Konten dari Pengguna

Filsafat Menggeser Pantat dari Balik Kemudi Angkot Kalapa-Ledeng

Agung Rifna Ajie
Guru Sosiologi di SMA Negeri 1 Batujajar dan Content Writer, Instagram: @agungrifna
24 Desember 2025 22:03 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Filsafat Menggeser Pantat dari Balik Kemudi Angkot Kalapa-Ledeng
Naik angkot Kalapa-Ledeng adalah metafora kehidupan untuk menggambarkan praktik kontrak sosial, empati, dan etika berbagi ruang yang tulus di tengah masyarakat.
Agung Rifna Ajie
Tulisan dari Agung Rifna Ajie tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sejumlah angkot menunggu penumpang di Terminal Cicaheum, Bandung, Jawa Barat, Rabu (29/4/2020). Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah angkot menunggu penumpang di Terminal Cicaheum, Bandung, Jawa Barat, Rabu (29/4/2020). Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Kalau Anda menganggap pencerahan spiritual hanya bisa didapat dengan bertapa di puncak gunung atau membaca buku filsafat, berarti main Anda kurang jauh—atau minimal, Anda jarang naik angkot Kalapa-Ledeng.
Di dalam kotak besi hijau yang getarannya sampai ke ginjal kiri itu, terdapat sebuah konsep hidup yang jauh lebih jujur ketimbang orasi-orasi di televisi.
Di sana, di atas jok kulit imitasi yang retak-retak, kita sebenarnya sedang mempraktikkan sebuah kontrak sosial yang sangat sakral. Tidak perlu naskah akademik yang rumit atau sidang paripurna yang bertele-tele. Cukup dengan modal "geser sedikit", semua urusan selesai.
Mari kita bicara soal kapasitas, sebuah konsep yang dalam dunia angkot bersifat elastis sekaligus magis. Bagi seorang sopir angkot, kapasitas bukanlah angka kaku yang tertera di STNK. Kapasitas adalah ujian tentang seberapa lapang hati kita. Ketika sang sopir berteriak, Mangga Neng, tiasa keneh lebet hiji deui (Silahkan Neng, masih muat satu lagi), padahal di dalam sudah ada sepuluh orang yang duduk miring dengan posisi kaki saling mengunci, kita sedang diajarkan tentang pengorbanan.
Secara otomatis, tanpa perlu diperintah oleh undang-undang, para penumpang akan menggeser pantat, melipat bahu, dan menahan napas. Kita memberikan ruang bagi orang asing yang baru naik agar dia tidak tertinggal. Ini adalah etika tingkat tinggi: kesediaan untuk merasa sedikit tidak nyaman demi memastikan orang lain bisa ikut jalan.
Filosofi angkot juga mengajarkan kita tentang batas kekuasaan. Ada sebuah hukum alam yang dipatuhi setiap sopir: perintah "Kiri!" adalah sabda yang tak bisa ditawar. Seberapa pun kencangnya sang sopir ingin mengejar setoran, dia akan segera menginjak rem.
Dia tahu betul bahwa perannya hanyalah seorang pengantar, bukan pemilik tujuan. Dia sadar bahwa kenyamanan yang dia rasakan di balik kemudi itu dibayar oleh koin-koin lusuh dari saku penumpang. Sang sopir tahu kapan harus berhenti, karena dia tahu siapa yang punya kepentingan.
Ada juga solidaritas tanpa suara yang tumbuh di aspal Bandung yang macetnya sudah sampai tahap spiritual. Antar-sopir angkot hijau ini, ada kode-kode melalui lampu dim atau lambaian tangan jika ada hambatan di depan. Ada radar yang tidak tertangkap, namun sangat akurat dirasakan oleh sesama pengais rezeki.
Mereka saling menjaga agar tidak ada kawan yang terjebak dalam masalah besar. Solidaritas ini tumbuh bukan karena mereka satu partai atau satu alumni sekolah mahal, tapi karena mereka sadar bahwa aspal yang mereka injak itu sama panasnya. Mereka berbagi jalan, berbagi rezeki, dan sesekali berbagi umpatan.
Naik angkot Kalapa-Ledeng adalah sebuah pengingat bahwa hidup ini hanyalah soal berpindah dari satu titik ke titik lain. Kehebatan sang sopir tidak diukur dari seberapa lama dia bisa menguasai jalanan, tapi dari seberapa “jujur” dia menurunkan penumpang di tempat yang diminta.
Terminal adalah hakim terakhir. Di sana, semua orang turun. Tidak ada yang membawa jok angkotnya pulang ke rumah. Tidak ada yang merasa paling hebat karena duduk paling depan. Semuanya kembali menjadi manusia biasa yang berjalan kaki menuju tujuannya masing-masing.
Jika suatu hari Anda merasa dunia ini mulai kehilangan akal sehat, jika Anda merasa orang-orang sudah terlalu egois karena kekuasaan, cobalah naik angkot hijau ini. Di sana kita akan sadar, bahwa untuk membuat berjalan lancar, kita hanya butuh tahu kapan harus menggeser pantat dan tahu kapan harus berhenti saat orang-orang sudah mulai berteriak “Kiri!”.
Trending Now