Konten dari Pengguna
Era Otomatisasi, Peluang atau Ancaman?
25 Juli 2025 12:54 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
Era Otomatisasi, Peluang atau Ancaman?
Kehadiran berbagai terobosan dan fitur canggih yang inovatif sering kali membuat kita terkesima.Namun, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian pihak.Andi Hermanto
Tulisan dari Andi Hermanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sebelumnya kita dihebohkan dengan meledaknya peserta job fair di sejumlah titik di kota besar di Indonesia. Kondisi itu perlu diperhatikan secara khusus oleh pemangku kepentingan. Itu pertanda ada masalah terhadap kondisi lapangan pekerjaan dalam negeri.
Baru-baru ini, Pemerintah melalui Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI), Abdul Kadir menyarankan untuk mengatasi angka pengangguran yang tinggi di dalam negeri, ia meminta para pencari kerja mencari pekerjaan di luar negeri.
Abdul Kadir lantas memperjelas pernyataannya pada Sabtu (28/6/2025) lantaran heboh di sosial media. Ia menegaskan bahwa pernyataan itu bukan nada usiran lantaran tidak adanya lapangan pekerjaan dalam negeri, menurutnya itu adalah alternatif pilihan yang cukup menjanjikan yaitu bekerja di luar negeri terkhusus bagi mahasiswa menurutnya.
Pernyataan Menteri P2MI mencuat di tengah kondisi jumlah angkatan kerja yang tinggi dan tidak dibarengi dengan lapangan pekerjaan tentu saja mengakibatkan lonjakan dalam sejumlah event job fair.
Meskipun event job fair disebut-sebut hanyalah seremonial belaka. Namun itu merupakan cerminan kondisi angkatan kerja yang belum terserap di dunia kerja.
Tentu saja, jika angka pengangguran tinggi akan menimbulkan sejumlah masalah ekonomi dan sosial. Pemerintah harus serius memperhatikan masalah tersebut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut tingkat pengangguran di Indonesia mencapai 4,7% dengan jumlah pengangguran 7,28 juta orang (merupakan data per Februari 2025). Angka pengangguran tertinggi didominasi pendidikan terakhir Sekolah Menengah Atas (SMA).
Justru golongan pendidikan terakhir SMA dan Diploma III mudah terserap lapangan pekerjaan dibandingkan lulusan Diploma IV, S1 dan S2. Kondisi itu disebut fenomena supply tenaga kerja yang overqualified dengan lapangan pekerjaan yang tersedia khususnya di Indonesia.
Tentu itu merupakan tugas rumah pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo-Gibran. Salah satu janji kampanyenya mengatakan bakal membuka 19 juta lapangan pekerjaan baru.
Selain program lapangan pekerjaan baru, program itu harus dibarengi dengan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni untuk memenuhi sejumlah posisi lapangan pekerjaan yang tersedia.
Secara umum, SDM di Indonesia masih disebut belum mumpuni apalagi menghadapi transformasi AI dan digitalisasi dalam dunia kerja.
Kita memasuki era revolusi industri 4.0, sebuah era otomatisasi di mana mesin bukan hanya membantu manusia untuk berpikir dan belajar, bahkan membantu untuk mengambil sebuah keputusan. Sejumlah sektor berlomba-lomba mengintegrasikan AI dalam sebuah workflow untuk meningkatkan efisiensi.
Inilah menyebabkan banyak pihak mengkhawatirkan dengan kehadiran AI. Ditambah lagi badai pemutusan hubungan kerja (PHK) terjadi di belahan dunia, berdasarkan informasi yang dimuat Kompas.com (03/07/2025), perusahaan teknologi di Amerika Serikat Microsoft akan kembali memangkas jumlah karyawannya sekitar 9.000 orang, di tahun 2024 lalu ribuan karyawan di perusahaan yang sama mengalami PHK.
Selain itu, perusahaan TikTok juga kembali melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawan yang bekerja di divisi TikTok Shop Amerika Serikat. Apakah penyebabnya akibat transformasi AI atau integrasi otomatisasi? tentu itu bukanlah jawaban penyebab tunggal dalam gelombang PHK yang terjadi.
