Konten dari Pengguna

Apprehension dan Tantangan Berani Bicara di Ruang Publik

Ade Tuti Turistiati
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.
2 Januari 2026 8:47 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Apprehension dan Tantangan Berani Bicara di Ruang Publik
Rasa gugup, cemas, dan takut dinilai menjadi penghalang utama. Dalam public speaking, kondisi ini dikenal sebagai apprehension.
Ade Tuti Turistiati
Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Generasi muda hari ini tumbuh di era yang paradoksal. Di satu sisi, mereka hidup dalam dunia yang penuh ruang ekspresi melalui media sosial dan berbagai platform digital lainnya. Namun di sisi lain, ketika mereka harus berbicara langsung di depan orang atau di depan umum, banyak yang justru memilih diam. Rasa gugup, cemas, dan takut dinilai menjadi penghalang utama. Dalam public speaking, kondisi ini dikenal sebagai apprehension.
Ilustrasi apprehension berbicara di depan umum. Sumber: www.vecteezy.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi apprehension berbicara di depan umum. Sumber: www.vecteezy.com
Apprehension bukanlah fenomena baru, tetapi dampaknya semakin terasa. Di ruang perkuliahan tak sedikit mahasiswa yang enggan bertanya meski tidak paham atau memberikan pendapat walaupun mungkin benar. Ketika diberikan tugas presentasi, mereka menyiapkan salindia. Namun sayangnya, seringkali salindia berisi teks berupa poin-poin sekaligus penjelasan dari masing-masing poin. Alih-alih presentasi, banyak yang justru membaca teks salindia atau catatan tanpa keberanian menatap audiens. Bisa jadi bukan karena mereka tidak paham atau tidak punya pendapat, melainkan karena mereka takut salah, takut ditertawakan, takut dianggap bodoh atau tidak kompeten. Fenomena lainnya, orang yang mengalami apprehension kadang-kadang memilih menggunakan masker untuk menutupi ketakutan atau ekspresi cemasnya.
Padahal, apprehension adalah reaksi alami manusia. Otak kita membaca situasi berbicara di depan umum sebagai momen berisiko tinggi, tempat penilaian sosial terjadi. Masalahnya bukan pada rasa gugup itu sendiri, melainkan pada budaya yang menganggap gugup sebagai kelemahan. Kadang-kadang orang terlalu cepat memberi label “tidak berbakat bicara” atau bahkan disematkan kecenderungan kepribadian yang “introvert” kepada mereka yang sebenarnya hanya belum terlatih berbicara di depan umum. Orang yang mengalami apprehension kadang-kadang memikirkan pikiran atau perasaan orang lain yang cenderung negatif. Mereka berpikir bahwa menurut audiens kita tidak pandai, takut, deg-degan, tidak bagus ketika presentasi dan hal-hal negatif lainnya. Celakanya kita percaya bahwa audiens akan terus mengingatnya. Sehingga, menarik diri dari berbicara di depan publik itu menjadi pilihan.
Di era yang membutuhkan pemikiran kritis dan keberanian menyampaikan pendapat, banyak suara muda justru teredam. Ide-ide segar, kritik konstruktif, dan solusi kreatif berhenti di kepala, tidak pernah sampai ke ruang diskusi. Apprehension yang tidak dikelola berubah menjadi penghambat partisipasi.
Solusi Mengelola Apprehension
Bagi generasi muda, penting untuk menyadari bahwa percaya diri bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia dibangun melalui proses menghadapi rasa takut, cemas, gugup, deg-degan, panas dingin bahkan asam lambung ikut naik. Apprehension bukan untuk dihindari. Setiap kali seseorang berbicara meski gugup, ia sedang melatih keberanian. Setiap pengalaman tampil, sekecil apa pun, adalah langkah maju. Kalau mau lebih ekstrim lagi agar apprehension bisa kita kelola, yakinkan bahwa meminjam kata-kata Nietzsche apa yang tidak membunuhmu hanya akan membuatmu lebih kuat. Berbicara dengan orang lain, berbicara di depan umum tidak akan membunuh kita alias kita tidak akan mati gegara melakukan public speaking. Percayalah bahwa orang lain tidak akan terus memikirkan ketika kita berbicara dengan ketakutan atau deg-degan. Kalau pun ya, itu bukan masalah kita.
Tambil percaya diri ketika berbicara di depan publik. Sumber: freepik.com
Public speaking tidak menuntut kesempurnaan. Audiens tidak mencari pembicara tanpa cela, tetapi pesan yang bermakna dan disampaikan dengan niat dan cara yang baik. Ketika fokus kita bergeser dari “bagaimana kalau saya dianggap bodoh oleh orang lain” ke “apa yang bisa saya sampaikan kepada audiens yang bermanfaat”, apprehension kehilangan sebagian kekuatannya.
Generasi muda memiliki potensi besar untuk membawa perubahan. Namun, potensi itu membutuhkan suara. Jika rasa takut terus dibiarkan menguasai, kita berisiko melahirkan generasi yang pintar, tetapi enggan berbicara. Cerdas, tetapi ragu menyuarakan kebenaran.
Trending Now