Konten dari Pengguna

Mengapa Kita Harus Menjadi Diri Sendiri?

Akhmad Sigit Adiwibowo
Penulis Buku "Kaizen dalam Akuntansi: Panduan Praktis Perbaikan Proses Penyusunan Laporan Keuangan."
11 Desember 2025 22:00 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Mengapa Kita Harus Menjadi Diri Sendiri?
Menjadi diri sendiri bukan soal tampil berbeda, tetapi berani menjaga nilai yang kita pegang, bahkan saat keadaan tidak mendukung.
Akhmad Sigit Adiwibowo
Tulisan dari Akhmad Sigit Adiwibowo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Bukit-bukit hijau yang bergelombang di bawah langit senja yang berawan, Foto Alessio Patron via https://unsplash.com/@alessiop
zoom-in-whitePerbesar
Bukit-bukit hijau yang bergelombang di bawah langit senja yang berawan, Foto Alessio Patron via https://unsplash.com/@alessiop
Pernahkah kita tiba-tiba bertanya dalam hati, “Sebenarnya saya sedang menjadi siapa?” Pertanyaan seperti ini sering muncul ketika kita berusaha menyesuaikan diri demi membuat orang lain nyaman. Saya pernah mengalaminya sebentar. Tidak lama. Tetapi cukup membuat saya merasa hampa, seolah diri saya perlahan hilang. Dari pengalaman itu saya belajar bahwa kehilangan diri sendiri sering berawal dari hal-hal kecil yang kita anggap sepele.
Kesadaran itu semakin kuat ketika saya bertemu orang-orang yang membuat saya merasa kembali berada di jalan yang benar. Pilihan yang saya ambil terasa sejalan dengan nilai yang saya pegang. Karena itu, ketika saya melihat tindakan yang jelas merugikan orang lain, saya memilih untuk tidak ikut serta. Saya tahu keputusan itu berisiko. Dan benar, saya dijauhi pada saat saya justru membutuhkan bantuan. Namun dari pengalaman itu saya belajar bahwa menjadi diri sendiri berarti berani mempertahankan nilai, bahkan ketika keadaan tidak mendukung.
koridor panjang dengan pintu-pintu dan pemandangan luar ruangan, Foto Prabal Kumar via https://unsplash.com/@prabalkumar
Pengalaman tersebut mengubah cara saya melihat dunia. Dunia sering politis. Banyak orang memakai “wajah berbeda” untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan. Saya memilih untuk tidak melakukannya. Pilihan itu memang membuat jalan saya tidak selalu mudah. Namun perlahan saya belajar bahwa kesulitan justru membantu saya melihat siapa yang benar-benar tulus. Orang yang tetap tinggal adalah mereka yang menghargai kejujuran kita, bukan hanya manfaat yang mereka dapatkan.
Pemahaman saya tentang arti menjadi diri sendiri semakin dalam setelah istri saya berpulang. Kesedihan dan kesunyian pada masa itu membuat saya berhenti sejenak dari hiruk-pikuk hidup. Saya tidak perlu lagi memikirkan bagaimana tampil kuat di depan siapa pun. Dalam keheningan itu, saya melihat diri saya dengan lebih jernih. Saya mulai memahami apa yang benar-benar penting untuk dijaga dan apa yang sebenarnya bisa dilepaskan. Pengalaman kehilangan ini tidak membuat saya kehilangan arah. Justru hal itu meneguhkan hati saya untuk tetap jujur pada diri sendiri dan semakin yakin pada nilai yang selama ini saya pegang.
Kehilangan itu juga mengubah cara saya memandang bahagia. Dulu saya berpikir bahagia adalah ketika sesuatu berjalan sesuai harapan. Sekarang saya melihat bahagia sebagai ketenangan yang muncul ketika kita melakukan yang terbaik versi kita, tanpa menunggu penilaian orang lain. Bahagia adalah kesetiaan pada nilai yang kita pegang: tanggung jawab, ketekunan, dan kejujuran.
Sebuah kursi kulit cokelat yang duduk di samping dinding putih, Foto Evan Wise via https://unsplash.com/@evanthewise
Dalam perjalanan hidup ini, ada dua sosok yang membuat saya berani menjadi diri sendiri: almarhum istri saya dan Ibu saya. Keduanya memiliki karakter kuat dan selalu bangga menjadi diri mereka sendiri. Kami saling mendukung untuk tidak pernah berpura-pura menjadi orang lain, apa pun risikonya. Dari mereka, saya belajar bahwa keaslian justru membuat hubungan menjadi lebih dekat. Sebaliknya, pengalaman hidup juga mengajarkan saya untuk berhati-hati pada orang yang oportunis. Bukan untuk terlihat baik, tetapi agar diri tetap utuh.
Jika saya bisa berbicara kepada diri saya yang masih berusia dua puluhan, saya akan berkata: berharap dan bergantunglah hanya kepada Allah. Dengan begitu, kita tidak perlu takut menjadi diri sendiri. Hidup sebagai orang lain mungkin terlihat lebih mudah di permukaan, tetapi sebenarnya sangat melelahkan. Kita menghabiskan energi untuk mempertahankan topeng yang tidak pernah benar-benar pas.
Sekarang saya memegang satu kalimat sederhana: tidak peduli bagaimana orang menilai, yang penting saya melakukan yang benar dan tidak merugikan siapa pun. Itu sudah cukup menjadi arah hidup saya. Dan mungkin inilah inti dari menjadi diri sendiri: bukan tentang ingin terlihat berbeda, tetapi tentang berani hidup sesuai suara hati. Ketika kita menjaganya, hidup terasa lebih ringan. Dari kelapangan itu, ketenangan tumbuh perlahan.
Trending Now