Konten dari Pengguna

Makam Nyai Hamdanah: Antara Doa, Ketenangan, dan Harapan Jodoh

Achmad Naja
Seorang mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Studi Agama-agama yang lebih suka menulis opini ketimbang berdebat di kolom komentar. Kadang meliput, kadang nyeletuk, tapi kadang juga ngantuk
7 November 2025 15:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Makam Nyai Hamdanah: Antara Doa, Ketenangan, dan Harapan Jodoh
Makam Nyai Hamdanah di Kudus bukan sekadar tempat ziarah, tapi ruang budaya di mana doa, cinta, dan harapan tumbuh berdampingan.
Achmad Naja
Tulisan dari Achmad Naja tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Potret Makam Nyai Hamdanah Dipenuhi Bunga Oleh Para Peziarah. Foto: Dok. Ahmad Naja
zoom-in-whitePerbesar
Potret Makam Nyai Hamdanah Dipenuhi Bunga Oleh Para Peziarah. Foto: Dok. Ahmad Naja
Di belakang Masjid Al-Aqsha, Kudus, langkah para peziarah terus berdatangan. Di antara wangi bunga dan dupa yang mengepul, Di sanalah Nyai Hamdanah dimakamkan, sosok perempuan salehah yang hingga kini diyakini membawa berkah bagi siapa pun yang datang dengan niat tulus.
Nama Nyai Hamdanah sudah lama hidup dalam ingatan masyarakat Kudus. Ia adalah putri dari Kiai Sholeh Darat, ulama besar Semarang yang juga guru dari KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari. Dalam perjalanan hidupnya, Nyai Hamdanah pernah mendampingi dua ulama besar: Syekh Nawawi al-Bantani dan KH. R. Asnawi Kudus. Dari keduanya, ia belajar tentang ilmu, kesabaran, dan cara melayani umat. Sosoknya kemudian dikenal bukan hanya karena nasabnya, tapi karena kelembutannya dalam berdakwah.
Makam Nyai Hamdanah dipenuhi Para Peziarah. Foto: Dok. Ahmad Naja
Kini, lebih dari seratus tahun setelah wafatnya, makam Nyai Hamdanah tetap ramai diziarahi. Setiap malam Jumat, peziarah datang silih berganti, ada yang membawa bunga, air doa, atau sekadar duduk diam di dekat Makam sambil menundukkan kepala. “Saya datang bukan mau minta jodoh instan,” kata Rina (27), peziarah asal Demak yang saya temui di pelataran makam. “Di sini saya merasa tenang. Rasanya seperti ngobrol dengan sosok ibu yang sabar mendengar.” Sabtu (1/11)
Menurut penelitian IAIN Kudus tahun 2023, tradisi ziarah ke makam Nyai Hamdanah telah berlangsung lebih dari seabad. Dalam pandangan antropologis, ziarah ini adalah bentuk cultural resilience, ketahanan budaya Islam Jawa yang tetap hidup di tengah arus modernitas. Di era aplikasi pencari jodoh, masyarakat Kudus justru masih percaya pada keheningan dan doa sebagai jalan mendekatkan diri pada takdir.
KH. Hasyim Nur, salah satu tokoh agama di Kauman Kudus, menegaskan bahwa ziarah ini bukan bentuk pemujaan, melainkan perantara doa. “Orang Jawa itu berdoa kepada Allah lewat wasilah orang saleh. Mereka percaya, keberkahan lahir dari niat yang baik,” ujarnya. Ia menambahkan, kehadiran makam Nyai Hamdanah juga menjadi pengingat bahwa perempuan punya peran penting dalam sejarah keislaman Nusantara. tak hanya di rumah, tapi juga di medan dakwah dan pendidikan. Sabtu (1/11)
Suasana Sore Di Komplek Menara Kudus. Foto: Dok. Ilham Aliansyah
Suasana makam sore itu terasa damai. Pohon sawo tua menaungi pelataran, sementara suara tahlil terdengar lirih dari kejauhan. Seorang ibu paruh baya dari Jepara tampak menabur bunga di atas Makam. “Saya datang bersama anak saya, Biar dia belajar sabar, belajar bahwa doa tidak selalu harus cepat dikabulkan," ujarnya saat saya wawancarai, Sabtu (1/11).
Bagi masyarakat Kudus, ziarah ke makam bukan sekadar ritual spiritual, tapi cara menjaga sambung roso antara yang hidup dan yang sudah tiada. Dalam budaya Jawa, hubungan itu tidak pernah benar-benar putus. Setiap doa yang terucap menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini, antara manusia dan Tuhannya.
Apakah benar berziarah ke makam Nyai Hamdanah bisa mempercepat jodoh? Tak ada yang tahu pasti. Namun di tengah dunia yang kian tergesa, mungkin justru di tempat tenang seperti inilah manusia bisa belajar arti sabar. Bahwa cinta, seperti juga rezeki, datang pada waktu yang ditentukan, dan bahwa doa, selama diucapkan dengan tulus, tak pernah hilang di jalan.
Tak ada yang tahu di mana takdir bertemu, tapi di tempat setenang makam Nyai Hamdanah, orang belajar bahwa doa yang tulus tak pernah hilang arah, hanya menunggu waktu untuk dijawab.
Trending Now