Konten dari Pengguna
Mengenal Daun Keji Beling sebagai Tanaman Obat Tradisional
4 Januari 2026 4:43 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
Kiriman Pengguna
Mengenal Daun Keji Beling sebagai Tanaman Obat Tradisional
Daun keji beling (Strobilanthes crispa) merupakan tanaman yang tumbuh liar di sekitar permukiman dan telah lama digunakan dalam pengobatan tradisional. Agustiansyah Amanda
Tulisan dari Agustiansyah Amanda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daun keji beling kerap tumbuh tanpa diundang. Ia muncul di sudut pekarangan, pinggir sawah atau sela pagar rumah. Bentuknya sederhana, warnanya hijau tua dengan tepi bergerigi dan rasanya pahit jika dikunyah. Karena itulah, tak sedikit orang menganggapnya sekadar tanaman liar yang tak perlu diperhatikan.
Padahal, dalam pengetahuan masyarakat tradisional, daun keji beling bukan tanaman sembarangan. Ia telah lama dikenal dan dimanfaatkan sebagai bagian dari pengobatan herbal yang diwariskan secara turun-temurun.
Tanaman Liar yang Punya Nama dan Identitas
Daun keji beling dikenal dengan berbagai sebutan di daerah, seperti keji beling, pecah beling, atau enyoh kelo. Secara ilmiah, tanaman ini bernama Strobilanthes crispa. Tanaman ini termasuk perdu yang mudah tumbuh di iklim tropis dan sering dimanfaatkan sebagai tanaman pagar hidup.
Nama βkeji belingβ dipercaya berkaitan dengan keyakinan masyarakat bahwa daun ini membantu meluruhkan batu dalam tubuh. Penamaan tersebut mencerminkan cara masyarakat tradisional memberi makna pada tanaman berdasarkan pengalaman empiris, bukan sekadar klasifikasi ilmiah.
Jauh sebelum pengobatan modern berkembang pesat, daun keji beling telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional. Masyarakat biasa merebus daunnya untuk diminum airnya atau mengonsumsinya sebagai lalapan dalam jumlah terbatas.
Pemanfaatan ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari sistem pengobatan tradisional yang memandang tanaman sebagai sarana menjaga keseimbangan tubuh. Daun keji beling kerap digunakan berdampingan dengan tanaman herbal lain, bukan sebagai solusi tunggal.
Kandungan Alami di Balik Rasa Pahit
Rasa pahit yang khas dari daun keji beling sering kali menjadi alasan orang enggan mengonsumsinya. Namun justru dari rasa inilah masyarakat meyakini adanya kandungan alami yang bermanfaat. Berbagai literatur menyebut daun keji beling mengandung senyawa seperti flavonoid, alkaloid, tanin, saponin, serta mineral tertentu.
Dalam perspektif tradisional, rasa pahit kerap diasosiasikan dengan kemampuan membersihkan atau menyeimbangkan tubuh. Meski demikian, pemahaman ini sebaiknya tetap disikapi secara bijak dan tidak berlebihan.
Daun Keji Beling dalam Sorotan Penelitian
Seiring meningkatnya minat terhadap tanaman obat, daun keji beling juga menjadi subjek penelitian ilmiah. Hingga tahun 2025, sejumlah studi masih terus menelusuri potensi farmakologis tanaman ini, mulai dari aktivitas antibakteri, potensi pengelolaan kadar gula darah, hingga efek sedatif atau penenang alami.
Beberapa penelitian laboratorium menunjukkan bahwa ekstrak daun keji beling memiliki aktivitas antibakteri terhadap jenis bakteri tertentu. Kandungan flavonoid di dalamnya diduga berperan dalam menghambat mekanisme pertumbuhan bakteri, termasuk melalui gangguan pada proses replikasi DNA. Temuan ini sejalan dengan pemanfaatan tradisional daun keji beling yang telah lama dikenal masyarakat.
Selain itu, riset praklinis juga mengeksplorasi potensi daun keji beling dalam membantu pengendalian kadar gula darah. Uji pada hewan percobaan menunjukkan adanya aktivitas antihiperglikemia, yang dikaitkan dengan kemampuan senyawa aktifnya dalam meningkatkan sensitivitas insulin dan menghambat penyerapan glukosa.
Penelitian lain turut mengkaji efek sedatif dari ekstrak daun keji beling. Studi eksperimental menunjukkan adanya potensi efek penenang yang dapat membantu gangguan tidur, meskipun temuan ini masih berada pada tahap awal penelitian.
Untuk mendukung pemanfaatan herbal yang lebih aman, upaya standardisasi bahan baku daun keji beling juga mulai dilakukan. Standardisasi ini bertujuan memastikan kualitas dan konsistensi simplisia sebagai bahan obat tradisional. Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa sebagian besar temuan tersebut masih bersifat laboratorium dan praklinis, sehingga efektivitas serta keamanannya pada manusia tetap memerlukan penelitian lanjutan.
Tanaman yang dulu dianggap biasa kini mulai mendapat perhatian lebih. Daun keji beling tidak hanya tumbuh liar, tetapi juga dibudidayakan dan diolah menjadi berbagai produk herbal, seperti teh atau ekstrak kering. Fenomena ini menunjukkan bagaimana pengetahuan lokal yang sempat terpinggirkan perlahan menemukan tempatnya kembali di tengah gaya hidup modern.
Cara Konsumsi ala Masyarakat
Secara tradisional, daun keji beling dikonsumsi dengan cara sederhana. Daunnya direbus dan air rebusannya diminum, atau dikonsumsi sebagai lalapan muda. Cara-cara ini diwariskan secara lisan dan dipraktikkan berdasarkan kebiasaan, bukan takaran medis yang baku.

