Konten dari Pengguna
Mental Sehat, Fisik Kuat: Kunci Bahagia di Era Digital
3 Oktober 2025 8:00 WIB
Ā·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Mental Sehat, Fisik Kuat: Kunci Bahagia di Era Digital
Mental sehat, fisik kuat sebagai kunci bahagia di era digital: Aktivitas fisik teratur dapat menjaga kesehatan mental di era digital. Fisik dan mental seimbang adalah kunci bahagia. #userstoryAgung Widodo
Tulisan dari Agung Widodo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sudah berabad-abad lalu, filsuf Romawi Juvenal menulis kalimat terkenal: āMens sana in corpore sanoāādi dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang sehat. Pandangan klasik ini sejalan dengan definisi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahwa kesehatan mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial, bukan sekadar ketiadaan penyakit.
Sayangnya, keseimbangan itu kini semakin sulit dijaga. Data WHO mencatat lebih dari 450 juta orang di dunia mengalami gangguan mental. Di Indonesia, survei Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 mengungkap fakta mencemaskan: satu dari tiga remaja (34,9%) memiliki masalah kesehatan mental dan gangguan cemas menjadi yang paling banyak dialami.
Ironisnya, hanya 2,6% dari mereka yang pernah mengakses layanan konseling atau dukungan profesional. Stigma, ketidaktahuan, dan keterbatasan fasilitas membuat isu kesehatan mental sering kali terabaikan.
Padahal, gangguan mental bukan sekadar masalah psikologis. Stres kronis, kecemasan, dan depresi terbukti dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, obesitas, hingga diabetes. Kesehatan mental yang buruk bisa melemahkan fisik.
Ancaman Gaya Hidup Digital
Kita hidup di era serba digital. Pekerjaan, belajar, hiburanāsemuanya berpindah ke layar. Pola hidup yang minim gerak (sedentari) semakin umum, sementara interaksi sosial langsung makin berkurang.
Menurut Kementerian Komunikasi dan Informatika, transformasi digital mengubah cara masyarakat bekerja dan beraktivitas, tetapi juga menurunkan aktivitas fisik harian. Akibatnya, kualitas kesehatanābaik fisik maupun mentalāikut terancam.
Stres akibat tekanan pekerjaan daring, perbandingan sosial di media, hingga isolasi sosial, menjadi pemicu kelelahan mental yang sering tak disadari.
Bergerak untuk Bahagia
Salah satu resep sederhana untuk menjaga kesehatan mental adalah aktivitas fisik teratur.
WHO (2020) merekomendasikan 150ā300 menit aktivitas aerobik intensitas sedang per minggu, atau 75ā150 menit aktivitas intensitas tinggi. Tidak harus di gymājalan cepat, bersepeda, berenang, atau naik tangga pun sudah cukup.
Bergerak membantu tubuh melepaskan endorfin, hormon bahagia yang memperbaiki suasana hati, meredakan stres, dan meningkatkan rasa percaya diri. Penelitian menunjukkan olahraga rutin dapat menurunkan gejala depresi dan kecemasan.
Pilih aktivitas yang Bapak/Ibu sukaiābisa olahraga individu seperti jogging, atau kegiatan bersama teman dan keluarga. Kombinasi manfaat fisik dan sosial ini memperkuat ketahanan mental sekaligus menjaga semangat hidup.
Jangan lupa minum cukup air, istirahat yang cukup, dan buat rutinitas aktivitas fisik menjadi bagian dari gaya hidup sehari-hari.
Keseimbangan Sejati
Menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga kebugaran jasmani. Keduanya saling melengkapi. Ketika tubuh aktif, pikiran ikut segar. Ketika jiwa tenang, tubuh lebih tahan terhadap tekanan.
Di tengah dunia digital yang penuh tuntutan, mari kembali ke prinsip sederhana: bergerak, berinteraksi, dan bersyukur. Tubuh yang sehat akan menopang jiwa yang kuat dan jiwa yang bahagia akan menggerakkan tubuh untuk terus aktif. Karena sejatinya, kebahagiaan dimulai dari keseimbanganāantara pikiran yang tenang dan tubuh yang bugar.
Mens sana in corpore sanoāmari kita hidupkan kembali makna sejatinya di era modern.

