Konten dari Pengguna
Tumbler Hilang dan Cara Kita Bereaksi
11 Desember 2025 13:32 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Tumbler Hilang dan Cara Kita Bereaksi
Kehilangan sebuah tumbler bukan masalah besar, tetapi respons publik justru berlebihan. Tulisan ini mengajak pembaca menelusuri akar reaksi berlebihan dan mengapa empati menjadi kunci melihat masalahRani Adisti Winahyu
Tulisan dari Rani Adisti Winahyu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Beberapa waktu lalu, media sosial kembali dihebohkan oleh sebuah drama yang muncul dari benda yang sebenarnya sederhana: tumbler seharga tiga ratus ribu rupiah. Sekilas terlihat sepele, tetapi cara publik menanggapinya justru jauh lebih ramai dibanding nilai barangnya. Seolah tumbler itu menjadi pemantik untuk membicarakan banyak hal yang selama ini mengendap di dalam diri kita.

Di era ketika barang estetik menjadi identitas, tumbler bukan lagi sekadar wadah minum. Ia berubah menjadi simbol gaya hidup: peduli lingkungan, mengikuti tren, dan tentu saja: bagian dari citra kelas menengah urban. Ketika tumbler itu hilang, yang lenyap bukan cuma barangnya, tetapi rasa aman atas identitas kecil yang menempel di dalamnya.
Maka tak heran, drama demi drama muncul dari hal yang tampak kecil. Bukan karena pemiliknya "lebay", tetapi karena kehilangan barang kecil justru memicu emosi publik yang lebih besar. Kita semua pernah mengalami hal serupa, hanya saja tidak viral. Kita pernah panik mencari ponsel, salah paham karena dompet tertinggal atau menuduh macam-macam saat barang tak ada di tempatnya. Kita hidup dalam ritme cepat dan kehilangan kecil sering menjadi percikan yang membakar kekesalan yang sudah lama menumpuk.
Yang menarik, justru reaksi publik yang beragam. Reaksinya pun berlapis: ada yang menertawakan, menyalahkan, memberi ceramah, hingga menjadikannya bahan guyonan nasional. Dalam satu kali viral, kita melihat cermin besar tentang bagaimana masyarakat kita merespons masalah orang lain: bukan dengan empati, melainkan dengan tergesa-gesa menilai.
Fenomena tumbler ini sebenarnya bukan tentang siapa benar atau salah, siapa ceroboh atau berlebihan. Ia mengungkapkan satu hal penting: kita adalah bangsa yang mudah merasa malu, mudah defensif, dan sangat sensitif terhadap anggapan orang lain. Kita takut dianggap tidak hati-hati, takut dipermalukan, takut terlihat tidak mampu membeli yang baru dan takut digolongkan bukan bagian dari "kelas" tertentu. Ketakutan-ketakutan inilah yang membuat perkara kecil membesar.
Ketika kasus ini viral, banyak yang berkata, βIni pelajaran untuk kita semua.β Namun jika jujur, drama seperti ini selalu terulang dalam bentuk lain. Bukan tentang tumbler, tetapi tentang kecemasan-kecemasan kecil yang tidak pernah benar-benar kita akui.
Jika kita tarik ke diri sendiri, reaksi besar terhadap hal kecil sering muncul karena kita sebenarnya memikul beban yang sama. Tekanan ekonomi, tuntutan pekerjaan, rasa tidak aman atau sekadar lelah hidup. Ketika ada pemicu kecil, ia menjadi tempat pelampiasan. Bukan masalah tumblernya, tetapi apa yang kita temukan di balik peristiwa itu.
Lalu bagaimana cara menghadapi kehilangan kecil seperti ini? Mungkin jawabannya sederhana: dengan menenangkan diri sebelum merespons. Tidak semua hal harus dijadikan cerita publik. Tidak semua kesalahan harus dicari kambing hitamnya. Kadang cukup menerima bahwa barang bisa hilang, kesal bisa muncul dan hidup terus berjalan tanpa perlu wacana panjang.
Drama tumbler ini sudah selesai, akan tetapi maknanya belum tentu. Ia mengingatkan kita bahwa manusia bisa rapuh oleh hal yang tampak sepele. Tindakan spontan sering muncul dari rasa takut dipermalukan dan -tentu saja, bahwa publik sering lupa batas antara mengomentari atau menghakimi.
Tumbler boleh hilang. Barang boleh tertinggal. Tetapi semoga kejernihan kita tidak ikut lenyap di tengah hiruk-pikuk drama kecil yang sebenarnya bisa kita tanggapi dengan lebih tenang.

