Konten dari Pengguna

Perpisahan dan Pelajaran Hidup yang Menguatkan

Ahmat Jabir
Sarjana Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UMSurabaya
13 Agustus 2025 11:37 WIB
ยท
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Perpisahan dan Pelajaran Hidup yang Menguatkan
Perpisahan merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari, bagian dari kehidupan di dunia. Seperti pepatah mengatakan bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan.
Ahmat Jabir
Tulisan dari Ahmat Jabir tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
https://drive.google.com/file/d/1_LfyPTJW5VQkEP3igM-7VmnE-5TQYF6m/view?usp=drivesdk
zoom-in-whitePerbesar
https://drive.google.com/file/d/1_LfyPTJW5VQkEP3igM-7VmnE-5TQYF6m/view?usp=drivesdk
Perpisahan merupakan sebuah keniscayaan yang tidak dapat dihindari, bagian dari kehidupan di dunia. Seperti pepatah mengatakan bahwa setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Ia hadir tanpa memedulikan waktu, tempat, atau kesiapan hati. Perpisahan hadir dalam berbagai bentuk: berpisah dengan keluarga, teman-teman, atau bahkan dengan masa yang tidak akan pernah kembali.
Apakah hal tersebut menyedihkan? Ya, tentu. Bagi sebagian orang, perpisahan adalah sesuatu yang menyedihkan, terlebih jika berpisah dengan orang yang disayangi. Meskipun menyedihkan, perpisahan hanyalah salah satu bentuk transisi dari satu fase kehidupan ke fase berikutnya. Di balik rasa sedih, tentu terdapat pembelajaran, pertumbuhan, dan kemandirian diri.
Belajar untuk Merelakan
Terjadinya perpisahan mengajarkan bahwa tidak selamanya kita akan bersama, dan pada akhirnya kita perlu belajar merelakan kepergian. Merelakan adalah bentuk pengakuan bahwa tidak semua hal dalam hidup ini dapat kita kendalikan. Ada hal-hal yang datang hanya untuk singgah sementara, memberi warna, lalu pergi sesuai takdirnya.
Belajar merelakan bukan semata-mata soal kehilangan, tetapi juga soal pertumbuhan. Setiap yang pergi akan meninggalkan ruang kosong yang dapat diisi oleh pengalaman baru. Dari ruang itu, kita menyadari bahwa kekuatan bukan diukur dari seberapa erat kita menggenggam, melainkan dari seberapa ikhlas kita melepaskan. Setiap perpisahan selalu memberi kesempatan untuk menemukan versi diri yang lebih dewasa dan bijaksana.
Membangun Ketahanan Emosional
Pada dasarnya, kita membangun hubungan emosional yang kuat dengan orang lain, tempat, atau rutinitas tertentu. Saat hubungan tersebut terputus, kita akan mengalami proses penyesuaian diri. Pengalaman berpisah, baik dengan keluarga, teman, maupun lingkungan, memaksa kita keluar dari pola yang sama.
Proses ini menuntut kita mengembangkan keterampilan beradaptasi, mengelola emosi, dan memaknai ulang hubungan yang pernah ada. Dengan kata lain, berpisah bukan hanya soal kehilangan, tetapi juga tentang melatih ketahanan emosional kita.
Transformasi Melalui Perpisahan
Banyak orang sukses lahir dari keberanian untuk berpisah. Teman saya, yang meninggalkan kampung halaman demi melanjutkan studi di Kota Surabaya, menghadapi banyak tantangan. Namun, justru tantangan itulah yang menumbuhkan kemandirian dan memperluas wawasannya.
Dalam dunia kerja, berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain kerap dijadikan batu loncatan untuk perkembangan karier yang lebih baik. Transformasi ini tidak terjadi secara instan. Ia memerlukan waktu, kesabaran, serta kesediaan untuk belajar dari pengalaman, termasuk pengalaman yang menyedihkan.
Penutup: Perpisahan sebagai Guru Kehidupan
Pada akhirnya, perpisahan adalah guru kehidupan. Ia mengajarkan kita bahwa setiap akhir adalah awal dari sesuatu yang baru. Ketika kita memandang perpisahan sebagai peluang, bukan ancaman, maka kita membuka jalan bagi pertumbuhan diri yang berkelanjutan. Berpisah memang menyedihkan, tetapi dari situlah kita belajar arti bertahan, beradaptasi, dan menjadi versi terbaik dari diri kita.
Trending Now