Konten dari Pengguna
One Piece, Tan Malaka, dan Gagasan Merdeka 100%
17 Agustus 2025 11:12 WIB
ยท
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
One Piece, Tan Malaka, dan Gagasan Merdeka 100%
Tulisan ini membandingkan keadaan Indonesia hari ini dengan Indonesia pada masa revolusi fisik dalam pandangan Tan Malaka.Ade Hermawan
Tulisan dari Ade Hermawan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kemunculan Bendera Bajak Laut One Piece secara masif dan serentak menjelang perayaan 80 tahun Indonesia Merdeka dapat dipandang sebagai kritik atau gugatan secara simbolik rakyat terhadap makna kemerdekaan. Jika kita peka, mengaitkan simbol ini sebagai tanda makar merupakan sikap yang terlalu reaktif. Pelan-pelan, rakyat sesungguhnya mulai menyadari bahwa praktik kehidupan berbangsa dan bernegara kita telah jauh melenceng dari tujuan dan harapan kemerdekaan.
Atas aksi bendera one piece itu, pihak istana dan tim komunikasinya ramai-ramai bereaksi melancarkan counter-narasi โIndonesia baik-baik sajaโ, akan tetapi fakta objektif di lapangan dengan sendirinya membantah narasi tersebut. Negara terasa semakin berjarak dan tidak berpihak pada problem-problem kerakyatan. Kita melihat pejabat yang arogan dan asal bicara, kebijakan ditetapkan asal-asalan. Rekening diblokir. Tanah nganggur disita, hingga pajak dinaikkan. Ketika viral, diserang netizen, mereka buru-buru klarifikasi. Problem pokok tidak pernah tersentuh.
Kembali ke makna kemerdekaan, timbul pertanyaan: sudahkan kita merdeka, atau belum? Jika saja Tan Malaka bangkit dari kubur, maka hari ini ia akan menjawab lantang: Kita belum merdeka 100%.
Gagasan Merdeka 100% Tan Malaka
Tentang memaknai kemerdekaan, Datuk Ibrahim Sultan Malaka atau Tan Malaka dalam episode revolusi fisik 1948 pernah mengkritik strategi yang diambil Pemerintahan Soekarno-Hatta dalam revolusi kemerdekaan. Revolusi yang dijalankan itu, dalam pandangan Tan, hanya merupakan revolusi borjuis sebab menempuh jalur diplomasi. Tan melihatnya sebagai revolusi setengah hati; tidak radikal dan tidak berbasis pada rakyat. Revolusi yang dilancarkan Soekarno dkk dalam keyakinan Tan tidak akan mengarah pada kemerdekaan yang bulat. Kemerdekaan yang penuh 100%.
Bukti diplomasi yang gagal itu, dalam penilaian Tan, dapat dilihat dari hasil Konferensi Lianggarjati 1946-47 yang justru mempersempit wilayah Indonesia -- hanya tersisa Jawa, Madura dan Sumatera. Tan Malaka menolak itu.
Bagi Tan, berdiplomasi dengan penjajah belanda tidak akan pernah membawa Indonesia mencapai kemerdekaan yang 100%.
Bahkan lebih jauh lagi, Tan menekankan bahwa pihak yang menempuh jalur diplomasi dengan penjajah itu tak lebih hanyalah kaki tangan imperialis. โJangan berunding dengan maling yang memasuki rumahmuโ, seru Tan Malaka.
Tan melihat jika cara yang demikian itu dilanjutkan, maka kemerdekaan yang dicapai nantinya hanya akan menjadi milik kaum elite. Hanya milik mereka yang mendadak bahagia menjadi borjuis dan bersuka-cita menjadi ambtenaar. Jika hal ini tidak diperbaiki, sampai kapanpun kita tidak akan pernah merdeka. Hanya pemimpinnya yang merdeka. Rakyatnya tidak.
