Konten dari Pengguna
Mahasiswa Berhentilah Perpikir "Dua Variable"
27 Juni 2025 14:40 WIB
Ā·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Mahasiswa Berhentilah Perpikir "Dua Variable"
Opini yang mengajak mahasiswa bisnis Jakarta meninggalkan logika dua variabel, memeluk System Thinking agar setiap keputusan digital mencipta nilai berkelanjutan.Agung Stefanus Kembau
Tulisan dari Agung Stefanus Kembau tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah derasnya arus informasi, banjir data, dan tuntutan kecepatan dalam mengambil keputusan, mahasiswa bisnis hari ini sedang dihadapkan pada paradoks besar: mereka diajari berpikir kritis dan analitis, tetapi tidak pernah benar-benar diajak memahami bagaimana dunia bekerja secara utuh. Dunia nyata bukanlah tabel SWOT, bukan pula sekadar hasil regresi dua-tiga variabel yang ditampilkan manis dalam infografik. Dunia adalah sistem, bukan serpihan logika yang dipotong-potong.
Sudah saatnya mahasiswaāterutama mereka yang bercita-cita menjadi pemimpin di ranah digital, marketing, dan manajemen bisnisāmulai belajar sesuatu yang lebih dari sekadar breakdown masalah. Mereka perlu breakthrough cara berpikir. Saatnya kita perkenalkan: System Thinking.
Beyond Critical and Analytical Thinking
System Thinking bukan hanya metode berpikir, ia adalah paradigma. Sebuah cara pandang yang melihat hubungan, bukan hanya elemen. Ia mengajarkan kita bahwa segala sesuatu saling terkaitābahwa keputusan pemasaran di Jakarta bisa berdampak pada ketahanan pangan di Wamena. Bahwa promo diskon besar-besaran kampanye 11.11 di e-commerce besar Indonesia bisa menciptakan efek ekosistem: dari kelebihan produksi, stres pekerja pabrik, hingga limbah tekstil yang mencemari sungai.
Dalam buku Thinking in Systems karya Donella Meadows (2008), dijelaskan bahwa system thinking memampukan seseorang melihat pola, bukan hanya peristiwa. Ia tidak terjebak pada gejala, tapi menggali akar penyebab yang tersembunyi di bawah permukaan. Ini sangat berbeda dengan analytical thinking, yang pada dasarnya memecah-mecah sesuatu menjadi bagian kecil agar bisa dipahami. Atau critical thinking, yang meskipun tajam dalam menguji argumen, sering kali tetap bekerja dalam batasan sistem yang sudah ada.
System thinking menggeser fokus dari ābagianā ke ārelasiā. Dari āmasalahā ke āpolaā. Dan, yang paling penting, dari āsolusi cepatā ke ādampak jangka panjangā. Dalam dunia bisnis digital yang bergerak dalam hitungan milidetik, berpikir sistem justru menawarkan ketahanan berpikir. Sebab cepat belum tentu tepat. Dan seringkali, solusi yang terlalu cepat hanyalah bentuk lain dari penundaan masalah.
Pendidikan Tinggi dan Ilusi Fragmentasi
Sayangnya, mayoritas pendidikan tinggi kita masih terjebak dalam logika silabus: membagi dunia menjadi mata kuliah, topik, dan modul. Mahasiswa sering diajarkan tentang supply chain, tetapi terkadang tidak diajak memahami bagaimana perilaku konsumen, kebijakan logistik, iklim global, dan kepentingan politik bisa saling berkelindan dalam satu sistem rantai pasok. Mahasiswa diajak memahami algoritma pemasaran digital, tapi lupa bahwa di balik semua itu ada manusiaādengan emosi, dengan etika, dan dengan dampak sosial dari setiap klik dan konversi.
Bahkan tidak sedikit mahasiswa yang mengira bahwa sistem hanyalah ātata cara kerja organisasi.ā Mereka tidak sadar bahwa setiap keputusanātermasuk keputusan untuk tidak berpikirāadalah bagian dari sistem. Maka, ketika seorang mahasiswa memutuskan untuk skip kuliah karena merasa topiknya tidak relevan, tanpa sadar ia sedang menjadi bagian dari sistem pembelajaran yang gagal menciptakan relevansi.
