Konten dari Pengguna

Ketika Saya Berhenti Bertanya “Kalau Sudah Takdir, Untuk Apa Berusaha?”

Akhmad Sigit Adiwibowo
Penulis Buku "Kaizen dalam Akuntansi: Panduan Praktis Perbaikan Proses Penyusunan Laporan Keuangan."
4 Desember 2025 7:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Ketika Saya Berhenti Bertanya “Kalau Sudah Takdir, Untuk Apa Berusaha?”
Refleksi tentang makna usaha dalam menjalani takdir. Berdasarkan pengalaman kehilangan, penulis menegaskan bahwa respons manusia menentukan arah hidup. #userstory
Akhmad Sigit Adiwibowo
Tulisan dari Akhmad Sigit Adiwibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi Diagram Manusia. Foto: Dokumentasi Pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Diagram Manusia. Foto: Dokumentasi Pribadi.
Suatu waktu saya pernah berpikir sederhana: jika segala sesuatu sudah ditetapkan oleh Allah, bukankah apa pun yang dilakukan tidak akan mengubah hasilnya? Logika itu tampak masuk akal ketika pertama kali muncul dalam pikiran. Pertanyaan tersebut tidak langsung hilang, tetapi justru diam dan terus bergema dalam waktu yang cukup lama.
Saya tumbuh dengan keyakinan bahwa segala yang terjadi dalam hidup—bahkan hal yang paling kecil sekali pun—sudah diketahui dan ditetapkan oleh Allah. Pemahaman ini awalnya membuat saya merasa bahwa usaha mungkin tidak banyak berarti. Hingga pelan-pelan, saya mulai mempelajarinya secara lebih serius dan menemukan bahwa cara pandang saya belum tepat.
Dalam telaah keagamaan, takdir terbagi menjadi dua. Takdir mubram adalah ketetapan mutlak, tidak dapat diubah oleh siapa pun, seperti kematian. Selain itu, takdir muallaq masih dapat bergeser melalui usaha, doa, dan tindakan. Pemahaman ini mengubah cara saya melihat hubungan antara takdir dan ikhtiar, bahwa manusia tetap diberi ruang untuk menentukan sikap dan jalan hidup, meski hasil akhirnya hanya Allah yang mengetahui.
Ilustrasi akses jalan di tengah hutan Foto: Dok. Istimewa
Semua itu terasa sangat teoritis hingga sekitar satu setengah tahun lalu, ketika istri saya meninggal dunia. Peristiwa itu menjadi pengingat langsung bahwa ada hal-hal yang memang tidak bisa dinegosiasikan. Tidak ada argumen, tidak ada penundaan, tidak ada opsi untuk menolak. Saat itu, saya melihat dengan jelas makna takdir mubram.
Namun setelah peristiwa itu terjadi, saya berhadapan dengan ruang yang berbeda: ruang pilihan. Saya bisa memilih untuk menyalahkan keadaan dan terus bertanya “mengapa ini harus terjadi?” Atau saya bisa mencoba menerima dengan hati yang lapang, tetap menjalani hidup dengan baik, dan menjadikan peristiwa itu sebagai bagian dari perjalanan yang harus saya lalui. Setiap respons membawa konsekuensi, menyusun arah berikutnya, dan secara perlahan membentuk versi diri yang baru.
Pada titik itu saya mengerti. Takdir memang ketetapan, tetapi respons adalah pilihan. Allah Maha Mengetahui seluruh akibat dari pilihan yang kita ambil, tetapi keputusan untuk memilih tetap berada pada manusia. Sikap baik yang diambil mendatangkan pahala dan sikap keliru mendatangkan konsekuensi serta dosa. Sejak saat itu, logika saya berubah. Saya tidak lagi mempertanyakan “kalau sudah takdir, untuk apa berusaha?” melainkan memahami bahwa usaha adalah cara manusia menjalani takdir dengan martabat.
Ilustrasi pria bekerja. Foto: Shutterstock
Diagram sederhana dalam ilustrasi hanya membantu memahami konsep hubungan antara takdir mubram, respons, konsekuensi, dan pilihan lanjutan. Dalam tampilan visual, alurnya memang terlihat linear. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Hidup tidak berjalan dalam garis lurus. Setiap keputusan dipengaruhi oleh niat, kondisi emosi, waktu, lingkungan, konteks sosial, dan berbagai faktor yang kadang tidak kita sadari.
Manusia hanya mampu melihat potongan kecil dari rangkaian sebab akibat. Kita memetakan sejauh yang sanggup dipahami. Allah mengetahui seluruh keterkaitan, bahkan sebelum pilihan itu dibuat. Karena pada hakikatnya, Dia telah menyusun diagram kehidupan kita jauh sebelum kita dilahirkan dan setiap manusia memiliki diagramnya sendiri yang tidak pernah sama.
Kini, saya memaknai usaha bukan sebagai upaya mengubah takdir, melainkan sebagai bentuk tanggung jawab untuk menjalani takdir sebaik mungkin.
Takdir tidak selalu bisa dipilih.
Namun, sikap selalu bisa dipilih.
Dan dari pilihan itulah kualitas kehidupan terbentuk.
“Tugas kita tidak untuk menentukan hasil, tetapi untuk memilih sikap terbaik dalam menjalaninya”.
Jika satu kalimat dari tulisan ini tetap tinggal dalam ingatan Anda, biarlah itu menjadi kalimat tersebut.
Trending Now