Konten dari Pengguna

Communication Technology and Society, Menjelajahi Dunia Multibudaya dan Digital

Ade Tuti Turistiati
Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Amikom Purwokerto. Alumni SSEAYP 89. Senang menulis tentang kisah perjalanan, budaya, pendidikan, dan masalah-masalah sosial dalam masyarakat. Hobi main pingpong dan membaca.
13 Agustus 2025 7:59 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Communication Technology and Society, Menjelajahi Dunia Multibudaya dan Digital
Communication Technology and Society, Menjelajahi Dunia Multibudaya dan Digital adalah buku bertema media, komunikasi kesehatan dan komunikasi lintas budaya di era digital. Penting dan perlu dibaca.
Ade Tuti Turistiati
Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Membaca artikel-artikel di jurnal nasional atau internasional berbahasa Inggris kadang-kadang membuat malas. Itulah mengapa kadang-kadang orang hanya membaca abstrak alias intisarinya saja. Apalagi jika artikel tersebut tidak open access alias untuk membacanya kita perlu mengeluarkan kocek. Yang gratis saja seringkali enggan disimak apalagi yang harus bayar.
Buku Communication Technology and Society. Sumber: Dokumentasi pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Buku Communication Technology and Society. Sumber: Dokumentasi pribadi
Maka, kehadiran buku Communication Technology and Society, Exploring the Multicultural and Digital World karya Deddy Mulyana dan Devie Rahmawati menjadi oase di hamparan padang pasir di musim panas. Sejatinya buku ini merupakan kumpulan artikel ilmiah yang telah dipublikasikan di jurnal nasional mapun internasional bereputasi. Namun kemudian, artikel-artikel tersebut dimodifikasi judul dan sub-judulnya, ditambahkan data dan referensi terkini, plus disisipkan ilustrasi yang membuat buku ini lebih menarik dibaca. Buku berbahasa Inggris setebal 350 halaman ini menghadirkan 15 judul artikel yang bertema media, komunikasi kesehatan dan komunikasi lintas budaya di era digital.
Artikel-artikel di dalam buku ini diantaranya berjudul McJournalism in Indonesia’s Cyber Media, Muslikhin dan Deddy Mulyana membahasa tetang Tribunnenews.com yang telah menerapkan 4 prinsip McJournalism dalam mengelola berita. Teori McJournalism yang diperkenalkan oleh Bob Franklin ini merupakan teori yang dikembangkan berdasarkan teori McDonaldization yang dicetuskan oleh George Ritzer. Empat prinsip McDonaldization, yaitu efisiensi (alat terbaik mencapai tujuan), calculability (menekankan sesuatu yang dapat dihitung atau diukur), predictability (sesuatu yang dapat dipredikisi) dan control (pengendalian yang diuji dengan non-human technology) (hal. 22-42).
Dalam artikel yang berjudul Fighting the Omni Hospital: The Suicide of Public Relation karya Deddy Mulyana dan Fiona Verity, penulis mengangkat kasus Prita Mulyasari yang terlibat sengketa dengan Rumah Sakit Omni International. Penulis membahas partisipasi konsumen kesehatan, dominasi medis, dan etika digital dalam konteks perubahan norma sosial dan meluasnya penggunaan teknologi digital di Indonesia. Teknologi digital mengubah partisipasi konsumen kesehatan dan membuka jalan bagi tantangan terhadap hak istimewa medis. Namun, perkembangan ini bertentangan dengan penggunaan hukum untuk memperkuat hak istimewa dan membatasi partisipasi (Hal 75-92).
Untuk konteks komuniksi lintas budaya, Deddy Mulyana dan Bertha Sri Eko membahas Indonesian Students' Cross-Culurual Adaptation in Busan, South Korea. Fenomena ini diangkat karena semakin banyakanya pelajar Indonesia yang menuntut Ilmu di Korea. Komunikasi lintas budaya pun tidak dapat terhindarkan. Orang Korea menganut nilai-nilai yang unik dalam memelihara persahabatan, baik dengan sesama orang Korea maupun orang asing. Persahabatan seringkali diasosiasikan dengan minum-minum untuk bersosialisasi atau mengkonsumi minuman beralkohol dalam suatu acara. Sementara itu, dalam budaya Indonesia minuman beralkohol merupakan perilaku negatif, terutama bagi yang beragama Islam. Selain itu, kendala bahasa kadang-kadang menjadi penghalang dalam berkomunikasi, termasuk adanya perbedaan makna dalam perilaku non-verbal, stereotip, prasangka, dan rasisme. Misalnya, pada umumnya orang Korea menganggap bahwa menatap mata teman bicara sebagai perilaku tidak sopan. Sementara bagi orang Indonesia, pada umumnya perilaku tersebut sebagai bentuk perhatian terhadap topik yang dibicarakan atau menghormati teman bicara. Para pelajar Indonesia yang mengalami gegar budaya melakukan strategi adaptasi diantaranya dengan membangun persahabatan dan mengenyampingkan hal-hal yang menjadi penghalang, belajar bahasa dan budaya Korea, memahami perbedaan makna non-verbal, plus berpartisipasi langsung dalam berbagai kegiatan sosial dan budaya yang diselenggarakan oleh komunitas (Hal. 147-163).
Salah satu artikel tentang komunikasi lintas budaya. Sumber: Dokumentasi pibadi
Sama seperti karya-karya tulisan lainnya dari Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D, buku hasil kolaborasi ini mencerminkan sentuhan seorang pakar komunikasi. Yang dari tangannya, karya tulis baik solo maupun bersama menjadi enak dibaca, bernas, dan bermanfaat.
Kutipan ini mencerminkan dampak membaca buku sebagai teman, sumber pengetahuan, dan pintu menuju pengalaman baru. So, selamat membaca!
Trending Now