Konten dari Pengguna

Weton Jum'at Legi sebagai Kompas Geopolitik Indonesia

Aji Cahyono
Direktur Eksekutif Indonesian Coexistence, Master Bidang Kajian Timur Tengah UIN Sunan Kalijaga
1 November 2025 22:00 WIB
Ā·
waktu baca 6 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Weton Jum'at Legi sebagai Kompas Geopolitik Indonesia
Pembacaan weton jum'at legi sebagai warisan tradisi Jawa dan pembacaan geopolitik Indonesia yang mencerminkan watak bangsa maritim, religius, dan humanis yang berakar kuat di bumi Nusantara.
Aji Cahyono
Tulisan dari Aji Cahyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Kalender. Foto: pixabay.com dari Kumparan.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Kalender. Foto: pixabay.com dari Kumparan.
Dalam tradisi Jawa, weton bukan hanya menyoal hitungan hari kelahiran, melainkan simbol keseimbangan kosmos yang menuntun manusia memahami posisi dirinya dalam jagad raya. Weton adalah sistem kalender yang menyatukan dua siklus waktu — mingguan (Senin hingga Minggu) dan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) yang menghasilkan 35 kombinasi yang dipercaya merefleksikan karakter dan takdir seseorang. Di antara semua kombinasi itu, Jum’at Legi sering dianggap memiliki makna paling sakral.
Namun, di luar konteks spiritual individual, weton Jum’at Legi dapat pula dibaca sebagai metafora geopolitik Indonesia—sebuah panduan kosmologis yang mencerminkan watak bangsa maritim, religius, dan humanis yang berakar kuat di bumi namun berpandangan luas ke dunia. Tulisan ini mencoba menafsirkan ā€œJum’at Legiā€ sebagai kompas geopolitik Nusantara, dengan memadukan simbolisme kosmologi Jawa dan prinsip realpolitik Sukarno dalam membangun posisi Indonesia di antara dua kutub global.

Jum’at: Hari Keberkahan dan Diplomasi Kemanusiaan

Dalam Islam, hari Jum’at adalah ā€œsayyidul ayyamā€ — rajanya hari. Ia menjadi waktu pertemuan manusia dengan Tuhan secara kolektif melalui shalat Jum’at, dan melambangkan kesadaran sosial dan spiritual yang berpadu. Dalam konteks geopolitik, makna ini bisa ditarik menjadi prinsip dasar Indonesia dalam berinteraksi dengan dunia: politik luar negeri yang berakar pada etika kemanusiaan dan spiritualitas.
Bung Karno pernah menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia harus berasaskan ā€œpolitik luar negeri yang bebas dan aktifā€, yang berarti tidak tunduk pada blok manapun, tetapi aktif memperjuangkan keadilan dunia. Semangat itu sesungguhnya paralel dengan makna hari Jum’at sebagai hari kesetaraan, solidaritas, dan pembaruan ruhani.
Jika kita memetakan posisi Indonesia dalam percaturan global, maka ā€œJum’atā€ dapat diibaratkan sebagai energi kosmis diplomasi perdamaian — diplomasi yang tidak agresif tetapi berwibawa, yang mencari titik temu di tengah perbedaan. Di sinilah politik luar negeri Indonesia menemukan jati dirinya: spiritual-humanistik, bukan hegemonik.
Dengan demikian, ā€œJum’atā€ dalam weton Jum’at Legi bisa ditafsirkan sebagai simbol geopolitik etis, yakni kemampuan Indonesia menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan moralitas. Dalam konteks kontemporer, ini terlihat dari peran Indonesia dalam isu-isu global seperti Palestina, Myanmar, perubahan iklim, dan keamanan maritim Indo-Pasifik — isu yang ditangani dengan semangat kemanusiaan, bukan kalkulasi semata.