Namun Tan Malaka berbeda dengan anak muda hari ini. Ia menggugat Soekarno dkk tidak dengan bendera tandingan ataupun simbol-simbol lain, melainkan dengan argumen yang filosofis dan sistematis melalui gagasan Merdeka 100%. Gagasannya itu tertuang dalam bukunya yang berjudul Gerpolek (1948): Gerilya Politik Ekonomi.
Sebelum masuk ke gagasan inti, Tan pertama-tama dengan jernih membedakan antara kebebasan dan kemerdekaan. Ia membedakan keduanya dengan meminjam dua istilah dalam Bahasa Inggris, yakni Freedom untuk menggambarkan kebebasan; dan Liberty untuk menggambarkan kemerdekaan.
Freedom ia maknai sebagai bebas tanpa aturan, bebas ke mana-mana. Tidak ada batasan, dapat bertindak sesukanya. Sedangkan Liberty, juga memiliki makna kebebasan, akan tetapi ada yang membatasi yakni aturan dan norma masyarakat. Tan memilih istilah Liberty ini dalam mendefinisikan kemerdekaan.
Bebas dalam pengertian Liberty atau Merdeka ini tidak boleh diartikan menjalankan kemauan sendiri tanpa mempedulikan hak orang lain. Kemerdekaan harus diatur sehingga menjamin tidak ada orang lain yang merampas hak orang lainnya. Agar dapat terwujud, Kemerdekaan semacam ini harus dikendalikan oleh pemimpin yang berkualitas: adil, bijaksana, cerdas, kuat dan gagah perkasa.
Akan tetapi, bagi Tan, hampir tidak ada sosok yang sesempurna itu, oleh karenanya, untuk menggantikan sosok yang demikian itu, suatu negara, untuk menjalankan kemerdekaannya, perlu menyusun konstitusi atau undang-undang. Undang-undang sebagai wujud kekuasaan tertinggi dibuat oleh rakyat melalui perwakilan rakyat. Konstitusi itu dengan sendirinya haruslah berpihak pada kehendak rakyat.
Lantas, bagaimana bentuk wujud Merdeka 100% itu?
Tan menguraikan kemerdekaan sebuah bangsa itu memiliki dua batas, yakni ke dalam dan keluar. Batas ke dalam adalah di mana tiap-tiap orang di dalam negara merdeka itu mesti menghargai kemerdekaan warga negara lainnya. Tiap-tiap orang itu tidak boleh bertindak sesuka hati terhadap sesamanya. Tiap kebebasan manusia satu dibatasi oleh kebebasan manusia lainnya.
Adapun batas keluar adalah tiap-tiap negara merdeka mesti juga mengakui kemerdekaan tiap negara merdeka lainnya, baik yang besar atau yang kecil. Tidak boleh sebuah negara merdeka, sekuat apapun ia, bertindak sesuka hati terhadap negara lain. Dengan demikian pada kemerdekaan suatu negara terletak pula kemerdekaan negara lain. Apabila situasi kemerdekaan secara global ini terganggu, maka cepat atau lambat tiap-tiap negara itu akan hilang pula kemerdekaannya.
Tan menyimpulkan bahwa kemerdekaan manusia mengandung perdamaian buat seluruh manusia. Konsekuensi logis sebuah bangsa yang memilih merdeka adalah mengakui pula kemerdekaan bangsa lain. Dalam Kemerdekaan, pada setiap batas dalam dan batas luarnya, terkandung misi perdamaian. Perdamaian inilah yang menjadi dasar bagi masyarakat yang adil dan makmur.
Itu tadi dalam aspek Politik. Dalam aspek Ekonomi, untuk mewujudkan cita-cita kemakmuran, Tan menyoroti hal yang tak kalah penting: Investasi dan Modal Asing.
Tan Malaka menolak bahwa untuk memakmurkan suatu negara, yang semata-mata dibutuhkan adalah investasi dan modal asing. Bukan itu. Tan meyakini, bahwa yang pertama-tama dibutuhkan suatu bangsa untuk mencapai kemakmuran adalah Merdeka 100%.