Mari kita bicara sedikit tentang generasi hari ini. Gen-Z dan milenial awal adalah generasi yang hidup dalam loop tak berkesudahan antara notifikasi, distraksi, dan ekspektasi sosial. Mereka multitasking, tapi kehilangan fokus. Mereka aktif, tapi sering bingung arah. Dalam konteks ini, system thinking bukan hanya alat berpikir, tapi juga alat bertahan. Ia mengajari kita untuk berhenti sejenak, mengamati pola, menyadari keterhubungan, dan mengajukan pertanyaan yang lebih dalam: mengapa kita melakukan ini, untuk siapa, dan apa dampak jangka panjangnya?
Peter Senge, dalam karya monumentalnya The Fifth Discipline (1990), menegaskan bahwa system thinking adalah urat nadi organisasi pembelajar. Di masa depan, pemenang bukanlah korporasi raksasa, melainkan entitas yang terus-menerus belajar dan menyesuaikan diri. Pemimpinnya pun bukan sekadar jenius angka, tetapi manusia yang mahir membaca keterkaitan sebab-akibat dan menavigasi kompleksitas sistem. Merekalah arsitek nilai, penentu kelangsungan perusahaan, dan penggerak kesejahteraan kolektif di society.
Kita tidak bisa berharap banyak dari generasi yang berpikir seperti kalkulator: input-output, logika linier, sebab-akibat langsung. Dunia tidak bekerja seperti itu. Dunia adalah jaringan sebab-akibat yang saling mempengaruhi, kadang berbalik arah, kadang tertunda. Dunia adalah sistem dinamis, terkadang bukan soal benar atau salah.
Menjadi Value Creator di Era Digital
Lantas, bagaimana mahasiswa bisa menjadi pencipta nilai (value creator) di era digital?
Jawabannya sederhana, tapi dalam: karena dunia digital bekerja dalam sistem yang kompleks. Setiap fitur aplikasi, setiap perubahan UI, setiap algoritma baru, akan berinteraksi dengan ribuan bahkan jutaan pengguna yang punya konteks berbeda. Mahasiswa bisnis yang memahami system thinking akan berpikir dua kali sebelum merancang kampanye yang mungkin menguntungkan brand, tapi memiskinkan produsen. Seorang calon founder startup akan berpikir tentang keberlanjutan bukan hanya karena tuntutan ESG, tapi karena ia memahami bahwa bisnis yang tidak menciptakan nilai bagi ekosistem, cepat atau lambat akan disingkirkan oleh sistem itu sendiri.
Kita tidak butuh lebih banyak kreator konten yang viral. Kita butuh lebih banyak pemikir sistemāmahasiswa yang tahu kapan harus pause, melihat konteks, dan bertanya: siapa yang benar-benar diuntungkan dari keputusan ini?
Mungkin terdengar berat. Tapi percayalah, generasi muda kita tidak kekurangan kecerdasan. Mereka hanya belum cukup dilatih untuk berpikir dalam. Mereka tumbuh di dunia yang mengagungkan respons cepat, bukan perenungan. Dunia yang gemar mengejar solusi, tapi abai pada sistem tempat masalah itu tumbuh.
Pada akhirnya, System Thinking bukan sekadar alat analisis. Ia adalah cara hidup. Sebuah ajakan untuk mencipta dengan kesadaran bahwa kita hidup dalam jaringan dampak yang saling bertaut. Karena dunia bukan soal siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling dalam.
Dan dalam dunia digital yang terus bergerak, kadang yang paling berani adalah mereka yang berani berhenti sejenakāuntuk membaca pola, bukan hanya peluang. Untuk melihat sistem, bukan hanya sebab dan akibat. Karena selama kita terus berpikir dalam dua variabel, kita akan terus gagal memahami kenyataan yang bergerak jauh lebih kompleks dari itu.
āOrang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak berpikir sistem, ia akan tetap terpeleset oleh satu simpul persoalan yang diabaikan.ā Sedikit sarkastik? Mungkin. Tapi mungkin itu yang kita butuhkanāuntuk akhirnya berhenti berpikir di permukaan.
Referensi
Meadows, D. H. (2008). Thinking in Systems: A Primer. Chelsea Green Publishing.
Senge, P. M. (1990). The Fifth Discipline: The Art & Practice of The Learning Organization. Doubleday.

