Konten dari Pengguna

Bendera Topi Jerami di Bulan Kemerdekaan

Agung Rifna Ajie
Guru Sosiologi di SMA Negeri 1 Batujajar dan Content Writer, Instagram: @agungrifna
11 Agustus 2025 8:27 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Bendera Topi Jerami di Bulan Kemerdekaan
Pengibaran bendera Topi Jerami di bulan kemerdekaan merupakan bentuk kritik kreatif terhadap ketidakadilan dan korupsi, untuk menyampaikan pesan bahwa janji kemerdekaan sejati belum terwujud.
Agung Rifna Ajie
Tulisan dari Agung Rifna Ajie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi bendera One Piece. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi bendera One Piece. Foto: Shutterstock
Setiap bulan Agustus, rakyat Indonesia merayakan Hari Kemerdekaan dengan penuh semangat. Bendera Merah Putih berkibar gagah di jalan-jalan, sekolah, kantor, hingga rumah-rumah warga. Namun belakangan ini, muncul pemandangan unik: di antara lautan merah putih, berkibar pula bendera bajak laut Topi Jerami dari serial anime One Piece.
Sebagian orang menilainya sebagai tindakan iseng atau ekspresi kegemaran anak muda. Namun di balik kibaran bendera dengan tengkorak bertopi jerami itu, tersimpan pesan sosial yang jauh lebih dalam. Anehnya, justru di sinilah letak kelucuannya: beberapa pihak merasa terusik oleh sehelai kain bergambar dari manga shonen.
Simbol Fiksi, Suara Nyata
Bendera Topi Jerami bukan sekadar lambang bajak laut dalam dunia fantasi. Bagi sebagian orang, ia menjelma menjadi simbol perlawanan terhadap ketidakadilan, korupsi, dan kebijakan yang menindas. Ketika rakyat merasa suara mereka tidak didengar, mereka berbicara dengan bahasa yang lebih dimengerti generasi ini—bahasa pop culture.
Luffy dan krunya bukan “pahlawan negara”, tetapi mereka memperjuangkan nilai-nilai yang tak kalah penting: kebebasan, keadilan, dan perlawanan terhadap kekuasaan tiran. One Piece menghadirkan dunia di mana sejarah sengaja dihapus (Abad Kekosongan), tokoh antagonis berkolaborasi dengan penguasa lokal demi kepentingan pribadi (Kaido dan Orochi), kelompok elite bebas dari hukum (Tenryuubito), dan masih banyak lagi.
Lucunya, pengibaran bendera Topi Jerami kadang justru dianggap "mengganggu ketertiban" atau "tidak menghormati simbol negara". Di sinilah ironi terasa begitu nyata. Kita bisa tenang melihat ketimpangan, tapi gelisah melihat kain bergambar tengkorak tersenyum.
Boleh jadi, karena bendera fiksi ini berhasil menyampaikan kritik dengan cara yang jauh lebih mengena daripada pidato resmi atau debat panjang di gedung parlemen. Ia tidak berteriak, tapi menggelitik. Dan yang paling menakutkan bagi kekuasaan adalah ketika tawa bisa menyindir lebih tajam dari teriakan.
Pop Culture sebagai Bahasa Perlawanan
Bendera One Piece di Kecamatan Kerek, Kabupaten Tuban. Foto: Dok. Istimewa
Budaya populer seperti anime punya kekuatan luar biasa. Ia menembus batas usia, kelas sosial, dan wilayah. Ketika sebagian masyarakat mengibarkan bendera bajak laut di bulan kemerdekaan, itu bukan sekadar "tidak tahu sopan santun", tapi justru ekspresi bahwa mereka masih peduli.
Bendera Topi Jerami menjadi medium untuk menyampaikan “Kami belum merasakan kemerdekaan seperti yang dijanjikan”
Kritik yang datang lewat cosplay, meme, atau bendera anime bukanlah bentuk makar. Ia justru menandakan bahwa rakyat masih punya harapan. Dan selama harapan itu ada, perjuangan belum selesai.
Tugas "kita" bukan menertibkan kain, tapi menertibkan kenyataan. Bukan mencabut bendera, tapi mencabut akar persoalan. Karena kemerdekaan bukan hanya urusan seremoni, tapi janji keadilan yang harus ditepati .
Dan jika suatu hari kita merasa terancam oleh bendera bajak laut dari dunia fiksi, barangkali bukan karena benderanya yang terlalu kuat, tetapi karena pesan yang dibawanya terlalu jujur.
Trending Now