Tapi bukankah untuk menciptakan kemakmuran, melalui pertumbuhan ekonomi, kita butuh mesin untuk mengolah bahan baku, butuh lokomotif untuk membangun konektivitas, butuh kapal dan pesawat, butuh persenjataan dan mesin tempur, butuh para ahli, insinyur, teknokrat, dan untuk mengadakan itu semua, kita butuh modal?
Betul, semua itu membutuhkan uang, tetapi bukan uang dalam bentuk modal asing, jawab Tan.
Tan menginginkan semua itu diperoleh dengan bentuk kerja sama dan perdagangan antar negara merdeka. Relasi bilateral. Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah dan berkualitas yang bisa ditukarkan dengan semua mesin-mesin industri tadi, berikut para ahli-ahlinya. Dan pada gilirannya, para ahli itu dapat mentransfer pengetahuannya kepada kita. Hal ini dapat dibangun hanya jika Indonesia Merdeka 100%.
Yang dibutuhkan, sekali lagi, adalah merdeka 100%. Dengan demikian, para ahli itu tidak datang sebagai tuan besar, seperti waktu zaman Hindia Belanda, melainkan sebagai pegawai yang menerima perintah.
Lebih jauh lagi, Tan menekankan pentingnya kebijakan proteksi bagi industri yang baru lahir (protection on infant-industry) agar dapat tumbuh dengan aman. Volume impor mesti dibatasi. Barang boleh masuk dari luar negeri hanya untuk menutupi kekurangan suplai di dalam negeri saja.
Tan tidak ingin produk-produk luar justru menjadi pesaing industri dalam negeri yang masih bayi tadi. Supaya tidak menjadi pesaing bagi produk dalam negeri, semua barang-barang impor harus dikenakan pajak sedemikian rupa. Kebijakan proteksi ini harus dijalankan dalam kurun waktu tertentu sampai produk hasil industri dalam negeri kita bisa bersaing secara kualitas dan ekonomi.
Untuk mengendalikan keluar masuknya barang-barang itu dan agar leluasa mengambil kebijakan proteksi demi membangun industri dalam negeri, juga industri pertahanan militer dalam negeri, syarat nya yang utama ya satu, yakni Merdeka 100%.
Sehingga pada waktunya ketika industri dalam negeri tumbuh, dalam artian kita sudah mampu memproduksi secara mandiri alat-alat industri untuk menyelenggarakan ekonomi dan alat-alat pertahanan seperti meriam dan kapal selam, maka pada saat itulah Indonesia terjamin kemerdekaannya. Berdaulat, adil dan makmur serta bebas dari ancaman dari luar.
Demikianlah Tan menjelaskan pengertian Merdeka 100%. Uraiannya inilah yang kemudian membentuk sikapnya menolak strategi diplomasi a-la Soekarno, dkk.
Setahun berselang setelah menerbitkan gagasannya ini, pada tahun 1949 Tan Malaka ditangkap dan dieksekusi oleh regu tembak tentara dari negara yang diperjuangkannya.
1963 ia lalu ditetapkan menjadi pahlawan nasional oleh Soekarno sebelum kemudian namanya menghilang hingga lebih dari 3 dekade dari khasanah literasi Indonesia.
---
Kembali ke hari-hari belakangan ini, maraknya pengibaran bendera One Peace merupakan bahasa perasaan rakyat terhadap kebijakan yang diambil pemerintah hari ini; persis dengan keresahan Tan Malaka dalam melihat strategi revolusi di zamannya; dimana manisnya kemerdekaan dan legitnya kemakmuran hanya dinikmati oleh para elite borjuis di Istana dan Gedung-gedung pemerintahan.
Bagi para pengibar bendera One Piece, bacalah kembali buku-buku Tan Malaka. Pikiran-pikiran Tan nampaknya masih sangat relevan membaca keadaan Indonesia hari ini. Paling tidak, dengan cara pandang dan teori-teorinya, keresahan hari ini dapat diartikulasikan dalam bentuk gagasan dan aksi yang nyata.
Sudah kah kita merdeka 100%?

