Konten dari Pengguna
BOBIBOS dan Pertanyaan Besar: Pemerintah Dukung Inovasi Lokal atau Menghalangi?
9 November 2025 11:41 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
BOBIBOS dan Pertanyaan Besar: Pemerintah Dukung Inovasi Lokal atau Menghalangi?
Masalahnya, sejarah kita tidak terlalu ramah pada inovasi lokal. Banyak terobosan anak bangsa yang macet di ujung regulasi, terganjal birokrasi, atau kalah oleh kepentingan industri besar. Akbar Pelayati
Tulisan dari Akbar Pelayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun kampus di Indonesia melahirkan ribuan sarjana baru. Mereka kompeten, punya kemampuan, dan siap bekerja. Tapi realitasnya tidak seindah ijazah: banyak dari mereka menganggur bukan karena tidak berkualitas, melainkan karena lapangan kerja yang tidak tumbuh secepat jumlah lulusan. Kita kekurangan industri baru, sementara inovasi lokal yang seharusnya bisa membuka peluang malah sering terhambat di negeri sendiri.
Di tengah kondisi itu muncul BOBIBOS, bahan bakar alternatif karya anak bangsa yang sedang ramai dibicarakan. Terlepas dari pro-kontranya, potensi ekonominya jelas: jika dikembangkan serius, BOBIBOS bisa menciptakan ribuan pekerjaan, mulai dari petani bahan baku, teknisi pabrik, tenaga laboratorium, hingga sektor distribusi. Ini bukan cuma produk unik ini peluang industri baru yang bisa memperkuat kemandirian energi Indonesia.
Masalahnya, sejarah kita tidak terlalu ramah pada inovasi lokal. Banyak terobosan anak bangsa yang macet di ujung regulasi, terganjal birokrasi, atau kalah oleh kepentingan industri besar. Ketika suatu inovasi dianggap berpotensi menggeser kenyamanan pasar yang sudah mapan, hambatannya tiba-tiba muncul di mana-mana. Padahal jika negara benar-benar mendukung, proses uji kelayakan bisa berjalan cepat, transparan, dan objektif.
Karena itu, pemerintah seharusnya tidak sekadar memberi apresiasi. Dukungan nyata dibutuhkan: percepatan uji, pendampingan riset, dan perlindungan dari intervensi yang dapat mematikan langkah inovator lokal. Mengabaikan potensi BOBIBOS berarti mengabaikan peluang lapangan kerja bagi generasi muda yang selama ini menunggu pintu industri terbuka.
Di sisi lain, mahasiswa dan publik juga perlu mengawal isu ini. Bukan untuk membela membabi buta, tapi untuk memastikan prosesnya berjalan bersih, adil, dan tidak ada kepentingan tersembunyi yang membuat inovasi ini terhenti di tengah jalan.
Pada akhirnya, BOBIBOS adalah ujian sederhana bagi negara: apakah kita benar-benar siap memberi ruang bagi inovasi lokal, atau kita masih nyaman menjadi konsumen teknologi dari negara lain? Jika pemerintah serius ingin memperkuat ekonomi dan membuka lapangan kerja baru, maka inovasi seperti BOBIBOS tidak boleh dibiarkan berhenti sebelum berkembang. Ini bukan hanya soal bahan bakar ini soal masa depan industri Indonesia.

