Konten dari Pengguna
Weton Jum'at Legi sebagai Kompas Geopolitik Indonesia
1 November 2025 22:00 WIB
Ā·
waktu baca 6 menit
Kiriman Pengguna
Weton Jum'at Legi sebagai Kompas Geopolitik Indonesia
Pembacaan weton jum'at legi sebagai warisan tradisi Jawa dan pembacaan geopolitik Indonesia yang mencerminkan watak bangsa maritim, religius, dan humanis yang berakar kuat di bumi Nusantara.Aji Cahyono
Tulisan dari Aji Cahyono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam tradisi Jawa, weton bukan hanya menyoal hitungan hari kelahiran, melainkan simbol keseimbangan kosmos yang menuntun manusia memahami posisi dirinya dalam jagad raya. Weton adalah sistem kalender yang menyatukan dua siklus waktu ā mingguan (Senin hingga Minggu) dan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon) yang menghasilkan 35 kombinasi yang dipercaya merefleksikan karakter dan takdir seseorang. Di antara semua kombinasi itu, Jumāat Legi sering dianggap memiliki makna paling sakral.
Namun, di luar konteks spiritual individual, weton Jumāat Legi dapat pula dibaca sebagai metafora geopolitik Indonesiaāsebuah panduan kosmologis yang mencerminkan watak bangsa maritim, religius, dan humanis yang berakar kuat di bumi namun berpandangan luas ke dunia. Tulisan ini mencoba menafsirkan āJumāat Legiā sebagai kompas geopolitik Nusantara, dengan memadukan simbolisme kosmologi Jawa dan prinsip realpolitik Sukarno dalam membangun posisi Indonesia di antara dua kutub global.
Jumāat: Hari Keberkahan dan Diplomasi Kemanusiaan
Dalam Islam, hari Jumāat adalah āsayyidul ayyamā ā rajanya hari. Ia menjadi waktu pertemuan manusia dengan Tuhan secara kolektif melalui shalat Jumāat, dan melambangkan kesadaran sosial dan spiritual yang berpadu. Dalam konteks geopolitik, makna ini bisa ditarik menjadi prinsip dasar Indonesia dalam berinteraksi dengan dunia: politik luar negeri yang berakar pada etika kemanusiaan dan spiritualitas.
Bung Karno pernah menegaskan bahwa politik luar negeri Indonesia harus berasaskan āpolitik luar negeri yang bebas dan aktifā, yang berarti tidak tunduk pada blok manapun, tetapi aktif memperjuangkan keadilan dunia. Semangat itu sesungguhnya paralel dengan makna hari Jumāat sebagai hari kesetaraan, solidaritas, dan pembaruan ruhani.
Jika kita memetakan posisi Indonesia dalam percaturan global, maka āJumāatā dapat diibaratkan sebagai energi kosmis diplomasi perdamaian ā diplomasi yang tidak agresif tetapi berwibawa, yang mencari titik temu di tengah perbedaan. Di sinilah politik luar negeri Indonesia menemukan jati dirinya: spiritual-humanistik, bukan hegemonik.
Dengan demikian, āJumāatā dalam weton Jumāat Legi bisa ditafsirkan sebagai simbol geopolitik etis, yakni kemampuan Indonesia menjaga keseimbangan antara kekuasaan dan moralitas. Dalam konteks kontemporer, ini terlihat dari peran Indonesia dalam isu-isu global seperti Palestina, Myanmar, perubahan iklim, dan keamanan maritim Indo-Pasifik ā isu yang ditangani dengan semangat kemanusiaan, bukan kalkulasi semata.
Legi: Kelembutan yang Mengikat Dunia
Dalam siklus pasaran Jawa, Legi identik dengan energi manis, halus, dan damai. Warna simboliknya adalah putih kekuningan ā lambang kesucian dan harmoni. Legi melambangkan kekuatan diplomasi yang bersandar pada rasa, bukan sekadar nalar.
Apabila āJumāatā adalah simbol spiritualitas dan tanggung jawab sosial, maka āLegiā adalah jiwa budaya dan rasa Nusantara yang menjadi modal lunak (soft power) Indonesia. Kombinasi keduanya menghasilkan karakter politik luar negeri yang khas: berdaulat namun empatik, kuat namun lembut.
Indonesia sering dipandang dunia sebagai ājembatan peradabanā antara Timur dan Barat, Islam dan demokrasi, globalisasi dan kearifan lokal. Watak Legi ini terlihat nyata dalam cara Indonesia mengedepankan musyawarah, gotong royong, dan dialog di forum internasional ā dari Konferensi Asia-Afrika 1955, Gerakan Non-Blok, hingga ASEAN Outlook on the Indo-Pacific (AOIP) yang menolak rivalitas militer dan menekankan kerja sama pembangunan.
Dalam bingkai āLegiā, geopolitik bukan soal siapa yang berkuasa, melainkan bagaimana rasa dan harmoni sosial dapat menjadi instrumen politik global. Indonesia memanfaatkan kebudayaan, solidaritas, dan diplomasi publik sebagai cara membangun pengaruh yang tidak memaksa, melainkan mengundang kepercayaan. Itulah hakikat geopolitik rasa ā geopolitik yang manis, bukan mengancam.
Weton sebagai Geopolitik Keseimbangan: Dari Kosmologi Jawa ke Strategi Indo-Pasifik
Dalam pandangan Jawa, manusia yang lahir di weton Jumāat Legi sering dipandang memiliki aura peneduh, pemimpin yang menenangkan, dan pembawa keseimbangan. Karakter ini sejajar dengan posisi geografis dan kultural Indonesia sendiri. Terletak di antara dua samudra dan dua benua, Indonesia adalah pusat gravitasi Indo-Pasifik, sekaligus simpul antara dunia Islam dan Asia Timur, antara global utara dan selatan.
