Konten dari Pengguna
Narrative Fallacy di Indonesia: Mengapa Kita Pilih Cerita, bukan Data?
12 Oktober 2025 11:00 WIB
·
waktu baca 7 menit
Kiriman Pengguna
Narrative Fallacy di Indonesia: Mengapa Kita Pilih Cerita, bukan Data?
Kenapa Indonesia gemar cerita tapi alergi data? Ulasan tentang Narrative Fallacy—bias kognitif yang menjebak cara kita belajar, bersosial, dan berinvestasi. #userstoryAgung Stefanus Kembau
Tulisan dari Agung Stefanus Kembau tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi itu, linimasa penuh oleh video pendek tentang soft life, healing, dan paylater; sore di kampus obrolan mengeras, “Malas? Ya, karena Gen-Z.” Lima menit kemudian, “Foya-foya? Standar Gen-Z.” Lalu vonis terakhir, “Cepat bosan? Tipikal Gen-Z.”
Tiga label, tiga kambing hitam, satu kepastian palsu yang menenangkan. Padahal, realitasnya lebih kusut: ongkos hidup menanjak, pekerjaan awal banyak yang kontrak pendek, ekonomi gig menuntut fleksibel tanpa jaring pengaman, algoritma merampok atensi, kurikulum jarang mengajari portfolio building, dan tekanan sosial tampil “sukses cepat” bikin konsumsi simbolik meledak.
Kita ingin satu cerita rapi agar cemas reda. Imbasnya, Gen-Z dijadikan sebab utama untuk semua gejala. Di sinilah narrative fallacy bekerja: kita menukar kompleksitas ekonomi-psikologis dengan dongeng kausal yang memukau, lalu menutup peluang solusi yang nyata, literasi finansial yang membumi, desain karier berbasis portofolio, kebiasaan deep work, dan batas sehat terhadap algoritma. Menyalahkan generasi terasa heroik; memperbaiki sistem dan kebiasaan terasa melelahkan. Namun, hanya yang kedua yang mengubah nasib.
Kecanduan Narasi—Bukan Karena Bodoh, Tapi Karena Kita Manusia
Saya ingin mengusulkan sesuatu yang mungkin kurang manis di telinga: orang Indonesia dengan kultur komunal, tradisi lisan, dan ekosistem media yang menyukai dramatisasi, mengalami kecanduan narasi. Bukan karena kita kurang cerdas, tetapi karena kita terlalu manusiawi. Dan karena terlalu manusiawi, kita sering menghindari kompleksitas sebab-akibat. Pendidikan, relasi sosial, bahkan pandangan kita tentang saham dan ekonomi berjalan di rel antara kenyamanan cerita dan kerepotan data. Kita hampir selalu memilih yang pertama.
Secara biologis, pilihannya memang terasa natural. Otak kita adalah mesin penemu pola, bukan mesin pencari kebenaran. Daniel Kahneman—dalam buku Thinking, Fast and Slow—menyebutnya sebagai duel antara Sistem 1 (cepat, intuitif, asosiasi) dan Sistem 2 (lambat, analitik, melelahkan). Sistem 1 menyukai narasi karena narasi menutup celah informasi, memberi koherensi yang terasa menenangkan. Sistem 2 menuntut bukti, konteks, dan kerja keras.
Di ruang kelas atau timeline, Sistem 1 selalu lebih dulu tiba, lebih keras suaranya, dan lebih memuaskan perasaan. Maka, ketika nilai turun, kita spontan memilih “penyebab utama”—kurikulum, guru, atau gawai, padahal realitasnya bersusun: kualitas pengajaran, literasi orang tua, desain asesmen, gizi, tidur, bahkan jarak rumah ke sekolah. Kompleksitas itu makan banyak energi; cerita tunggal menawarkan kepastian.