Badai PHK juga terjadi di Indonesia, berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan, sebanyak 26 ribu pekerja mengalami PHK hinggam Mei 2025, Provinsi Jawa Tengah menyumbang angka tertinggi pekerja yang mengalami pemutusan kerja. Sementara Data yang disajikan BPJS Ketenagakerjaan menyebut nyaris 74 ribu pekerja kehilangan pekerjaannya hingga Maret 2025.
Tentu data ribuan pekerja yang kehilangan pekerjaannya terdiri dari sejumlah sektor dengan berbagai penyebab, salah satu sektor yang turut berkontribusi dari angka PHK adalah industri kendaraan listrik.
Penyebabnya bukan transformasi AI, namun penyebab tunggalnya adalah penjualan motor listrik mengalami penurunan tajam akibat ketidakjelasan kelanjutan program subsidi motor listrik pada tahun 2025.
Namun demikian, dampak teknologi terhadap ketenagakerjaan tidak bisa diabaikan. Kehadiran teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) dan otomatisasi layanan justru bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, teknologi ini meningkatkan efisiensi. Namun di sisi lain, berpotensi memperburuk situasi ketenagakerjaan.
Salah satunya dalam automasi layanan services pelanggan dapat menggantikan peran yang sebelumnya dijalankan oleh manusia dan banyak peran yang sebelumnya dilakukan oleh manusia tergantikan oleh sebuah AI. Misalnya merespons pertanyaan pelanggan, bahkan AI juga telah menjadi debt kolektor menagih ratusan pelanggan, memperingati terkait tunggakan, bekerja secara 24 jam sehari.
Tidak hanya dibidang layanan pelanggan, disebut-sebut bidang administratif, keuangan, hingga manufaktur, telah menerapkan otomatisasi. Itu menjadi ancaman dan sekaligus sebuah tantangan.
Hal ini memperkuat kekhawatiran bahwa gelombang pemutusan hubungan kerja di sejumlah sektor, terutama di perusahaan yang bergerak di bidang teknologi, tentu kejadian itu bukanlah kejadian sementara, melainkan bagian dari tren jangka panjang menuju efisiensi digital.
Semakin Adaptif dan Kompetitif
Apabila tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas tenaga kerja maka kehadiran AI justru dapat memperlebar kesenjangan sosial bahkan dapat memperburuk nasib pekerja kelas menengah ke bawah terkhusus pekerja informal.
Oleh karena itu, di era otomatisasi ini harus diiringi oleh kebijakan yang inklusif dan strategi jangka panjang. Tentu dengan menempatkan manusia sebagai pusat dari inovasi teknologi, bukan malah menempatkan manusia di nomor sekian.
Pertanyaannya adalah, apakah dengan penerapan otomatisasi berbasis AI di sejumlah sektor akan mempersempit lapangan pekerjaan?
Dalam sebuah perbincangan santai bersama Najwa Shihab, CEO perusahaan teknologi NVIDIA, Jensen Huang, menyatakan bahwa kehadiran AI bukanlah ancaman bagi manusia. Justru sebaliknya, AI hadir sebagai alat bantu yang mampu meningkatkan produktivitas manusia dalam bekerja.
Kehadiran berbagai terobosan dan fitur canggih yang inovatif sering kali membuat kita terkesima.Namun, hal ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi sebagian pihak.
Namun itu menjadi tantangan, dunia kerja juga harus mampu bertransformasi dalam wajah baru dunia digital. Gempuran AI tak habis-habisnya, integrasi dengan AI telah dilakukan di sejumlah sektor.
Kondisi itu turut menambah daftar kekhawatiran selain gempuran fitur AI yang terus berkembang dan terus berlanjut setiap harinya. Seakan-akan isu "AI akan menggantikan pekerjaan" Itu semakin nyata.
Sejatinya, kehadiran AI bukan untuk merusak kebutuhan akan pekerjaan, melainkan membentuk lanskap baru dalam dunia kerja di tengah ekosistem ekonomi digital.
Dalam ekosistem ini, kemampuan AI yang semakin canggih justru membuka peluang baru dan memberikan manfaat besar bagi perkembangan dunia digital.
AI seakan-akan menyergap dengan cepat. Tentu solusi dari sergapan itu kita harus adaptif terkait perkembangan teknologi. Dunia kerja tidak akan pernah punah, melainkan berubah. Ini adalah momentum bagaimana SDM kita dapat bertransformasi untuk perubahan yang lebih besar di masa yang akan datang.

