Konten dari Pengguna
Paradigma Indonesia: Dari Pertumbuhan ke Regenerasi Sosial-Ekologis
Pemerhati Kebijakan Sektor Publik. Development and Environmental Policy Analyst. Email: [email protected]
26 Mei 2025 22:13 WIB
·
waktu baca 5 menitDiperbarui 6 Juni 2025 18:20 WIB

Kiriman Pengguna
Paradigma Indonesia: Dari Pertumbuhan ke Regenerasi Sosial-Ekologis
Paradigma Indonesia: Pembangunan Regeneratif menuju Indonesia Emas 2045. Kerangka pikir dan kesadaran membangun negara untuk mencapai masa depan bangsa yang sejahtera berkelanjutan - lintas generasi.Karmaji
Tulisan dari Karmaji tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Beberapa waktu lalu, anak saya yang masih duduk di bangku sekolah menengah, tiba-tiba bertanya saat makan malam:
"Ayah, nanti tahun 2045 Indonesia jadi seperti apa ya?"
Saya terdiam sejenak. Di benak saya, bayangan tentang smart cities, kendaraan listrik otonom, pesawat terbang supersonik, wisata luar angkasa, dan teknologi AI seharusnya muncul. Tapi yang justru muncul adalah: krisis air, suhu yang makin panas, desa-desa tenggelam di pesisir, dan konflik sosial akibat ketimpangan.
Saya sadar, kita tidak sedang kekurangan visi maupun talenta — tapi mungkin kita kekurangan keberanian untuk mengubah arah pembangunan.
Paradigma Lama yang Membuat Kita Terseok
Selama berdekade-dekade, pembangunan Indonesia—dan banyak negara lainnya di dunia—bertumpu pada satu mantra: pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan dilihat sebagai tanda kemajuan. Semakin tinggi angka PDB per kapita, semakin dianggap berhasil. Berhasil menjadi negara maju, konon katanya!
Namun, belakangan kita mulai memetik hasil pahitnya:
Saat perubahan iklim mempercepat bencana, saat geopolitik makin tidak pasti, dan saat disrupsi teknologi mengubah semua sektor — kita tidak bisa hanya menambal sistem lama, laksana servis mobil listrik dengan suku cadang kereta uap. Kita harus mengganti fondasi pembangunan nasional kita. Pembangunan Regeneratif!
Apa Itu Pembangunan Regeneratif?
Berbeda dengan pembangunan konvensional yang bersifat degeneratif (menguras sumber daya), pendekatan Pembangunan Regeneratif justru:
Ini bukan konsep utopis. Ini jawaban praktis atas pertanyaan:
“Apa arti kemajuan bangsa yang bisa diwariskan ke generasi berikutnya?”
Negara-negara seperti Selandia Baru, Bhutan, bahkan kota-kota seperti Amsterdam dan Medellín sudah mulai mempraktikkannya.
Indonesia? Kita belum terlambat — tapi jendela kesempatannya jelas sekali makin sempit.
Masihkah kita ingat cita-cita luhur bangsa Indonesia? Cita-cita yang sangat mulia tentunya:
Jika ingin tercapai, Indonesia jelas perlu berbenah. Butuh berubah paradigmanya.
Mengapa Indonesia Butuh Pergeseran Paradigma?
1. Risiko Iklim dan Geopolitik Tak Lagi Abstrak
Banjir bandang, tanah longsor, kekeringan ekstrem, krisis pangan global, hingga disrupsi rantai pasok—semua bukan sekadar kemungkinan. Ini sedang terjadi. Indonesia termasuk salah satu negara yang rentan terhadap krisis iklim.
2. Bonus Demografi Bisa Jadi Bencana Demografi
Jika tidak ada perubahan sistemik, kita hanya akan menciptakan angkatan kerja besar yang frustrasi: berpendidikan tinggi tapi tidak terpakai, melek digital tapi kehilangan makna.
