Konten dari Pengguna
Woitombo, Desa Kecil yang Menyalakan Obor Literasi Sulawesi Tenggara
20 Agustus 2025 8:33 WIB
·
waktu baca 2 menit
Kiriman Pengguna
Woitombo, Desa Kecil yang Menyalakan Obor Literasi Sulawesi Tenggara
Woitombo, sebuah desa di Kecamatan Lambai, Kolaka Utara, kini dikenal dengan sebutan Desa Literasi. Julukan ini lahir bukan tanpa alasan. Melalui perpustakaan desa Woipedia yang disebut terbesar di SuAkbar Pelayati
Tulisan dari Akbar Pelayati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kumparan.com - Siapa sangka, dari sebuah kampung di ujung Kecamatan Lambai, Kolaka Utara, lahir sebuah gerakan besar yang kini menggema ke seluruh Sulawesi Tenggara. Nama kampung itu Woitombo. Orang-orang menyebutnya dengan sebutan baru: Desa Literasi.
Sebutan ini bukan asal tempel. Woitombo benar-benar hidup dengan semangat literasi. Perpustakaan desanya, Woipedia, bahkan disebut sebagai yang terbesar di Sulawesi Tenggara. Bangunan itu bukan sekadar tempat menyimpan buku, tapi ruang berkumpulnya ide, tempat pelajar berdiskusi, dan rumah belajar masyarakat.
Yang menarik, Woitombo tidak menjadikan literasi sebagai kegiatan kaku. Ia merayakannya dengan cara yang meriah dan kreatif. Lewat Kemah Rakyat Literasi, ratusan peserta dari berbagai kalangan datang: pelajar, mahasiswa, jurnalis, komunitas, sampai relawan. Mereka ikut kelas menulis, parenting, latihan kepemimpinan, fun games, hingga pentas seni di malam puncak. Rasanya seperti festival, tapi intinya tetap sama: membumikan literasi.
“Literasi itu bukan cuma soal membaca buku, tapi mengubah cara berpikir kita,” kata Kepala Desa Woitombo, Muhammad Akbar. Kalimat itu mencerminkan semangat desa ini: menjadikan literasi sebagai budaya hidup, bukan sekadar aktivitas.
Bagi masyarakat, literasi sudah menjadi energi baru. Anak-anak punya ruang menyalurkan bakat, orang tua belajar mendampingi dengan bijak, dan pemuda punya panggung untuk berkreasi. Bahkan pemerintah daerah dan berbagai komunitas lintas wilayah ikut mendukung, membuktikan bahwa apa yang dimulai dari desa bisa merambat ke lebih luas.
Woitombo memberi pesan sederhana tapi kuat: desa tidak selalu identik dengan keterbelakangan. Justru dari desa, peradaban bisa tumbuh jika ada semangat belajar dan kerja bersama.
Kini, setiap kali orang menyebut “Woitombo Desa Literasi”, yang terbayang bukan hanya sebuah titik di peta Kolaka Utara, melainkan sebuah cerita tentang keberanian bermimpi. Sebuah kampung kecil yang berani menunjukkan bahwa dengan buku dan kebersamaan, perubahan nyata bisa dimulai dari mana saja.
Penulis: Akbar Pelayati, S.Ag
Merupakan masyarakat biasa yang tinggal di Kolaka Utara.

