Konten dari Pengguna
Kru Bajak Laut Luffy Nyasar ke Sayung: Kirain Egghead, Ternyata Banjir Rob!
13 Mei 2025 14:46 WIB
·
waktu baca 3 menit
Kiriman Pengguna
Kru Bajak Laut Luffy Nyasar ke Sayung: Kirain Egghead, Ternyata Banjir Rob!
Sayung tenggelam akibat rob, erosi, dan perubahan iklim, Sayung mengajarkan kita pentingnya peduli lingkungan. Di sayung belum tentu kita temukan harta karun One Piece, tapi di sini ada pelajaran tentAKBAR AHMAD SISWANTO
Tulisan dari AKBAR AHMAD SISWANTO tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan jika Bajak Laut Luffy tiba bukan di Pulau Egghead, tetapi pada pesisir Sayung, Demak. Mereka tidak akan disambut oleh Kursi kekuasaan, melainkan oleh perahu nelayan yang terparkir di jalan desa yang kini terendam banjir rob. Di tempat ini, lautan tidak lagi menjadi ajang petualangan, tetapi sebuah ancaman yang selalu mendatangi mereka setiap hari.
Anime One Piece, karya legendaris Eiichiro Oda dalam bentuk anime dan manga, telah membawa jutaan penggemar menjelajahi lautan, berburu harta karun one piece, dan mengungkap kisah yang terlupakan. Namun di dunia nyata, di Sayung, Demak, masyarakat setempat sedang menjalani pengalaman yang sangat berbeda—bukan kejar-kejaran dengan One Piece, melainkan usaha untuk menemukan daratan yang secara perlahan menghilang ditelan air laut.
Sayung bukanlah pulau yang misterius seperti laugh Tale. melainkan sebuah kecamatan di Jawa Tengah yang saat ini tengah menjadi saksi dampak perubahan iklim. Area ini sedikit demi sedikit mengalami penenggelaman akibat erosi, penurunan tanah, dan rob yang semakin parah dari tahun ke tahun. Warga berpindah, jalan-jalan berubah jadi sungai mendadak, dan lahan pertanian bertransformasi menjadi tambak, jalan pantura Semarang Demak terkena dampak. Dalam sepuluh tahun terakhir, peta Sayung seolah mengalami “timeskip” bukan berkat inovasi Vegapunk, melainkan karena ketidaksiapan menghadapi bencana yang sesungguhnya telah lama diperkirakan.
Menariknya, One Piece juga memiliki narasi serupa. Dalam dunia para bajak laut, terdapat banyak pulau yang hilang dan tenggelam, mengalami perubahan bentuk, bahkan hilang akibat perang atau bencana alam. Sebagai contoh, Pulau Ohara dihancurkan karena menyimpan fakta sejarah. Di sisi lain, Sayung secara perlahan dihapus oleh realita pahit dari pembangunan yang sering kali hanya terfokus pada pusat kota saja, sementara desa-desa pesisir dibiarkan seperti pulau-pulau terasing dalam Grand Line.
Seandainya kru Topi Jerami benar-benar tiba di Sayung, mungkin Nami akan segera mengeluarkan peta dan mempertanyakan: “Apakah pemerintah dunia (Demak) di sini tidak menyadari bahwa permukaan laut sudah meningkat beberapa meter?” Sayangnya, balasannya mungkin hanyalah hembusan angin laut yang sejuk namun menyisakan rasa dingin di hati warga yang terpaksa membangun rumah dua kali, memindahkan sekolah anak-anak mereka, sekolah dibawah kolong sekolah, atau menyaksikan rumah mereka hilang dalam gelombang.
Jika Luffy peduli terhadap keadilan dan memori yang hilang, maka kita juga harus peduli terhadap Sayung yang perlahan-lahan kehilangan identitasnya akibat kurangnya perhatian dari mereka dan tindakan nyata dari pihak-pihak berkuasa. Ini bukan hanya tentang air laut yang memasuki rumah, tetapi mengenai bagaimana kawasan pesisir menjadi korban dari janji-janji yang mengapung seperti kapal karam di lautan.
Meskipun kita mungkin belum menemukan One Piece, di Sayung kita dapat menemukan pelajaran: bahwa menjaga lingkungan, mendengar suara masyarakat kecil, dan merawat sejarah adalah harta yang jauh lebih berharga dibanding apapun yang terkandung di Raftel.