3. Ekonomi Ekstraktif Tidak Lagi Berkelanjutan
Model ekonomi berbasis ekstraksi—batubara, sawit, tambang—mungkin menyumbang devisa, tapi meninggalkan kerusakan jangka panjang yang lebih mahal dari apa yang kita peroleh.
4. Ketidakadilan Wilayah Memicu Disintegrasi Sosial
Ketimpangan pusat-daerah, Jawa-Luar Jawa, kota-desa, tidak akan terselesaikan tanpa perubahan orientasi pembangunan: dari pusat ke komunitas, dari skala besar ke sistem lokal yang kuat.
Lima Pilar Paradigma Baru: Regenerasi Sosial-Ekologis
Apa saja pilar kunci paradigma Pembangunan Regeneratif Indonesia?
Pembangunan ekonomi tak boleh lagi sekadar eksploitasi sumber daya. Kita perlu mendorong ekonomi sirkular, inovasi berbasis pengetahuan lokal, dan UMKM yang berjejaring dalam ekosistem lestari.
Dekarbonisasi bukan semata soal panel surya atau kendaraan listrik. Ini soal akses energi bersih yang adil untuk seluruh rakyat — termasuk masyarakat adat dan pedesaan.
Negara tidak cukup hanya mengatur. Ia harus memfasilitasi kolaborasi, membuka ruang partisipasi, dan mendorong inovasi sosial. Birokrasi perlu berubah dari kontrol ke ekosistem pemberdayaan.
Setiap daerah punya potensi unik. Jangan semua harus tumbuh seperti Jakarta. Keadilan bukan memberi sama rata, tapi merancang ulang sistem fiskal dan kewenangan agar setiap wilayah bisa hidup layak sesuai konteksnya.
Ketahanan bukan sekadar respons bencana. Ini mencakup keamanan pangan lokal, sistem perlindungan sosial adaptif, dan kapasitas kolektif menghadapi krisis multidimensi.
Paradigma Regeneratif menempatkan rakyat dan alam bukan sebagai objek pembangunan, melainkan subjek dan mitra kehidupan bersama.
Siapa yang Bisa Mendorong Perubahan Ini?
Perubahan paradigma tidak mungkin datang dari atas semata. Kita perlu:
Tidak cukup hanya satu aktor. Kita jelas butuh whole-of-society transformation.
Menuju 2045: Dari Imajinasi ke Tindakan?
Tahun 2045 tinggal 20 tahun lagi.
Jika tidak kita ubah sekarang, Indonesia hanya akan menjadi bangsa besar yang kelelahan mengurus luka-luka ekologis dan konflik sosial.
Namun, jika kita berani berubah, kita bisa menjadi teladan dunia.
Paradigma Regeneratif bukan soal “kembali ke alam”, tapi soal maju bersama secara holistik.
Membangun teknologi tinggi dengan akar sosial yang dalam.
Membangun ekonomi yang kompetitif sekaligus welas asih.
Membangun negara kuat yang tidak menindas, tapi merangkul.
Dan semuanya dimulai dari pertanyaan:
"Apakah kita siap melepaskan pertumbuhan semu untuk kehidupan yang sungguh-sungguh berkeadaban dan berkemajuan?"
Jika artikel ini menggugah Anda, mari teruskan diskusinya, sebarkan visinya, dan dorong tindakan nyatanya. Masa depan Indonesia tidak akan menunggu kita — Kitalah yang harus bergerak ke masa depan.
----- AK20250526-----
NarasiBaruIndonesia (#1): Semuanya berupa gagasan, pemikiran, dan harapan masa depan, yang dituangkan secara santai tapi serius maupun serius tapi santai. Situasional, menggugah kesadaran literasi terhadap hal-hal yang menjadi kepentingan publik. Gunakan artikel ini secara bijak dan seperlunya. Komunikasi: [email protected].

