Konten dari Pengguna

Hustle Culture Penyebab Krisis Mental Generasi Masa Kini

Agna Diva Raya Nitami
Mahasiswi Semester 3 Sosiologi Universitas Brawijaya.
5 Desember 2025 7:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Hustle Culture Penyebab Krisis Mental Generasi Masa Kini
Hustle culture memuja produktivitas, tapi diam-diam menggerus kesehatan mental. Di balik ambisi dan kesibukan, terdapat stres dan tekanan sosial yang makin tak terlihat. #userstory
Agna Diva Raya Nitami
Tulisan dari Agna Diva Raya Nitami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Istilah Hustle Culture Generasi Masa Kini. Foto: Dokumentasi Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Istilah Hustle Culture Generasi Masa Kini. Foto: Dokumentasi Pribadi.
Hustle culture menjadi gambaran perubahan besar dalam cara generasi masa kini memaknai kerja dan kesuksesan. Jika dulu bekerja dilakukan untuk memenuhi kebutuhan hidup, kini kerja dianggap sebagai identitas, simbol status, dan tolok ukur nilai diri seseorang.
Standar kesuksesan semakin bergeser menjadi seberapa sibuk, produktif, dan berhasil seseorang terlihat. Lingkungan hidup yang kompetitif serta perkembangan teknologi membuat generasi muda berlomba-lomba mencapai versi ideal dari "kehidupan sukses", yang sering kali ditentukan oleh tekanan sosial dan konsumsi gaya hidup.
Budaya ini tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi merupakan hasil dari perkembangan kapitalisme dan nilai-nilai moral yang melegitimasi kerja keras tanpa batas. Pemikiran Max Weber mengenai etika Protestan menjelaskan bahwa kerja dipandang sebagai kewajiban moral, yang kemudian berkembang menjadi etos kapitalisme modern.
Ilustrasi bekerja. Foto: Shutterstock
Ketika ide ini diadopsi ke dalam kehidupan kontemporer, kerja tidak lagi terkait dengan nilai spiritual, tetapi berubah menjadi alat untuk mengejar status sosial dan pengakuan. Tokoh seperti Elon Musk dan Jeff Bezos turut memperkuat gambaran bahwa bekerja berlebihan adalah kunci mencapai kesuksesan besar.
Namun di balik narasi motivasional tersebut, hustle culture membawa dampak negatif yang signifikan. Tuntutan untuk selalu produktif menciptakan tekanan sosial yang memicu stres kronis, kecemasan, dan burnout.
Generasi Milenial dan Gen Z menjadi kelompok yang paling rentan karena mereka sering berada dalam lingkungan kerja yang menuntut performa tinggi tanpa batas waktu jelas. Ketika istirahat dipandang sebagai kelemahan dan kerja berlebihan dianggap sebagai standar normal, individu tanpa sadar menempatkan dirinya dalam siklus kerja yang melelahkan secara fisik maupun mental.
Ilustrasi lelah bekerja Foto: Shutter Stock
Tekanan tersebut semakin kuat karena dorongan struktural dari sistem ekonomi dan organisasi kerja. Pekerja pada posisi rendah lebih rentan mengalami burnout karena beban kerja besar, tetapi imbalan minim. Dalam banyak kasus, muncul fenomena toxic productivity, yaitu kondisi ketika seseorang merasa harus terus bekerja untuk memenuhi ekspektasi sosial atau pembanding dari lingkungan kerja maupun dorongan internal.
Waktu istirahat dianggap tidak produktif, sementara hubungan sosial dan keseimbangan hidup mulai tersingkirkan. Fenomena ini menunjukkan bahwa kesehatan mental bukan hanya persoalan individu, melainkan juga dampak dari norma sosial yang menormalisasi kerja berlebihan.
Media sosial menjadi faktor lain yang memperkuat budaya ini. Representasi kehidupan "produktif" melalui unggahan pencapaian, rutinitas kerja ideal, hingga standar kesuksesan tertentu menciptakan tekanan perbandingan sosial. Banyak orang merasa tertinggal karena melihat orang lain tampak lebih sukses dan lebih rajin bekerja.
Ilustrasi media sosial palsu. Foto: Dinda Faradiba/kumparan
Padahal, di balik unggahan tersebut sering tersembunyi kelelahan mental dan tekanan yang tidak tampak. Media sosial akhirnya menjadi ruang yang membentuk persepsi keliru bahwa produktivitas tanpa henti adalah jalan menuju kebahagiaan, padahal justru sebaliknya dapat mengikis keseimbangan hidup seseorang.
Pada akhirnya, kebutuhan untuk selalu produktif harus disadari sebagai pedang bermata dua. Hustle culture memang dapat memberikan dorongan positif bagi sebagian individu, seperti disiplin waktu dan motivasi mencapai target. Namun, ketika budaya ini mengabaikan batas-batas kesehatan fisik dan mental, ia berubah menjadi ancaman.
Masyarakat perlu mengembangkan pola pikir baru bahwa istirahat bukan bentuk kemalasan, melainkan bagian penting dari proses menjadi manusia yang sehat dan seimbang. Lingkungan kerja yang fleksibel, batasan waktu kerja yang jelas, serta kesadaran individu dalam mengatur ritme hidup menjadi kunci menciptakan kehidupan yang lebih harmonis. Kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari produktivitas, tetapi juga dari kebahagiaan, kesehatan, dan kebermaknaan hidup.
Trending Now