Legi: Kelembutan yang Mengikat Dunia

Ilustrasi kalender. Foto: Kwangmoozaa/Shutterstock
Dalam siklus pasaran Jawa, Legi identik dengan energi manis, halus, dan damai. Warna simboliknya adalah putih kekuningan — lambang kesucian dan harmoni. Legi melambangkan kekuatan diplomasi yang bersandar pada rasa, bukan sekadar nalar.
Apabila ā€œJum’atā€ adalah simbol spiritualitas dan tanggung jawab sosial, maka ā€œLegiā€ adalah jiwa budaya dan rasa Nusantara yang menjadi modal lunak (soft power) Indonesia. Kombinasi keduanya menghasilkan karakter politik luar negeri yang khas: berdaulat namun empatik, kuat namun lembut.
Indonesia sering dipandang dunia sebagai ā€œjembatan peradabanā€ antara Timur dan Barat, Islam dan demokrasi, globalisasi dan kearifan lokal. Watak Legi ini terlihat nyata dalam cara Indonesia mengedepankan musyawarah, gotong royong, dan dialog di forum internasional — dari Konferensi Asia-Afrika 1955, Gerakan Non-Blok, hingga ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang menolak rivalitas militer dan menekankan kerja sama pembangunan.
Dalam bingkai ā€œLegiā€, geopolitik bukan soal siapa yang berkuasa, melainkan bagaimana rasa dan harmoni sosial dapat menjadi instrumen politik global. Indonesia memanfaatkan kebudayaan, solidaritas, dan diplomasi publik sebagai cara membangun pengaruh yang tidak memaksa, melainkan mengundang kepercayaan. Itulah hakikat geopolitik rasa — geopolitik yang manis, bukan mengancam.

Weton sebagai Geopolitik Keseimbangan: Dari Kosmologi Jawa ke Strategi Indo-Pasifik

Dalam pandangan Jawa, manusia yang lahir di weton Jum’at Legi sering dipandang memiliki aura peneduh, pemimpin yang menenangkan, dan pembawa keseimbangan. Karakter ini sejajar dengan posisi geografis dan kultural Indonesia sendiri. Terletak di antara dua samudra dan dua benua, Indonesia adalah pusat gravitasi Indo-Pasifik, sekaligus simpul antara dunia Islam dan Asia Timur, antara global utara dan selatan.
Dari perspektif geopolitik klasik, posisi ini mengandung risiko sekaligus peluang: Indonesia harus pandai menyeimbangkan diri agar tidak terjebak dalam arus perebutan pengaruh. Di sinilah makna weton Jum’at Legi menemukan relevansinya, ia menjadi falsafah keseimbangan geopolitik, sebagaimana falsafah Jawa ā€œmemayu hayuning bawanaā€ menjaga keindahan dan keselamatan dunia.
Weton bukan ramalan fatalistik, melainkan kompas moral dan etis. Dalam konteks negara, ia menjadi panduan bagaimana Indonesia mengarahkan langkah politik globalnya: tidak ekstrem ke kiri atau kanan, tidak tunduk pada kekuatan besar, melainkan berdiri di tengah dengan kemandirian yang beretika. Prinsip ini hidup dalam konsep Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Secara metaforis, Trisakti adalah manifestasi geopolitik dari weton Jum’at Legi: berdaulat (Jum’at – tanggung jawab spiritual dan sosial), berdikari (Legi – kelembutan yang menumbuhkan kemandirian), dan berkepribadian (sintesis keduanya dalam rasa Nusantara).
Ketika dunia hari ini kembali dilanda ketegangan geopolitik — rivalitas AS-Tiongkok, konflik Timur Tengah, dan disrupsi teknologi — Indonesia dituntut meneguhkan arah geopolitik yang berpihak pada perdamaian dan kesejahteraan global. Dalam konteks ini, membaca ulang simbol ā€œJum’at Legiā€ memberi inspirasi strategi yang khas Nusantara.
Pertama, ā€œJum’atā€ mengajarkan dimensi spiritual geopolitik. Artinya, kebijakan luar negeri Indonesia harus berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan universal: keadilan, solidaritas, dan kepercayaan antarbangsa. Diplomasi bukan sekadar perundingan, tetapi ibadah sosial untuk menjaga keseimbangan dunia. Kedua, ā€œLegiā€ memberi pedoman taktis: gunakan diplomasi yang lembut namun cerdas, bangun jejaring kultural dan ekonomi yang saling menguntungkan.
Dalam politik Indo-Pasifik, strategi ini terlihat dalam pendekatan ā€œASEAN centralityā€ yang menolak blok militer, serta mengedepankan kerja sama konektivitas, kebudayaan, dan perdagangan yang adil. Dengan kata lain, geopolitik Jum’at Legi adalah geopolitik harmoni — bukan dominasi. Ia menolak logika perang dingin baru, menolak eksploitasi sumber daya atas nama pembangunan, dan menolak reduksi peradaban menjadi sekadar pasar.