Nassim Taleb, dalam buku The Black Swan, menamai jebakan narrative fallacy sebagai sebuah cara pikir yang mengubah masa lalu menjadi alur yang “pantas”, lalu menjadikannya alasan untuk masa depan. Kita mengisi kekosongan, sebab dengan kisah yang terasa logis. Pada level pribadi, ini mengurangi cemas. Pada level sosial, ini menciptakan kesepakatan, walau sering rapuh. Bila Anda butuh slogan singkatnya: otak membenci chaos, masyarakat membenci perdebatan tanpa ujung, narasi menyelamatkan keduanya.
Dari sudut antropologi, narasi adalah lem perekat. Kita hidup dalam komunitas yang dibangun oleh cerita: legenda lokal, kisah keluarga, slogan pembangunan, sampai tagline merek. Cerita menjawab tiga kebutuhan kolektif: identitas (kita siapa), moral (apa yang baik), dan orientasi (ke mana arah kita). Semakin sederhana ceritanya, semakin massal daya ikatnya. Itu sebabnya di ruang publik Indonesia, kalimat “karena X” terdengar jauh lebih "seksi" daripada “mungkin karena interaksi X, Y, Z, ditambah faktor acak.” Cerita sederhana mempercepat koordinasi, tetapi punya efek samping: kita memercayai yang mempersatukan, bukan yang membuktikan.
Sejarah menambah lapisan lain. Kita dibesarkan oleh kisah-kisah yang rapi: masa lalu dijahit dengan alur pahlawan, titik balik, dan pelajaran moral yang bulat. Historiografi populer jarang memberi ruang bagi kebetulan, kontingensi, atau “andai-andaian” yang rumit. Maka, saat kita menghadapi isu pendidikan atau ekonomi hari ini, refleks sejarah bekerja: kita mencari satu dalang, satu momentum, satu kebijakan, dan satu korban. Narasi memberi rasa kontrol atas masa lalu; sayangnya, kita lalu mendramatisir masa kini agar pas dengan pola itu.
Tiga Medan Konkret: Pendidikan, Sosial, Saham/Ekonomi
Pertama, pendidikan. Kita sering menggumam kalimat yang terdengar tegas, tetapi reduktif: “Kurikulum gonta-ganti, makanya mutu belajar turun.” Atau sebaliknya, “Kurikulum baru ini solusi.” Keduanya narasi, bukan diagnosis. Mutu belajar adalah hasil campuran: kualitas guru, kepemimpinan kepala sekolah, manajemen kelas, literasi keluarga, desain asesmen, akses nutrisi, infrastruktur digital, hingga jarak tempuh.
Namun, diskusi publik menyukai jawaban satu baris. Kita menghindari kausalitas bersyarat, padahal kebijakan efektif justru lahir dari pemahaman bersyarat: di sekolah seperti ini, intervensi A; di sekolah seperti itu, intervensi B. Tanpa sensitivitas pada konteks, kurikulum jadi kambing hitam permanen atau jimat yang disembah. Keduanya nyaman; keduanya menyesatkan.
Kedua, sosial—dari solidaritas hingga hoaks. Karena kita memuliakan harmoni, kita cenderung menghindari perbedaan interpretasi yang panjang. Ruang diskusi pendek, ritme pesan cepat. Algoritma media sosial memperkuatnya: cerita dramatis, moral hitam-putih, solusi instan—itulah yang viral. Kita merasa “tahu” karena cerita terasa koheren, padahal kita baru memeluk ilusi pemahaman. Bagikan ulang dan selesai. Dalam struktur ini, narasi yang paling sederhana sering tampak paling benar, meski paling dangkal.
Ketiga, saham dan ekonomi. Setiap hari, indeks bergerak karena ribuan variabel, plus noise. Namun, headline memberi sebab tunggal: “naik karena optimisme kebijakan”, “turun karena kekhawatiran global”. Kita menelan sebab itu, dan lebih berbahayanya, bertindak berdasar cerita. Ketika untung, kita konfirmasi; ketika rugi, kita bikin cerita baru. Padahal, disiplin finansial menuntut yang membosankan: base rate, volatilitas historis, rencana beli-jual, evaluasi pascaaksi yang jujur. Cerita membuat kita berani; angka membuat kita bertahan.