Dari perspektif geopolitik klasik, posisi ini mengandung risiko sekaligus peluang: Indonesia harus pandai menyeimbangkan diri agar tidak terjebak dalam arus perebutan pengaruh. Di sinilah makna weton Jumāat Legi menemukan relevansinya, ia menjadi falsafah keseimbangan geopolitik, sebagaimana falsafah Jawa āmemayu hayuning bawanaā menjaga keindahan dan keselamatan dunia.
Weton bukan ramalan fatalistik, melainkan kompas moral dan etis. Dalam konteks negara, ia menjadi panduan bagaimana Indonesia mengarahkan langkah politik globalnya: tidak ekstrem ke kiri atau kanan, tidak tunduk pada kekuatan besar, melainkan berdiri di tengah dengan kemandirian yang beretika. Prinsip ini hidup dalam konsep Trisakti Bung Karno: berdaulat dalam politik, berdikari dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Secara metaforis, Trisakti adalah manifestasi geopolitik dari weton Jumāat Legi: berdaulat (Jumāat ā tanggung jawab spiritual dan sosial), berdikari (Legi ā kelembutan yang menumbuhkan kemandirian), dan berkepribadian (sintesis keduanya dalam rasa Nusantara).
Ketika dunia hari ini kembali dilanda ketegangan geopolitik ā rivalitas AS-Tiongkok, konflik Timur Tengah, dan disrupsi teknologi ā Indonesia dituntut meneguhkan arah geopolitik yang berpihak pada perdamaian dan kesejahteraan global. Dalam konteks ini, membaca ulang simbol āJumāat Legiā memberi inspirasi strategi yang khas Nusantara.
Pertama, āJumāatā mengajarkan dimensi spiritual geopolitik. Artinya, kebijakan luar negeri Indonesia harus berpijak pada nilai-nilai kemanusiaan universal: keadilan, solidaritas, dan kepercayaan antarbangsa. Diplomasi bukan sekadar perundingan, tetapi ibadah sosial untuk menjaga keseimbangan dunia. Kedua, āLegiā memberi pedoman taktis: gunakan diplomasi yang lembut namun cerdas, bangun jejaring kultural dan ekonomi yang saling menguntungkan.
Dalam politik Indo-Pasifik, strategi ini terlihat dalam pendekatan āASEAN centralityā yang menolak blok militer, serta mengedepankan kerja sama konektivitas, kebudayaan, dan perdagangan yang adil. Dengan kata lain, geopolitik Jumāat Legi adalah geopolitik harmoni ā bukan dominasi. Ia menolak logika perang dingin baru, menolak eksploitasi sumber daya atas nama pembangunan, dan menolak reduksi peradaban menjadi sekadar pasar.
Relevansi untuk Indonesia Hari Ini
Di tengah derasnya arus globalisasi, disrupsi teknologi, dan ancaman krisis multidimensi, Indonesia memerlukan kompas geopolitik yang bukan hanya strategis, tapi juga berjiwa. āJumāat Legiā mengingatkan bahwa kekuatan sejati bukan semata senjata atau ekonomi, tetapi kearifan menjaga keseimbangan antar dimensi kehidupan: spiritual, sosial, ekologis, dan politik.
Dalam konteks politik luar negeri, pendekatan ini dapat diterjemahkan menjadi:1) Diplomasi spiritual-humanistik, yang memprioritaskan isu kemanusiaan global; 2) Ekonomi kerakyatan global, yang menempatkan keadilan sosial sebagai orientasi perdagangan internasional; 3) Ekologisme maritim, yang memandang laut bukan sekadar sumber daya, melainkan ruang suci yang harus dijaga keseimbangannya; 4) Kepemimpinan kultural, yang menampilkan Indonesia sebagai bangsa yang memimpin dengan rasa, bukan dengan kuasa.
Dengan cara ini, Indonesia tidak perlu menjadi adidaya untuk berpengaruh, sebagaimana seseorang yang lahir pada Jumāat Legi tidak perlu berteriak untuk didengar ā cukup dengan ketenangan, kebijaksanaan, dan aura kehadiran yang menenangkan.
Bila dunia hari ini penuh konflik, maka Indonesia dapat memposisikan diri sebagai āJumāat Legi-nya duniaā ā menjadi ruang tengah yang membawa kesejukan dan harmoni. Kosmologi Jawa tidak dimaksudkan untuk menggantikan sains politik, tetapi memperkaya cara pandang kita terhadap geopolitik dengan dimensi rasa dan spiritualitas yang selama ini hilang dari perhitungan realpolitik modern.
Dalam weton Jumāat Legi, kita menemukan jati diri geopolitik Nusantara: 1) Jumāat: simbol tanggung jawab spiritual dan sosial global; 2) Legi: simbol kelembutan dan rasa dalam diplomasi. Keduanya berpadu menjadi kompas moral dan strategis bagi Indonesia untuk menavigasi dunia yang semakin kompleks.
Dengan demikian, ketika kita berbicara tentang āgeopolitik Indonesiaā, kita tidak hanya berbicara tentang peta dan kekuasaan, tetapi juga tentang jiwa dan keseimbangan ā dalam falsafah Jawa selalu mengingatkan: āSapa sing ngerti rasa, bakal ngerti jagad.ā Maka, memahami weton Jumāat Legi bukan hanya mengenal asal-usul diri, tetapi juga menemukan arah bangsa: menjadi peneduh dunia di tengah panasnya pertarungan global.
Itulah kompas geopolitik Indonesia ā manis seperti Legi, sakral seperti Jumāat.

