada komunitas minoritas, atau musibah pribadi orang lain sering lewat begitu saja tanpa menyentuh perasaan. Kita mulai terbiasa melihat tragedi hanya sebagai konten belaka yang tujuannya sekadar mencari popularitas, bukan sebagai cerita manusia.
Ilustrasi membuat konten mukbang. Foto: New Africa/Shutterstock

Budaya Serba Cepat yang Mengorbankan Kepekaan

Gaya hidup modern menuntut semuanya berpacu dengan waktu, mengedepankan efesiensi dan efektif untuk selalu bekerja cepat, merespons cepat, dan bergerak cepat. Di balik kemampuan ini, ada konsekuensi tak terlihat: kita kehilangan waktu untuk berhenti, mendengarkan, dan merasakan. Empati membutuhkan ruang dan ketenangan, tetapi kehidupan modern nyaris tak memberikannya.
Ketika orang terlalu sibuk mengejar target dan produktivitas, perhatian terhadap perasaan orang lain menjadi prioritas yang mudah terabaikan. Bahkan, dalam hubungan keluarga dan persahabatan, percakapan sering berjalan terburu-buru dan minim kedalaman. Akhirnya, kita mengenal banyak orang, tetapi sangat sedikit di antaranya untuk benar-benar memahami.

Keterhubungan dan Kepalsuan

Media sosial menawarkan ilusi kedekatan. Kita bisa mengetahui aktivitas orang, melihat senyum mereka, membaca curahan hati dan kisah hidup mereka, tetapi semua itu adalah potongan kecil dari realitas yang disunting. Fenomena ini membuat banyak orang menjadi pembanding sekaligus penilai, bukan pendengar yang penuh empati.
Ilustrasi bermain sosial media. Foto: photobyphotoboy/Shutterstock
Selain itu, media sosial memicu polaritas. Diskusi mudah menjadi debat panas dan opini sering disampaikan tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Budaya yang memahami orang lain terlebih dahulu menjadi hal yang langka. Akhirnya, ruang publik digital dipenuhi kritik cepat, humor yang menyentuh batas sensitif, dan sinisme yang merajalela.

Individualisme yang Menguat

Zaman modern mendorong nilai kemandirian dan pencapaian diri. Hal ini positif, tetapi ketika berlebihan, ia melahirkan kecenderungan untuk berfokus pada diri sendiri dan mengutamakan kenyamanan pribadi tanpa melihat orang lain sebagaimana seperti yang dikemukakan istilah kuno Zoon Politicon oleh filsuf Aristoteles, manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan saling membutuhkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan serta mengembangkan diri, yang terwujud dalam berbagai interaksi dan kerja sama, gotong royong, empati, dan kepatuhan pada norma sosial.
Dalam lingkungan modern saat ini, empati kadang dianggap sebagai beban. Membantu orang lain membutuhkan waktu, tenaga, dan kadang mengorbankan kelebihan yang kita miliki. Ketika lingkungan sosial mendorong kita untuk utamakan diri sendiri, kepekaan pada kesulitan orang lain perlahan memudar, bahkan hilang. Empati menjadi mahal bukan karena tidak mampu dilakukan, melainkan karena tidak dianggap prioritas.

Ketakutan untuk Terlibat

Ilustrasi anak takut. Foto: Mama Belle and the kids/Shutterstock
Perkembangan zaman hari ini penuh dengan segala risiko dan ketidakpastian. Banyak orang memilih untuk menjaga jarak secara emosional. Mereka takut terseret drama, takut disalahpahami, atau takut emosi yang tak sepantasnya keluar tidak sesuai pada tempatnya.
Akhirnya, empati dianggap sebagai pintu yang membuka masalah baru, sehingga banyak yang memilih untuk menutup diri dengan membentengi kemampuan, menganggap semuanya biasa yang dilakukan salah tapi dibenarkan, bukan yang benar dibiasakan dan hanya respons singkat yang netral. Padahal, empati sejati tidak sekadar memberi respons, tetapi hadir bersama orang lain dalam keterbukaan dan ketulusan tanpa harus memikirkan balasannya.

Empati adalah Investasi Sosial

Di zaman modern, empati terasa mahal karena membutuhkan hal yang semakin jarang kita miliki: waktu, perhatian, dan keberanian untuk terlibat secara emosional. Namun, justru karena mahal, empati menjadi semakin berharga dan diperlukan.
Dengan empati, kita mengembalikan esensi menjadi manusia: saling memahami, saling mendukung, dan hadir untuk satu sama lain. Dunia yang semakin cepat dan keras hanya bisa dilunakkan dengan hati yang tetap lembut dan itu dimulai dari diri kita sendiri.
Trending Now