Konten dari Pengguna

Etika dan Integritas di Tengah Disrupsi Teknologi

Andi Hermanto
Dosen Bisnis Digital, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Negeri Makassar
6 Agustus 2025 12:15 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Etika dan Integritas di Tengah Disrupsi Teknologi
Setelah ada AI saya jadi sedih dan gelisah. Bukan apa-apa. Tulisan saya, oleh beberapa orang, dituding sebagai hasil prompt, rasanya seperti dituduh menjadi pencuri. #userstory
Andi Hermanto
Tulisan dari Andi Hermanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Etika dan Integritas, Foto: Istockphoto
zoom-in-whitePerbesar
Etika dan Integritas, Foto: Istockphoto
Sejak ada Artificial Intelligence, saya semakin sedih dan gelisah. Kenapa demikian? Karena tulisan saya semakin diragukan oleh pengikut sosial media saya.
Bagaimana tidak, banyak yang mengira semuanya hasil generate AI. Padahal penulis sangat anti mempublikasikan tulisannya hasil bantuan atau generate AI.
Sebelum lebih jauh, kita sebut dan sepakati AI adalah Akal Imitasi. Kenapa penulis menyebut ungkapan itu? Ada masalah apa penulis dengan AI. Hingga menyematkan arti AI sebagai Akal Imitasi.
Padahal kita ketahui, Imitasi sering diasosiasikan dengan palsu, kurang inovatif, bahkan Imitasi sering disebut barang murahan. Terkesan rendahan sejumlah kalangan.
Sebelumnya saya sempat membagikan kisah dari penemuan kata "imitasi" itu saat scrolling sosial media. Tiba-tiba ada edisi cetak koran terbitan media kawakan bertuliskan β€œAkal Imitasi untuk Urai Kemacetan di Jakartaβ€œ pada Sabtu, 05 Juli 2025. Hasil jepretan itu terunggah dan tampil di beranda penulis.
Tentu ungkapan Akal Imitasi sangat pantas kita sematkan ke model AI. Sebuah platform yang ramai digunakan oleh orang dalam negeri.
Mulai dari akademisi, mahasiswa, pelajar hingga Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan semangatnya memasukkan dalam kurikulum pendidikan.
Ungkapan Imitasi sebagai inisial AI yang disematkan oleh sejumlah media nasional. Tentu itu mendukung penulis untuk mengungkapkan kesedihannya.
Sebenarnya di jejaring media sosial yang kita gunakan saat ini, nyaris dipenuhi dengan konten AI. Beragam konten yang tentu itu membuat takjub sesaat.
Sebelum ada AI kita betul-betul menikmati tulisan dengan memaknai dengan penghayatan penuh. Namun saat ini tulisan-tulisan yang berseliweran diragukan, apalagi jika ditulis oleh penulis baru. Apakah tulisan itu hasil dari buah pemikiran, perenungan yang mendalam ataukah ternyata tulisan yang kita baca tersebut adalah hasil generate AI?
Kebenarannya hanya Tuhan, AI, dan penulis yang mengetahuinya. Kecurigaan itu lahir bukan dari sisi penulis. Ternyata kecurigaan itu terjadi oleh pembaca yang membaca tulisan penulis.
Kejadian serupa juga terjadi, sejumlah orang meragukan tulisan saya. Menuduh karya saya sebagai hasil prompt, seperti rasanya saya dituduh sebagai pencuri. Begitulah realitanya setelah Akal Imitasi memporakporandakan tatanan. Tragisnya stigma prompters bagi penulis pemula. Berbeda jika sudah menjadi penulis kawakan.

Tuduhan Demi Tuduhan

Ilustrasi generator gambar AI. Foto: Shutterstock
Ironisnya, tulisan dengan struktur yang baik, disebut-sebut sebagai karya dari AI. Bagaimana mungkin agar tulisan tidak dituduh sebagai hasil AI struktur atau ejaannya di buat salah.
Tentu bukan hanya itu saja.
Mana mungkin akal imitasi kita percayakan untuk menjadi diri kita. Bahkan menggantikan pikiran penulis untuk menyampaikan pesan kepada pembaca.
Sebelum ada AI kita menghabiskan banyak waktu untuk membaca, menelusuri referensi agar tulisan penulis makin kaya akan referensi. Namun sejak kehadiran Akal Imitasi, semuanya nyaris tak bernilai bagi pembaca yang meragukan sebuah karya.
Bagi pemula di era saat ini cukup berat tantangannya. Tentu berbeda bagi seorang penulis kawakan yang rekam jejaknya sudah cemerlang. Meskipun menggunakan Akal Imitasi orang bakal tak percaya.
Berbeda bagi penulis yang rekam jejaknya baru dimulai di langkah pertama, meskipun tanpa campur tangan akal imitasi. Orang kerap menduga itu buatan AI.
Kenapa orang cenderung percaya kepada seorang ilmuwan atau tokoh terkenal meskipun berbohong, sedangkan nyaris tak percaya pada ucapan kaum meskipun Ia jujur.
Contoh, jika seorang Profesor mengatakan air hangat dapat menyembuhkan banyak penyakit, orang cenderung percaya. Meskipun secara ilmiah argumentasi itu belum tentu benar. Tentu otoritas itu meningkatkan kepercayaan seseorang.

Gempuran AI, Integritas di Pertaruhakan

Itu dipertegas yang disampaikan oleh seorang psikolog asal Amerika Serikat, Edward Thorndike pada tahun 1920 tentang hello effect, reputasi seseorang dapat menciptakan persepsi positif dalam hal lain, meskipun tidak demikian.
Tentu kita dihadapkan dengan kondisi yang sulit. Sudah sejatinya kita menilai kritis sebuah karya yang ditulis bukan berdasarkan popularitas. Meskipun orang cenderung seperti itu.
Penulis kawakan dengan popularitas harus tetap mempertahankan integritas. (Makassar, 6 Agustus 2025)
Trending Now