Konten dari Pengguna

Merah Putih One for All: Antiklimaks Animasi Indonesia di 80 Tahun Kemerdekaan

Aditya Ali
Dosen Digital Public Relations Telkom University mata kuliah Komunikasi Visual dan Konten Kreatif Humas. Pendiri Softskills Academy. Lulusan Magister Desain ITB. Trainer dan Motivator bidang Sumber Daya Manusia. Desainer Grafis.
25 Agustus 2025 15:26 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Merah Putih One for All: Antiklimaks Animasi Indonesia di 80 Tahun Kemerdekaan
Merah Putih One for All menuai kritik: harapan besar berujung antiklimaks animasi Indonesia
Aditya Ali
Tulisan dari Aditya Ali tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi untuk Merah Putih One for All. Foto: www.pexels.com/Yazid N
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi untuk Merah Putih One for All. Foto: www.pexels.com/Yazid N
Sejak kemunculan trailernya di beberapa kanal YouTube dan perilisan perdananya di 14 Agustus 2025 yang bertepatan dengan Hari Pramuka, harapan besar masih menyertai Merah Putih One for All. Film animasi 3D karya anak bangsa yang mengusung tema persatuan dalam rangka memperingati kemerdekaan ke-80 Republik Indonesia. Film ini mencoba tampil sebagai bagian dari industri animasi nasional. Namun, di balik semangatnya yang menggelora, reaksi publik justru cenderung negatif, kecewa dengan hasilnya terutama dari sisi visualisasi yang menjadi jantung film animasi.
Sejak awal, publik membayangkan kualitasnya setara atau bahkan melampaui capaian Jumbo. Sayangnya, yang tersaji di layar sangat jauh dari ekspektasi tersebut. Secara teknis, kualitas rendering di sejumlah adegan terlihat masih jauh dari sempurna untuk bujet 6,7 miliar menurut beberapa sumber. Dari sisi lighting, beberapa adegan terkesan datar karena pencahayaan tidak sepenuhnya memanfaatkan permainan bayangan dan warna untuk membangun atmosfer. Dalam animasi 3D, cahaya berperan bukan hanya menjadi unsur gelap terang, tetapi juga untuk menciptakan visualisasi yang lebih realis sehingga dapat mengarahkan emosi penonton. Kelemahan ini membuat momen dramatis kehilangan kekuatan visualnya.
Motion fluidity atau keluwesan gerak karakter juga menjadi sorotan. Ekspresi wajah dan gerakan tubuh pada karakter-karakternya terasa kaku dan mekanis. Padahal, detail ekspresi dan kelancaran gerak adalah elemen krusial untuk menghidupkan karakter tersebut. Dalam persaingan global, dimana publik Indonesia terbiasa menonton animasi Hollywood, Jepang, atau China, maka kekakuan ini menjadi titik lemah yang mudah terdeteksi.
Dari perspektif art direction, desain karakter sebenarnya memiliki potensi kuat. Namun, integrasi antara desain karakter dengan latar belakang terasa tidak harmonis, seolah-olah karakter β€œmenempel” di atas latar, bukan menjadi bagian dari dunianya. Hal ini sedikit mengganggu imersi visual yang seharusnya tercipta. Bahkan komposisi karakter dan latar dalam suatu frame pun terlihat kurang padu, termasuk perpindahan adegan antar frame yang kurang smooth.
Secara objektif, jika menengok perjalanan animasi Indonesia sebelumnya, justru mengarah pada tren yang makin positif dan berkualitas. Film animasi 2D Surabaya 1948 yang mengangkat tema sejarah tampil apik sebaik film Studio Ghibli Jepang. Nussa yang mengusung tema edukasi yang dibalut nilai spiritual sukses menampilkan visual yang menarik perhatian anak-anak. Adit dan Sopo Jarwo menghibur penonton televisi dengan pendekatan keseharian dan budaya, berhasil menyuguhkan visual yang lebih realis. Dan puncaknya adalah Jumbo yang sukses dan unggul dari berbagai aspek visual dan naratif bahkan berhasil mendapatkan penghargaan. Jumbo telah membuktikan bahwa standar tinggi bisa dicapai oleh sumber daya lokal anak bangsa.
Dengan latar optimisme tersebut, Merah Putih One for All seharusnya bisa menjadi lompatan berikutnya. Namun apa mau dikata, pupus sudah semua harapan, karya yang dinanti akhirnya menjadi antiklimaks industri animasi Indonesia. Kualitas visualnya bahkan jauh dibawah Toy Story 1 besutan Pixar yang rilis 1995 lalu, dimana teknologi animasi masih belum secanggih saat ini.
Merah Putih One For All menjadi pengingat bahwa kualitas visual harus dibangun sejak tahap konsep. Ini mencakup riset simbol budaya, pemilihan gaya visual yang konsisten, dan manajemen produksi yang realistis. Tanpa itu, pesan yang kuat di naskah bisa melemah saat divisualisasikan.
Sebagai bahan renungan, meski respons dan kritik terasa tajam, ia lahir dari harapan. Antiklimaks ini bisa menjadi momentum instropeksi dan refleksi untuk menata ulang strategi produksi animasi nasional. Dengan evaluasi yang objektif dan keberanian berinovasi, semua pihak bisa berkontribusi. Setidaknya berusaha mengembalikan marwah sekelas Jumbo, tidak perlu terburu-buru sekualitas Pixar. Atau bila ingin lebih kompetitif lagi, cukup samai saja Ne Zha 2.
Trending Now