Konten dari Pengguna

Tentang Wisuda: Antara Imajinasi dan Kenyataan

Akbar Pelayati
Alumnus Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar dan Masyarakat biasa di Kolaka Utara
20 Mei 2025 16:35 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Tentang Wisuda: Antara Imajinasi dan Kenyataan
Wisuda selalu dibingkai sebagai klimaks dari perjuangan intelektual. Dianggap sebagai pencapaian tertinggi dari proses pendidikan formal, ia dirayakan dengan penuh suka cita. Namun, di balik toga dan
Akbar Pelayati
Tulisan dari Akbar Pelayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi wisuda. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi wisuda. Foto: Shutter Stock
Wisuda selalu dibingkai sebagai klimaks dari perjuangan intelektual. Dianggap sebagai pencapaian tertinggi dari proses pendidikan formal, ia dirayakan dengan penuh suka cita. Namun, di balik toga dan gelar sarjana, ada ruang-ruang kosong yang sering tak dibicarakan secara terbuka. Banyak lulusan merasa hampa, bahkan tersesat, tak lama setelah prosesi wisuda usai.
Fenomena ini bukan tanpa sebab. Dalam pandangan sosiolog Prancis, Émile Durkheim, pendidikan adalah alat sosialisasi yang menginternalisasi nilai-nilai sosial ke dalam diri individu. Namun, ketika individu telah menyelesaikan pendidikan formal dan masuk ke masyarakat, mereka dihadapkan pada realitas sosial yang jauh lebih kompleks dan penuh tuntutan pragmatis. Di sinilah banyak lulusan merasa “terlempar” ke dunia yang tak sepenuhnya dipahami sebelumnya.
Sejak kecil, kita ditanamkan cita-cita berjenjang: dari SD ingin ke SMP, dari SMP ingin ke SMA, lalu kuliah, dan akhirnya menyandang gelar sarjana. Dalam istilah Jean Baudrillard, realitas pendidikan kadang lebih banyak dipenuhi oleh “simulacra”—citra-citra palsu yang kita bangun atas sistem pendidikan, seakan gelar sarjana adalah jaminan sukses. Padahal, kenyataan tidak sesederhana itu.
Saya sendiri merasakannya. Sehari setelah wisuda, euforia itu segera memudar. Muncul pertanyaan mendasar: “Ke mana saya setelah ini?”Tidak sedikit yang merasa gelar sarjana tidak secara langsung menjawab kebutuhan hidup pragmatis—yakni kebutuhan akan pekerjaan dan kestabilan ekonomi. Di sinilah terasa bahwa wisuda bukanlah akhir yang menenangkan, melainkan awal dari sebuah babak baru yang justru lebih menantang.
Filsuf eksistensialis seperti Sþren Kierkegaard dan Jean-Paul Sartre melihat kegelisahan pasca-keputusan besar sebagai hal yang manusiawi. Wisuda, dalam hal ini, adalah titik keputusan: kita meninggalkan satu fase dan memasuki fase yang lain, yang belum tentu kita pahami. Sartre menyebut ini sebagai “beban kebebasan”—manusia bebas menentukan jalan hidupnya, tetapi kebebasan itu datang bersama kegelisahan dan ketidakpastian.
Di sisi lain, tokoh seperti Erich Fromm dalam bukunya Escape from Freedom menyatakan bahwa dalam masyarakat modern, banyak orang justru takut pada kebebasan yang datang setelah institusi (seperti pendidikan) selesai membentuk mereka. Wisuda melepaskan kita dari sistem, namun membuat kita bertanggung jawab atas diri sendiri sepenuhnya. Ini bukan hal yang mudah, dan bukan semua orang siap menghadapinya.
Karenanya, cara berpikir sarjana yang ingin “kembali” ke masa mahasiswa, atau bahkan merasa ingin mengulang masa lalu yang lebih nyaman, bukanlah bentuk kemunduran, melainkan respon atas tekanan realitas. Ini mirip dengan anak SD yang ingin kembali ke TK karena menganggap tantangan yang dihadapinya terlalu berat. Meskipun terdengar kekanak-kanakan, ini adalah bentuk kegelisahan eksistensial yang nyata.
Wisuda, pada akhirnya, tidak bisa dilihat sebagai tujuan akhir pendidikan. Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed menyebut bahwa pendidikan sejatinya adalah proses pembebasan—bukan sekadar pemberian gelar. Maka, gelar sarjana hanyalah satu titik kecil dari proses panjang pembentukan diri sebagai manusia utuh.
Dengan demikian, barangkali sudah waktunya kita berhenti memaknai wisuda secara seremonial semata. Kita perlu melihatnya sebagai awal dari tanggung jawab baru—bertumbuh sebagai individu yang kritis, kreatif, dan sadar bahwa kehidupan jauh lebih luas daripada sekadar kampus dan ijazah.
Trending Now