Solusi Perspektif Behavioral Sains
Bagaimana keluar dari jebakan ini tanpa harus membuang cerita (yang sejatinya kita butuhkan)? Behavioral sains menawarkan beberapa kebiasaan antinarasi manis.
Pertama, mulailah dari angka dasar, bukan dari opini. Di ranah pendidikan, lontarkanlah pertanyaan: Bagaimana tren literasi sekolah dalam tiga tahun? Di ranah sosial, cek sumber dan track record sebelum berbagi. Di ranah investasi, lihat volatilitas dan biaya total sebelum percaya “penyebab hari ini”.
Kedua, latih counterfactual. Untuk setiap penjelasan tunggal, tulis dua penjelasan alternatif yang sama masuk akal. Ini memaksa otak menerima bahwa kenyataan sering multipenyebab. Anda akan merasakan efeknya: emosi mereda, keputusan melambat—dan biasanya membaik.
Ketiga, lakukan pre-mortem. Sebelum memutuskan, tulis satu kalimat: “Keputusan ini gagal jika…”. Kalimat sederhana ini memanggil Sistem 2: ia menyiapkan rem di jalan menurun.
Keempat, pakai aturan pra-keputusan. Di kelas, rumuskan terlebih dulu indikator keberhasilan program belajar sebelum melihat hasil. Di media sosial, tunggu 10 menit dan cek tautan sumber sebelum forward. Di pasar, tetapkan stop-loss dan horizon waktu di depan layar kosong.
Terakhir, hormati konteks. Kebijakan yang berhasil di kota A tak otomatis berhasil di desa B. Cerita menyamakan, data membedakan. Indonesia luas; solusinya tak boleh tunggal.
Dari Narasi ke Nalar
Jika saya boleh lebih retoris: cerita adalah baju, data adalah tubuh. Baju membuat kita tampil; tubuh membuat kita hidup. Mengutamakan baju dan melupakan tubuh itu indah di cermin, tetapi menyulitkan di jalan. Narrative fallacy adalah hasrat kita untuk menukar tubuh yang kompleks dengan baju yang pas. Kita merasa rapi, padahal mudah sakit.
Sebagian pembaca mungkin bertanya: Apakah ini ajakan untuk menjadi dingin dan anti-cerita? Tidak. Narasi perlu; tanpa narasi, pendidikan kehilangan makna, komunitas kehilangan daya ikat, dan pasar kehilangan imajinasi. Yang saya ajak adalah mendidik selera kita atas cerita. Bukan semua cerita layak dipercaya, bukan semua koherensi layak dipegang. Kita butuh cerita yang mau diuji, bukan cerita yang alergi pada angka. Kita butuh keyakinan yang punya kerendahan hati epistemik: siap direvisi ketika bukti berubah.
Indonesia tidak akan kehabisan cerita; itu kekuatan kita. Tantangannya adalah membuat cerita yang tahan bukti, cerita yang menghadapi kompleksitas alih-alih menghapusnya, cerita yang membimbing keputusan, bukan hanya menenangkan perasaan. Di sekolah, itu berarti mengukur apa yang penting dan memperbaiki yang terukur. Di masyarakat, itu berarti memperlambat jempol sebelum berbagi. Di pasar, itu berarti memberi ruang pada probabilitas, bukan hanya pada kata-kata.
Pada akhirnya, kita hanya perlu satu kebiasaan baru: ketika mendengar penjelasan yang terlalu mulus, tambahkan satu pertanyaan dalam hati, “Apa lagi yang bisa menjelaskan ini?” Pertanyaan itu kecil, tetapi ia membuka pintu dari narasi ke nalar. Dan mungkin, di pintu itulah kita menemukan Indonesia yang tetap hangat oleh cerita, tetapi semakin matang oleh bukti. Karena pada detik ketika cerita dan data berdamai, keputusan kita berhenti menjadi tebak-tebakan yang indah dan mulai menjadi tindakan yang benar.

