Konten dari Pengguna

Memahami Takdir dan Belajar Tawakal

Akhmad Sigit Adiwibowo
Penulis Buku "Kaizen dalam Akuntansi: Panduan Praktis Perbaikan Proses Penyusunan Laporan Keuangan."
10 Desember 2025 22:00 WIB
Β·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Memahami Takdir dan Belajar Tawakal
Tulisan ini mengajak kita memahami kembali makna takdir melalui pengalaman tentang ketidakadilan, kehilangan, dan proses menerima. Dari sana lahir satu kesadaran penting: manusia tidak menentukan hasi
Akhmad Sigit Adiwibowo
Tulisan dari Akhmad Sigit Adiwibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Siluet seseorang berdiri di area terang-gelap, fotoDmitry Spravko via https://unsplash.com/@kaprion
zoom-in-whitePerbesar
Siluet seseorang berdiri di area terang-gelap, fotoDmitry Spravko via https://unsplash.com/@kaprion
Ada masa ketika saya melihat banyak orang menyalahkan takdir setiap kali mereka gagal. Mereka berkata, β€œMemang sudah jalannya,” seolah takdir adalah tempat berlindung dari introspeksi. Saya memahami itu, karena saya pun pernah berada di situasi yang membuat saya mempertanyakan makna takdir.
Saya pernah bekerja dengan sepenuh hati. Namun dalam suatu momen yang membekas, saya melihat seseorang yang jelas-jelas melakukan kesalahan justru dilindungi. Sementara saya, yang menjaga amanah, dianggap angin lalu dan cenderung dicari kesalahannya.
Di situ dada saya terasa kosong.
Saya bertanya dalam hati:
β€œPeran saya ini sebenarnya apa? Untuk apa saya terus berusaha bila kebenaran tidak dihargai?”
Pertanyaan itu mengikuti saya jauh lebih lama daripada yang saya kira.
Kelelahan membuat manusia sering salah membaca keadaan. Kita mengira sedang pasrah, padahal sebenarnya sedang menyerah. Kita berkata, β€œMungkin memang takdir,” padahal mungkin itu hanya bentuk keletihan yang dibungkus rapi.
Pertanyaan-pertanyaan itu mendorong saya untuk kembali memahami takdir.
Apa yang sebenarnya menjadi bagian kita?
Dan apa yang sama sekali tidak bisa kita sentuh?
Perlahan saya menyadari bahwa takdir tidak berdiri dalam satu wajah. Ada hal yang tidak bisa kita ubah. Ada hal yang justru menunggu usaha kita. Kesadaran ini muncul setelah saya berkali-kali merasakan bahwa hidup tidak selalu bergerak mengikuti kehendak kita.
Saya pernah bertahun-tahun berdoa untuk satu hal sederhana: kebahagiaan. Dulu saya pikir kebahagiaan diberikan. Kini saya tahu, kebahagiaan dibentuk. Pelan, melalui proses yang kadang menyakitkan.
Saat ini saya menjalani studi doktoral. Saya tidak tahu bagaimana akhirnya. Namun saya tetap berjalan, karena saya akhirnya mengerti bahwa manusia hanya memegang proses, bukan hasil. Dan kita tetap berdoa bukan karena doa selalu mengubah keadaan. Kita berdoa agar kita tidak runtuh ketika keadaan tidak berubah.
Kursi kosong di ruangan sunyi, foto Jan Antonin Kolar via https://unsplash.com/@jankolar
Beberapa takdir tidak bisa kita ubah. Di sanalah manusia belajar menerima.
Pemahaman saya tentang takdir benar-benar diuji ketika istri saya berpulang. Itu adalah titik paling sunyi dalam hidup saya. Rumah menjadi sepi. Malam menjadi panjang.
Di tengah kesunyian itu, saya mempelajari sesuatu yang tidak pernah saya temukan di buku mana pun:
Menerima bukan berarti tidak terluka.
Menerima adalah keberanian untuk tetap berjalan meski hati retak.
Dari kehilangan itu, saya memahami batas diri.
Dan dari batas itulah tawakal mulai tumbuh.
Tawakal tidak lahir dari kelemahan. Tawakal lahir dari usaha yang sudah diberikan sepenuh hati.
Tawakal paling sulit dilakukan ketika kita sangat berharap.
Namun justru di situlah tawakal menemukan maknanya.
Pasrah sebelum berusaha melahirkan penyesalan.
Tawakal setelah berusaha melahirkan ketenangan.
Langit senja luas, foto EL YOUBI AKRAM via https://unsplash.com/@elyoubi
Tawakal adalah langkah yang tetap maju, meski hati tidak tahu apa yang menunggu di depan.
Kini ketenangan bagi saya sangat sederhana: "apa pun hasilnya, yang penting saya sudah melakukan yang terbaik".
Jika saya bisa berbicara kepada diri saya dan generasi yang lebih muda, saya ingin berkata:
Menjadi yang terbaik adalah takdir.
Namun melakukan yang terbaik adalah pilihan yang selalu kita miliki.
Dan pelajaran terbesar tentang takdir yang saya bawa hingga hari ini adalah ini:
Manusia tidak menentukan hasil.
Manusia menentukan kualitas ikhtiar.
Dari kesadaran itulah ketenangan lahir.
Dan dari ketenangan itulah tawakal tumbuh.
Trending Now