Konten dari Pengguna
Daging di Mulut, Sakit di Tubuh: Dua Generasi yang Harus Mengubah Pola Makan
26 Mei 2025 11:55 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Daging di Mulut, Sakit di Tubuh: Dua Generasi yang Harus Mengubah Pola Makan
Artikel bahas risiko konsumsi daging berlebihan lewat kisah Ibu Z & Mahasiswa Y yang memiliki riwayat kolesterolAgil Christiana Wimbardi
Tulisan dari Agil Christiana Wimbardi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daging merupakan salah satu sumber protein hewani yang paling banyak dikonsumsi manusia di dunia. Kaya akan protein, zat besi, dan vitamin B, daging menjadi pilihan banyak orang karena rasanya yang lezat dan variasi olahan yang beragam. Daging ayam, sapi, dan babi adalah beberapa contoh daging yang populer.
Daging ayam kerap menjadi pilihan banyak orang karena mudah diolah, harganya yang cukup terjangkau, dan dapat dihidangkan dalam berbagai bentuk, mulai dari digoreng, dipanggang, sampai direbus semuanya bisa.
Daging ayam juga dianggap lebih βamanβ dibandingkan daging merah, hal ini dikarena kandungan lemak jenuhnya lebih rendah jika dibandingkan dengan daging merah. Sementara itu, daging babi merupakan salah satu jenis daging yang paling kontroversial, terutama pada masyarakat dengan latar belakang agama dan budaya tertentu.
Dibandingkan dengan daging ayam, daging babi menawarkan citarasa yang kaya dan tekstur yang lebih berlemak. Kandungan lemaknya yang lebih tinggi dibandingkan daging ayam menjadikan daging babi perlu perhatian ekstra dalam pengolahannya untuk menghindari risiko kesehatan. Banyaknya olahan yang menggunakan daging ini menjadikan kebanyak orang memiliki kecintaannya sendiri terhadap olahan-olahan daging dan menjadikannya sebagai makanan favorit. Makanan favorit seringkali menjadi penghibur saat stres atau penyemangat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, bagaimana jika makanan favorit tersebut malah menjadi boomerang bagi kesehatan tubuh?
Berdasarkan studi yang dilakukan pada 5 Mei 2025, dua narasumber dari generasi berbeda, Ibu Z (34 tahun) dari Bandung dan Mahasiswa Y (20 tahun) dari Nias, berbagi pengalaman tentang konsumsi daging. Keduanya memiliki makanan favorit olahan daging, yaitu ayam goreng bumbu kuning untuk Ibu Z dan sop babi untuk Mahasiswa Y.
Ibu Z mengaku bahwa ayam goreng bumbu kuning merupakan makanan favoritnya, beliau dapat mengonsumsinya seminggu tiga kali bahkan nyaris setiap hari. Hal ini tidak ia konsumsi sendiri melainkan dengan suami dan juga anak-anaknya. Sama dengan apa yang dikatakan oleh ibu Z, mahasiswa Y juga menjadikan daging sebagai makanan favoritnya, yang membedakan adalah jenis dagingnya. Mahasiswa ini lebih cenderung menyukai olahan daging babi, yaitu sop babi. Namun dikarenakan hanya bisa mengonsumsi saat event tertentu, ia jadi lebih sering mengonsumsi berbagai jenis olahan daging ayam.
Berdasarkan pengakuan kedua narasumber, ketika para narasumber berlebihan mengonsumsi daging akan mengalami peningkatan kolesterol dan juga mengalami sakit kepala. Meskipun sudah diberi tahu oleh keluarga dan teman terdekat untuk menguranginya, kedua narasumber tetap mengonsumsi berbagai olahan daging.
Kedua narasumber mengaku bahwa lebih sering memasak sendiri dibandingkan membeli olahan daging. Karena keduanya berfikir bahwa dengan memasak sendiri akan terasa lebih sehat. Walaupun kenyataannya, mengolah daging dengan cara deep frying (menggoreng daging dengan minyak banyak dan suhu tinggi) ternyata tetap menjadi faktor risiko utama peningkatan kolesterol.
Proses ini menyebabkan daging menyerap minyak hingga 20% dari beratnya, meningkatkan kadar lemak jenuh dan kalori. Ketika dipanaskan berulang, minyak goreng juga menghasilkan lemak trans yang berbahaya bagi jantung. Ibu Z dan mahasiswa Y mengira dengan memasak sendiri akan lebih sehat, tetapi tanpa disadari, kebiasaan mereka dalam menggoreng ayam atau babi justru memicu lonjakan kolesterol LDL ("kolesterol jahat") dan penurunan HDL ("kolesterol baik").
Lain halnya mengolah daging dengan cara dikukus (steamed), dengan cara ini makanan akan lebih aman untuk dikonsumsi agar dapat mengurangi risiko terkena kolesterol. Dari segi dampak kesehatan jangka panjang, penelitian WHO 2024 menunjukkan bahwa mengganti kebiasaan mengonsumsi makanan deep fried dengan makanan kukus sebanyak tiga kali seminggu dapat menurunkan risiko penyakit kardiovaskular hingga 22%. Hal ini terjadi karena metode mengukus tidak menghasilkan lemak trans atau kolesterol teroksidasi yang menjadi pemicu utama aterosklerosis.
Penulis : Agil Christiana Wimbardi dan Siti Mulyani (Mahasiswa S1 Gizi Angkatan 2024, Institut Kesehatan Immanuel)