Relevansi untuk Indonesia Hari Ini

Di tengah derasnya arus globalisasi, disrupsi teknologi, dan ancaman krisis multidimensi, Indonesia memerlukan kompas geopolitik yang bukan hanya strategis, tapi juga berjiwa. ā€œJum’at Legiā€ mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan semata senjata atau ekonomi, tetapi kearifan menjaga keseimbangan antar dimensi kehidupan: spiritual, sosial, ekologis, dan politik.
Dalam konteks politik luar negeri, pendekatan ini dapat diterjemahkan menjadi:1) Diplomasi spiritual-humanistik, yang memprioritaskan isu kemanusiaan global; 2) Ekonomi kerakyatan global, yang menempatkan keadilan sosial sebagai orientasi perdagangan internasional; 3) Ekologisme maritim, yang memandang laut bukan sekadar sumber daya, melainkan ruang suci yang harus dijaga keseimbangannya; 4) Kepemimpinan kultural, yang menampilkan Indonesia sebagai bangsa yang memimpin dengan rasa, bukan dengan kuasa.
Dengan cara ini, Indonesia tidak perlu menjadi adidaya untuk berpengaruh, sebagaimana seseorang yang lahir pada Jum’at Legi tidak perlu berteriak untuk didengar — cukup dengan ketenangan, kebijaksanaan, dan aura kehadiran yang menenangkan.
Bila dunia hari ini penuh konflik, maka Indonesia dapat memposisikan diri sebagai ā€œJum’at Legi-nya duniaā€ — menjadi ruang tengah yang membawa kesejukan dan harmoni. Kosmologi Jawa tidak dimaksudkan untuk menggantikan sains politik, tetapi memperkaya cara pandang kita terhadap geopolitik dengan dimensi rasa dan spiritualitas yang selama ini hilang dari perhitungan realpolitik modern.
Dalam weton Jum’at Legi, kita menemukan jati diri geopolitik Nusantara: 1) Jum’at: simbol tanggung jawab spiritual dan sosial global; 2) Legi: simbol kelembutan dan rasa dalam diplomasi. Keduanya berpadu menjadi kompas moral dan strategis bagi Indonesia untuk menavigasi dunia yang semakin kompleks.
Dengan demikian, ketika kita berbicara tentang ā€œgeopolitik Indonesiaā€, kita tidak hanya berbicara tentang peta dan kekuasaan, tetapi juga tentang jiwa dan keseimbangan — dalam falsafah Jawa selalu mengingatkan: ā€œSapa sing ngerti rasa, bakal ngerti jagad.ā€ Maka, memahami weton Jum’at Legi bukan hanya mengenal asal-usul diri, tetapi juga menemukan arah bangsa: menjadi peneduh dunia di tengah panasnya pertarungan global.
Itulah kompas geopolitik Indonesia — manis seperti Legi, sakral seperti Jum’at.
Trending Now