Konten dari Pengguna

Posting Tanpa Cemas: Bebas dari Validasi Digital

Adelin Aprilia
Mahaasiswa S2 Psikologi Terapan Universitas Airlangga
22 Mei 2025 14:45 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Posting Tanpa Cemas: Bebas dari Validasi Digital
Manusia memiliki naluri untuk selalu diterima oleh orang lain, dan memiliki kecenderungan untuk menolak komentar negatif, sehingga apa yang ia tampilkan membutuhkan validasi agar terus disukai.
Adelin Aprilia
Tulisan dari Adelin Aprilia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di zaman sekarang, hampir semua orang memiliki media sosial. Tempat untuk berbagi cerita, mengekspresikan diri, bahkan membangun koneksi. Tapi tanpa sadar, media sosial juga sering menjadi sumber tekanan. Indonesia menjadi negara ke tiga dengan tingkat penggunaan media sosial paling tinggi di dunia. Tentu dalam penggunaanya diperlukan kesadaran baik dalam memposting ataupun merespon sesuatu, karena jejak digital akan terus terekam sehingga perlu menjadi manusia yang bijak dalam bermedia sosial.
Dokumen Pribadi Edit by Canva
zoom-in-whitePerbesar
Dokumen Pribadi Edit by Canva
Tiap orang bebas membagikan moment mulai dari hal yang menyenangkan, menyedihkan, lucu, haru sampai opini terhadap pemerintah. Namun tidak jarang seseorang diliputi perasaan cemas dan takut akan penilaian buruk dari luar ketika akan memposting sesuatu dan membuat terus-menerus menyaring diri. Padahal, semakin kita berusaha tampil sempurna, semakin jauh kita dari keaslian diri sendiri.
Lalu bagaimana caranya tetap hadir di media sosial tanpa kehilangan ketenangan batin? Kuncinya terletak pada kesadaran, bahwa pendapat orang lain bukan kebenaran tentang diri kita. Kita perlu menerapkan kesadaran bahwa kita tidak hidup untuk memenuhi ekspektasi semua orang, kita hidup karena Allah ngasih kesempatan dan kita harus memaksimalkannya tanpa khawatir dinilai buruk orang lain.
Bangun kendali diri dan ketenangan batin di era opini tanpa akhir
Manusia memiliki naluri untuk selalu diterima oleh orang lain, dan memiliki kecenderungan untuk menolak komentar negatif, sehingga apa yang ia tampilkan membutuhkan validasi agar terus disukai. Media sosial juga memperbesarnya lewat likes, komentar, dan validasi instan yang tanpa disadari dapat memperbesar juga tingkat kecemasan manusia yang butuh validasi. Dalam hal ini kita bisa mulai dengan bertanya setiap kali membuka media sosial:
β€œApa niat saya sekarang?”
β€œApakah saya ingin berbagi dengan tulus atau hanya mencari validasi?”
Kita juga bisa menetapkan batas sehat dengan unfollow akun yang membuat kita merasa tidak cukup, ini hak kita agar lebih tenang. Kita juga bis memberikan batasan waktu online agar tidak tenggelam dalam perbandingan sosial yang tidak berkesudahan. Selain itu kita juga butuh ruang untuk jeda dan refleksi, mendengarkan isi hati agar tidak kehilangan diri.
Karena pada akhirnya, nilai diri kita bukan ditentukan oleh jumlah likes, bukan juga oleh komentar atau sorotan orang lain. Namun nilai diri kita tumbuh dari dalam, dari keberanian untuk hadir otentik, meski tidak selalu disukai. Jadi, jangan takut untuk menjadi diri sendiri di dunia digital. Hadir dengan bijak, bukan demi dinilai baik, tapi demi hidup yang lebih baik.
Untuk kembali menemukan kesadaran diri kita juga bisa melakukan afimasi positif harian dengan mengatakan,
β€œSaya tidak hidup untuk disukai semua orang.”
β€œNilai saya tidak tergantung pada feed orang lain.”
β€œSaya berhak hadir otentik, bukan sempurna.”
Ingat, bahwa diri kita bukan konten, kita adalah manusia yang bisa merasa, bertumbuh, dan bernilai, bahkan tanpa membagikannya secara publik. Sehingga kita tidak perlu lagi dinilai buruk orang lain, sudah saatnya kita membagikan postingan yang kita suka tanpa berharap disukai balik oleh orang lain.
Gunakan media sosial dengan kesadaran, bukan ketakutan, kita tidak perlu mengedit hidup agar diterima dengan baik. Yang kita butuhkan adalah hadir otentik dengan bentuk keberanian yang jarang terlihat, tapi paling membebaskan.
Trending Now