Konten dari Pengguna

Kohati dan Cinta: Pemberdayaan Wanita dalam Peradaban

Akbar Pelayati
Alumnus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dan Masyarakat biasa di Kolaka Utara
4 Juli 2025 16:48 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Kohati dan Cinta: Pemberdayaan Wanita dalam Peradaban
Tulisan ini menyoroti ketidakadilan terhadap perempuan dan pentingnya cinta yang memuliakan, bukan menindas. Akbar Pelayati menegaskan bahwa pemberdayaan perempuan—melalui peran seperti Kohatim
Akbar Pelayati
Tulisan dari Akbar Pelayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto: Ilustrasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Sumber: AI)
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Ilustrasi Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Sumber: AI)
Cinta adalah sebuah kata yang tak asing di telinga kita. Namun, sering kali maknanya begitu luas dan kompleks, mencakup beragam bentuk perasaan dan hubungan manusia. Ketika kita berbicara tentang cinta, sering kali kita mengarahkannya kepada sosok wanita—makhluk yang begitu indah, lembut, dan penuh kelembutan, hasil ciptaan Tuhan. Wanita adalah inti dari banyak bentuk cinta yang ada. Namun, di balik kelembutannya, wanita adalah pribadi yang utuh, dengan identitas, tujuan, dan nilai-nilai yang tak sepenuhnya bergantung pada cinta dalam bentuk romantis. Cinta, pada hakikatnya, adalah rasa yang lebih universal—muncul dalam banyak bentuk, mulai dari kasih sayang orang tua, persahabatan sejati, hingga pengabdian tanpa syarat. Bahkan, cinta kepada Tuhan yang Maha Esa turut mewarnai perjalanan hidup kita. Cinta tidak terikat pada satu bentuk saja, melainkan mengalir dalam beragam arah yang memberi makna. Fenomena Tertindasnya Wanita di Era Modern Namun, di balik segala keindahan dan daya tarik yang dimiliki wanita, ada banyak fenomena yang mencerminkan ketidaksetaraan gender yang masih terus berlanjut. Salah satunya adalah standar kecantikan yang tidak realistis. Di zaman modern ini, media sosial dan industri kecantikan sering kali menciptakan gambaran ideal tentang wanita yang sempit—kulit cerah, tubuh langsing, dan wajah simetris. Standar ini tidak hanya menekan wanita untuk memenuhi citra tubuh tertentu, tetapi juga dapat menyebabkan rasa tidak percaya diri, gangguan makan, bahkan masalah kesehatan mental yang serius. Tidak hanya di ranah kecantikan, ketidaksetaraan ini juga muncul di dunia kerja dan kepemimpinan. Posisi-posisi penting, seperti presiden, direktur utama, atau kepala desa, sering kali lebih sering diisi oleh laki-laki. Di banyak budaya, perempuan dianggap tidak pantas atau tidak cukup tegas untuk menjadi pemimpin. Di beberapa daerah, anak perempuan bahkan tidak didorong untuk melanjutkan pendidikan tinggi karena dianggap tidak akan bekerja dan lebih baik tinggal di rumah. Fenomena ini semakin memperlihatkan kesenjangan besar antara gender yang mempengaruhi kesempatan hidup perempuan. Selain itu, kekerasan terhadap perempuan—baik fisik, seksual, psikologis, maupun ekonomi—masih menjadi masalah yang sangat serius. Dalam banyak rumah tangga, perempuan sering kali menjadi korban kekerasan fisik oleh pasangannya, bahkan dengan alasan yang sangat sepele. Kekerasan seksual dalam rumah tangga, di mana perempuan dipaksa untuk berhubungan seksual tanpa persetujuan, masih menjadi masalah besar. Kekerasan psikologis, seperti pelecehan verbal dan pengendalian berlebihan oleh pasangan, juga merusak mental dan kepercayaan diri perempuan. Di dunia kerja, perempuan sering kali terjebak dalam kekerasan ekonomi, seperti tidak diberikan akses terhadap gaji mereka atau dipaksa bekerja tanpa upah yang layak. Kekerasan berbasis siber juga semakin meningkat, dengan perempuan menjadi target pelecehan di media sosial atau bahkan ancaman kekerasan yang tidak mendapatkan penanganan serius. Mengapa Ketidakadilan Ini Terus Berlanjut? Pertanyaan besar yang muncul adalah, mengapa ketidakadilan terhadap wanita ini terus berlanjut, meskipun mereka adalah sumber kehidupan dan peradaban? Dalam lagu Wanita karya The Panas Dalam, disebutkan bahwa tanpa wanita, kehidupan Adam akan sunyi. Namun, meskipun wanita adalah inti dari kehidupan dan peradaban, mereka sering kali tertindas dan direndahkan. Apa yang menyebabkan ketidakadilan ini terus berlangsung? Salah satu jawabannya bisa ditemukan dalam adanya struktur sosial yang masih patriarkis, di mana laki-laki lebih sering diberikan hak dan kesempatan lebih besar dibandingkan perempuan. Struktur ini sudah mengakar dalam budaya dan kebijakan sosial yang membentuk persepsi tentang peran wanita dalam masyarakat. Pentingnya Merawat dan Menghormati Wanita Plato, seorang filsuf besar, pernah mengatakan bahwa wanita memiliki peran penting dalam masyarakat dan seharusnya diberikan kesempatan yang setara dengan pria untuk berkembang, berpendidikan, dan berpartisipasi dalam kehidupan sosial dan politik. Dalam karya terkenalnya, Republik, Plato berpendapat bahwa meskipun wanita dan pria memiliki perbedaan fisik, mereka memiliki kemampuan rasional dan moral yang sama untuk mencapai kebajikan. Oleh karena itu, wanita seharusnya tidak diperlakukan lebih rendah dan harus diberikan kesempatan untuk berperan dalam tugas-tugas sosial dan kepemimpinan. Pandangan Plato ini, meskipun dipengaruhi oleh norma zamannya, lebih progresif dibandingkan banyak filsuf lainnya yang lebih skeptis terhadap kemampuan wanita. Begitu juga dengan kenyataan bahwa kita, sebagai masyarakat, harus terus berjuang untuk mewujudkan kesetaraan kesempatan bagi perempuan, bukan hanya dalam dunia pendidikan, tetapi juga dalam segala aspek kehidupan sosial dan politik. Kohati: Wadah Pemberdayaan Wanita Kehadiran Korps HMI Wati (Kohati) memiliki peran penting dalam memberdayakan wanita. Kohati bukan hanya sebuah wadah, tetapi sebuah ruang yang penuh potensi untuk mengembangkan wanita menjadi pemimpin yang tangguh dan visioner. Sebagai bagian dari Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Kohati bertujuan untuk menciptakan perempuan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga dalam peran sosial dan politik. Kohati mengingatkan kita bahwa peradaban ini akan berkembang seiring dengan pemberdayaan wanita, dan dunia yang lebih baik hanya akan tercipta ketika wanita diberikan ruang untuk bersinar dan berkontribusi. Kehadiran Kohati adalah seruan bagi seluruh masyarakat, khususnya pria, untuk selalu mencintai, menghormati, dan merawat wanita. Wanita, sebagai rahim peradaban, memiliki kunci untuk masa depan yang lebih baik. Pemberdayaan wanita bukan hanya soal memberikan kesempatan yang sama, tetapi juga merawat dan mengangkat martabat mereka dalam setiap aspek kehidupan.
Penulis: Akbar Pelayati
*Kader Himpunana Mahasiswa Islam Majelis Penyelamat Organisasi (HMI MPO) Cabang Makassar.
Trending Now