Konten dari Pengguna
Implusive Buying Justru Penyebab Gangguan FOMO
18 Mei 2025 12:37 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Implusive Buying Justru Penyebab Gangguan FOMO
Impulsive buying diidentifikasi pertama kali oleh Clover (1950) sebagai “unplanned purchase” dan kini mencakup dimensi afektif‑kognitif yang kompleks (Rook & Fisher, 1995). Adelin Aprilia
Tulisan dari Adelin Aprilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dewasa kini toko online dengan mudah menawarkan berbagai kebutuhan mulai dari rumah tangga, peralatan sekolah, kecantikan sampai otomotif, sepertinya semua benda sudah tersedia dan mudah sekali ditawarkan. Adanya toko online dapat memanjakan pembeli karena kemudahan akses juga hemat waktu karena tinggal "Klik" pesanan sudah dapat dikemas.

Namun, tanpa disadari kecenderungan membeli barang tanpa ada perencanaan dapat mengarah pada implusive buying. Implusive sendiri merupakan sikap atau perilaku yang dilakukan tanpa pemikiran dan pertimbangan yang matang. Orang yang impulsif cenderung bertindak secara spontan dan mendadak, tanpa memikirkan konsekuensi atau akibat dari tindakannya di kemudian hari. Dalam hal berbelanja, seseorang kerap kali lupa diri, karena terbuai promo dan diskon seketika langsung memutuskan untuk membelinya, padahal belum ada perencanaan sebelumnya.
Impulsive buying diidentifikasi pertama kali oleh Clover (1950) sebagai “unplanned purchase” dan kini mencakup dimensi afektif‑kognitif yang kompleks (Rook & Fisher, 1995). Data Statista (2024) menunjukkan 37 % transaksi e‑commerce Asia Tenggara tergolong impulsif. Mengingat implikasi finansial dan kesejahteraan psikologis, dibutuhkan sintesis temuan mutakhir untuk landasan intervensi. Fakta lain juga menyebutkan bahwa pada, Survei OJK (2024) mengungkap 42 % milenial Indonesia memiliki cicilan kartu kredit akibat belanja impulsif dan sebagian darinya mengaku menyesal.
Apa yang Membuatnya Begitu Menyenangkan?
Tanpa disadari ketika memutuskan untuk membeli barang secara spontan, otak memberi hadiah dengan sinyal "Wow murah" bahkan sebelum barang itu dipakai hal ini yang dikenal dengan istilah Dopamin burst.
Impulsive buying juga dipicu oleh emosi, karena itu orang-orang tidak bisa berpikir rasional selama pembelian impulsif. Hal-hal yang memengaruhi emosi customer dapat membuat mereka melakukan impulsive buying. Misalnya, diskon besar-besaran dan penawaran menarik seperti Buy 1 Get 1, adalah penyebab paling kuat dari impulsive buying.
Selain itu FOMO (fear of missing out), juga menjadi faktor penyebab sebab unggahan “haul” di TikTok menekan norma “ikut tren agar diterima". Sehingga masyarakat berbondong-bondong mengikutinya.
Orang-orang yang melakukan impulsive buying dikuasai oleh emosi, dan salah satu emosi yang paling menguasai adalah rasa takut akan kehilangan momen (Fear of Missing Out) terutama jika berkaitan dengan penawaran produk. Saat ada diskon atau penawaran menarik, orang-orang lebih memilih produk yang sedang diskon daripada yang dijual dengan harga normal. Karena biasanya produk diskon terbatas, ada perasaan takut mereka akan kehabisan produk tersebut, dan akhirnya menciptakan rasa urgensi untuk melakukan pembelian walaupun sebenarnya produk tidak dibutuhkan.
Menurut Dewanti & Haryono (2021), mahasiswa sering menunjukkan perilakuimpulsive buying karena mereka telah mendapatkan kepercayaan diri untuk mengelolakeuangan mereka sendiri dengan menunjukkan karakteristik mudah terpengaruholehpenawaran iklan, kurang memikirkan seberapa ekonomis mereka membeli, mudahterpengaruh, dan cenderung tidak berpikir secara realistis. Çelik, dkk (2019) berpendapat bahwa kecenderungan seseorang untuk melakukan impulsive buyingdisebabkan oleh FoMO, karena tindakan emosional yang mendorongnya untukmelakukan pembelian lebih banyak, perasaan tidak mampu mungkin muncul karenamelihat kehidupan, pengalaman, dan kebiasaan orang lain, sehingga dapat memancingperasaan untuk tidak tertinggal.

