Konten dari Pengguna

Belajar atau Terbakar? Fenomena Academic Burnout pada Siswa Indonesia

Dr. Ahkmad Fatoni, MA
Dosen UIN Jakarta
15 September 2025 19:00 WIB
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Belajar atau Terbakar? Fenomena Academic Burnout pada Siswa Indonesia
Beberapa tahun terakhir, istilah burnout sering kita dengar di dunia kerja. Banyak karyawan mengeluh lelah secara fisik dan mental akibat beban pekerjaan yang berlebihan. Namun, tahukah kita bahwa fen
Dr. Ahkmad Fatoni, MA
Tulisan dari Dr. Ahkmad Fatoni, MA tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi anak belajar matematika. Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak belajar matematika. Foto: Shutterstock
Beberapa tahun terakhir, istilah burnout sering kita dengar di dunia kerja. Banyak karyawan mengeluh lelah secara fisik dan mental akibat beban pekerjaan yang berlebihan. Namun, tahukah kita bahwa fenomena serupa juga dialami oleh anak-anak sekolah?
Sejak tingkat SMP, bahkan SD, banyak siswa mulai menunjukkan tanda-tanda academic burnout: kelelahan emosional, hilangnya motivasi belajar, hingga sikap apatis terhadap sekolah.
Fenomena ini sering kali tidak disadari oleh guru maupun orang tua. Anak yang tampak enggan belajar segera dicap malas, nakal, atau kurang disiplin. Padahal, bisa jadi ia sedang berada dalam kondisi jenuh kronis akibat tekanan akademik dan sosial yang tidak seimbang. Pertanyaannya, siapa yang bertanggung jawab mencegah burnout pada siswa? Apakah sekolah, atau orang tua?

Apa Itu Academic Burnout?

Academic burnout adalah kondisi kelelahan fisik, emosional, dan mental yang dialami siswa akibat tuntutan belajar yang terlalu berat dan berulang dalam jangka panjang. Gejalanya meliputi rasa bosan ekstrem terhadap pelajaran, menurunnya motivasi, sulit berkonsentrasi, hingga munculnya sikap sinis terhadap sekolah.
Fenomena ini bukan sekadar isu di luar negeri. Survei internal beberapa lembaga pendidikan di Indonesia menunjukkan semakin banyak siswa mengaku merasa “lelah sekolah” bahkan sebelum lulus SMA. Ketika belajar hanya dianggap sebagai beban tanpa makna, risiko burnout semakin besar.
sumber: chatgpt.com

Faktor Penyebab dari Sekolah

Sekolah sebagai institusi pendidikan sering kali tanpa sadar menjadi salah satu pemicu burnout. Beberapa hal yang patut dikritisi antara lain:

Kurikulum yang padat

Banyaknya mata pelajaran dan target kompetensi membuat siswa dipaksa belajar dalam ritme yang tinggi setiap hari, dengan sedikit ruang untuk bernapas.

Budaya kompetitif

Sistem ranking dan ujian berbasis nilai menciptakan suasana persaingan ketat. Anak yang nilainya tidak masuk 10 besar mudah merasa rendah diri.

Metode mengajar yang kaku

Guru sering dituntut menuntaskan materi ketimbang memperhatikan kebutuhan psikologis siswa. Akibatnya, pembelajaran terasa seperti “kejar setoran” alih-alih proses membangun pengetahuan.
Ilustrasi anak belajar berbagi. Foto: Chay_Tee/Shutterstock

Faktor Penyebab dari Keluarga

Di sisi lain, rumah yang seharusnya menjadi tempat istirahat dan dukungan emosional justru bisa menambah tekanan. Beberapa penyebab dari lingkungan keluarga antara lain:

Ekspektasi tinggi orang tua

Anak dituntut selalu mendapat nilai sempurna, masuk jurusan favorit, atau memenangkan berbagai lomba akademik.

Minim dukungan emosional

Alih-alih mendengarkan keluhan anak, orang tua sering membandingkan mereka dengan saudara atau teman sebaya.

Kurangnya literasi psikologi pendidikan

Banyak orang tua yang belum memahami bahwa belajar efektif membutuhkan keseimbangan antara akademik, istirahat, dan kegiatan rekreatif.

Dampak Burnout pada Siswa

Jika dibiarkan, burnout dapat memberi dampak serius, antara lain:
Inilah yang berbahaya: bangsa bisa kehilangan generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga sehat secara mental.

Solusi: Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua

Mencegah academic burnout bukan hanya tanggung jawab sekolah atau orang tua semata. Keduanya perlu bekerja sama.

Peran Sekolah

Peran Orang Tua

Kolaborasi Bersama

Guru, orang tua, dan konselor sekolah harus membentuk jejaring komunikasi yang baik. Anak tidak boleh merasa sendirian menghadapi tekanan akademik.
Fenomena academic burnout di kalangan siswa seharusnya menjadi alarm bagi dunia pendidikan Indonesia. Anak-anak kita tidak hanya butuh rapor dengan nilai tinggi, tetapi juga kesehatan mental yang terjaga. Sudah saatnya kita berhenti saling melempar tanggung jawab, dan mulai membangun ekosistem pendidikan yang berpihak pada manusia, bukan sekadar angka.
Jika tidak, kita berisiko melahirkan generasi yang pintar secara kognitif, namun rapuh secara emosional. Dan bukankah tujuan pendidikan sejati adalah membentuk manusia seutuhnya, bukan sekadar mesin pencetak nilai?
Trending Now