Konten dari Pengguna
Two in One, Pemimpin Sekaligus Coach
14 Desember 2025 15:20 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Two in One, Pemimpin Sekaligus Coach
Buku “Sukses Jadi Coach” mengupas aspek-aspek dalam coaching mulai dari persiapan, teknik, trik sampai bagaimana membimbing coachee (yang di-coaching) untuk mencapai tujuan yang diharapkanAde Tuti Turistiati
Tulisan dari Ade Tuti Turistiati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Nama Eileen Rachman sudah tidak asing lagi di kalangan praktisi SDM. Pendiri Experd Consultant ini merupakan salah satu konsultan SDM terkemuka di Indonesia. Dalam buku “Sukses Jadi Coach” Eileen mengupas aspek-aspek dalam coaching mulai dari persiapan, teknik, trik sampai bagaimana membimbing coachee (yang di-coaching) untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

Istilah coach seringkali dikaitkan dengan pembina atlit olahraga. Namun, kini istilah coach banyak digunakan dalam berbagai bidang, salah satunya kepemimpinan. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut untuk dapat mengelola dan mengarahkan bawahannya tetapi juga dapat melakulan coaching. Coaching dapat menjadi salah satu sarana yang efektif untuk membina dan mengembangkan pegawai dalam suatu organisasi atau perusahaan.
Menurut Eileen, di dalam sebuah perusahaan, komitmen awal tahun lazim dilakukan oleh para pemipin dan CEO. Tentunya seluruh anggota tim menyadari bahwa komitmen tersebut dibuat melalui “pemikiran panjang dan mendalam” dari top manajemen untuk menentukan “way of success” perusahaan di masa depan. Komitmen akan mengunci fokus perusahaan sehingga karyawan bisa lebih mengarahkan tindakan dan keputusan pada apa yang diinginkan oleh para pemimpin. (hal. 3)
Para karyawan tidak hanya bertugas melakukan apa yang sudah diputuskan oleh atasannya dalam melakukan tugas dan tanggung jawabnya. Mereka perlu pembinaan dan pengembangan diri. Kenyataannya, masih banyak pemimpin yang berpikir bahwa pengembangan bawahan merupakan urusan bagian sumber daya manusia. Namun, para pemimpin seharusnya melakukan coaching secara langsung untuk memperbaiki kesalahan dan mengarahkan bawahan yang dilakukan dengan fokus untuk pengembangan bawahan.
Kekuatan mental seorang pemimpin yang mempunyai keahlian coaching adalah kemampuannya melatih bawahan atau anggota timnya untuk menghindari distraksi, penolakan, kelelahan, dan berkonsentrasi untuk melakukan tugas. Seorang yag bermental coach tahu cara mendampingi individu ketika bertransisi dari situasi lama ke baru. Prinsip dalam membimbing anak buah menurut Eileen sebenaranya sederhana saja yaitu : “They’re good, you care. They’re bad you care. They fall, you’re there. (hal. 100)
Hasil survey media sosial terkemuka Linkedln menyatakan bahwa peringkat tertinggi karakteristik terpenting pemimpin adalah visi yang berdampak, kekuatan memotivasi dan inspiratif, kemampuan mendengar, mengenal anak buah secara individual, dan kekuatan membela timnya. Kompetensi ini lalu disusul dengan kekuatan pengetahuan teknis dan kemampuan menjaga keseimbangan “life skills”. Bila persentasi tindakan yang mengacu pada perhatian tim dan anak buah atau coaching dijumlah, maka aspek-aspek tersebut bernilai sekitar 60% dari kekuatan leadership. Dengan kata lain, visi yang bagus, jelas, dan mengacu pada masa depan hanya bisa dicapai melalui coaching intensif. (hal. 224)
Coaching pada dasarnya adalah interaksi komunikasi “multisensorik”. Dasarnya adalah hati dan keyakinan yang digunakan untuk mengelola rasa yang dihasilkan dari observasi intens seluruh panca indera. Umpan balik atau pesan, tidak semata “dikatakan” tetapi juga diekspresikan lengkap dengan tindakan. Dengan cara ini anak buah atau coachee tidak sekadar mendengar tapi juga merasakan. Hanya dengan coaching bernuansa komunikasi positif, anggota tim terdorong untuk “berubah” tanpa merasa “diubah”. Ia akan merasa dibimbing tanpa merasa digurui dan merasakan “tumbuh” tanpa dikerdilkan. Coaching baik langsung maupun tidak langsung baru bisa efektif jika menjadi bagian dari kegiatan organisasi sehari-hari, bukan aktivitas yang berdiri sendiri. (hal. 232)
Kita perlu memahami bahwa coaching ada pada setiap proses komunikasi atasan dan bawahan. Bagi seorang pemimpin, menjadi coach bukan merupakan sebuah pilihan. Kini pemimpin yang sukses haruslah seorang coach yang kompeten.

