Konten dari Pengguna

Lingkungan Ideal Bagi Anak

Ahmad Septian Said
Guru SMA Negeri 90 Jakarta dan Alumnus Universitas Pendidikan Indonesia.
26 Juli 2025 9:23 WIB
Β·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Lingkungan Ideal Bagi Anak
Ruang-ruang anak yang mestinya mencerminkan keamanan bagi mereka, justru seolah kontraproduktif, ruang itu malah menjadi pengancam, perusak bahkan lingkungan yang tidak suportif.
Ahmad Septian Said
Tulisan dari Ahmad Septian Said tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Anak sehat dan bahagia. Foto: Sorapop Udomsri/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Anak sehat dan bahagia. Foto: Sorapop Udomsri/Shutterstock
Beberapa hari yang lalu, saya melihat seorang murid dimarahi habis-habisan oleh orang tuanya, bahkan apa yang diutarakan oleh orang tuanya itu dalam pandangan saya sudah melewati batas marah untuk mendidik. Lebih kepada menghina, merendahkan martabat, anaknya sendiri. Memang bukan tanpa sebab, dan tanpa dapat saya sebutkan siapa, yang jelas murid saya ini melakukan kesalahan, suatu pelanggaran tata tertib sekolah yang menyebabkan sekolah memanggil orang tuanya.
Saya melihat, betapa marah orang tuanya, kesal dan menggebu-gebu seakan meluapkan emosinya saat itu, di depan wali kelasnya dan beberapa guru yang lain. Keadaan itu mengingatkan saya pada bagaimana posisi anak dalam lingkungan, ia merupakan kelompok paling rentan. Padahal kalau menggunakan kacamata perlindungan anak, justru para orang dewasa harus menempatkan posisi sebagai pelindung.
Ruang-ruang anak yang mestinya mencerminkan keamanan bagi mereka, justru seolah kontraproduktif, ruang itu malah menjadi pengancam, perusak bahkan lingkungan yang tidak suportif dalam proses pendidikannya. Seringkali orang tua dan guru melihat kesalahan anak sebagai bentuk tunggal, padahal perilaku anak adalah hasil dari pembentukan lingkungannya, proses melihat, mendengar dan menentukan sikap itu dilandasi atas pengalamannya.
Sungguh bukan tindakan yang bijak jika orang-orang dewasa memberikan hukuman dalam arti ancaman, sebab hal itu tidak akan menyentuh akar dari sebab anak-anak melakukan kesalahan. Apalagi menjatuhkan hukuman fisik yang tidak sejalan dengan tujuan-tujuan pendidikan.

Menciptakan Lingkungan Aman

Bagi anak-anak rumah adalah ruang pertama yang mereka harapkan menjadi tempat berlindung dari setiap ancaman, tempat bertanya dari pengalaman baru yang ia temukan bersama teman-temannya. Mestinya kondisi rumah memenuhi unsur-unsur kebutuhan anak, sebab hal itu adalah konsekuensi yang harus ditanggung orang tua. Salah satu di antaranya adalah pendidikan.
Sekalipun sekolah adalah lembaga pendidikan, namun proses itu tidak boleh dilepaskan sepenuhnya oleh orang tua. Sejauh pengalaman saya, anak-anak yang β€˜bermasalah’ di sekolah biasanya juga terdapat masalah keluarga, minimal mereka yang harus mengalami broken home. Pertanyaannya adalah, siapa yang dapat dan mampu masuk ke dalam persoalan keluarga?
Jawabannya adalah ruang kedua yang menurut anak dianggap sebagai tempat aman setelah rumah, yakni sekolah. Tentu sekolah akan melontarkan jawaban umum, bahwa tujuan pendidikan adalah mencerdaskan murid, padahal sebenarnya seorang murid tidak dapat dipisahkan dari pola asuh. Sehingga keterlibatan guru dalam berkomunikasi dengan orang tua sangatlah urgen.
Lingkungan selanjutnya adalah masyarakat, seorang anak akan memiliki teman yang berasal dari masyarakat dimana ia tinggal, maka peran masyarakat untuk menjadi ruang aman juga tak kalah penting. Menurut saya, kondisi masyarakat juga turut ditentukan oleh dua hal, peran pemerintah dan tokoh publik.
Peran pemerintah dalam menjamin kesejahteraan masyarakat berpengaruh signifikan terhadap terciptanya lingkungan yang kondusif, begitupun tokoh publik yang memberikan contoh perilaku positif alih-alih mempertontonkan kekerasan, bullying bahkan mengajak masyarakat melakukan tindakan-tindakan destruktif.

Media Pendidikan

Jika kita berbicara tentang anak, maka media turut juga menjadi lingkungan perkembangannya, sebab mereka saat ini hidup bersama dengan media yang dengan mudah digenggam. Tontonan dan aktifitas media mampu mendongkrak peran orang tua dan guru sebagai pendidik. Coba saja, misalnya jika anak-anak ditanya, mereka akan lebih mendengarkan siapa, antara tokoh yang mereka ikuti di media sosial atau perkataan orang tuanya?
Hal itu sungguh dilematis, di sisi lain sebagai manusia yang hidup di tengah kepungan teknologi, mereka memang mau tak mau mesti beradaptasi dengan perkembangan zaman. Tetapi di sisi lain kadang kala teknologi dalam hal ini media sosial telah lepas dari perannya sebagai lingkungan pendidik. Tersedianya konten non edukatif, kekerasan hingga berita hoax merupakan bukti yang nyata.
Maka dari itu, tugas kita selaku orang dewasa sangatlah berat, namun bukan berarti tidak mungkin. Pertama, orang tua haruslah menjadi muara bagi pertanyaan-pertanyaan anak, tidak benar jika anak-anak malu, takut, bahkan enggan bertanya kepada orang tuanya. Sebab, mereka nantinya akan mencari alternatif jawaban melalui teman, orang lain yang belum tentu dapat bertanggung jawab terhadap kehidupannya.
Kedua, anak-anak harus merasa sekolah adalah lebih dari sekedar tempat belajar, yakni tempat yang nyaman untuk menjadi seorang manusia, tempat terlatihnya komunikasi dengan teman sebaya, dan tempat membangun kesadaran. Maka, seharusnya pendekatan dialogis mesti menjadi ciri utama dan sebuah keniscayaan bagi sekolah. Bahkan, sekolah memungkinkan menjadi titik temu antara harapan orang tua dan anak, meredefinisikan keluarga tanpa berupaya mencampuri persoalan keluarga.
Ketiga, unsur masyarakat, yang tidak kalah penting juga, merupakan tempat dimana anak-anak menemukan hal-hal baru. Sebagai bagian dari masyarakat, kita semua turut andil dalam lingkungan yang besar ini, dari mulai produksi konten, komentar, bahkan menjadikan anak-anak sebagai komoditas demi keuntungan ekonomi semata.
Setiap anak mempunyai hak untuk bertumbuh menjadi manusia yang sehat, maka sediakanlah ruang yang bersih, dan setiap anak juga berhak untuk berkembang maka sediakanlah ruang yang aman. Orang-orang dewasalah yang harus memastikan itu, bukan sebaliknya, anak-anak yang dipaksa mengalah dengan kepentingan-kepentingan.
Trending Now