Konten dari Pengguna

Skripsi dan Tesis Buntu di Olah Data? Mari Kenalan dengan SPSS, STATA, dan EVIEW

Akhmad Sugandi
Statistisi di Badan Pusat Statistik dan Filantropis di Kilau Indonesia
4 September 2025 17:47 WIB
·
waktu baca 5 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Kiriman Pengguna
Skripsi dan Tesis Buntu di Olah Data? Mari Kenalan dengan SPSS, STATA, dan EVIEW
Panduan memilih SPSS, STATA, dan EVIEWS untuk skripsi dan tesis.
Akhmad Sugandi
Tulisan dari Akhmad Sugandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Stata, SPSS atau EViews sumber: DALL-E
zoom-in-whitePerbesar
Stata, SPSS atau EViews sumber: DALL-E
Saya ingin berbagi cerita dari pengalaman pribadi, karena saya masih ingat betul rasanya begadang di akhir semester, menatap tumpukan kuesioner dan layar laptop yang seolah bertanya, "Terus, data ini mau diapakan?" Perasaan itu kembali muncul saat saya lanjut studi lagi. Bingung, pusing, campur aduk.
Buat teman-teman mahasiswa tingkat akhir, bagian 'olah data' ini sering jadi momok. Tiba-tiba nasib skripsi atau tesis bergantung pada software statistik yang namanya saja sudah bikin pusing. Nah, saya mau coba berbagi sedikit peta jalan, dari pengalaman pribadi.
Memilih software statistik itu mirip memilih kendaraan. Ada yang mudah dipakai untuk jalan-jalan santai, ada yang butuh keahlian khusus untuk ngebut di sirkuit. Mari kita bedah tiga yang paling populer di kampus: SPSS, STATA, dan EVIEWS.
SPSS: Si Pintu Gerbang yang Ramah
Hampir semua anak ilmu sosial kenalannya pasti sama SPSS. Gampangnya, SPSS ini seperti mobil matic. Tinggal gas dan rem. Tampilannya mirip Excel, dan semua analisis bisa dilakukan dengan klik menu, tanpa perlu pusing mikirin kode.
Kalau Anda mahasiswa S1, terutama dari jurusan Psikologi, Sosiologi, atau Komunikasi, SPSS ini teman terbaik. Cocok sekali untuk analisis dasar seperti mencari rata-rata, uji beda, sampai regresi sederhana. Tujuannya memang agar kita paham konsep statistiknya dulu, bukan malah pusing sama teknisnya.
Tapi ada satu 'jebakan'-nya: karena terlalu mudah, kita sering lupa mencatat langkah-langkahnya. Saran saya, biasakan pakai tombol "Paste", bukan "OK". Nanti akan muncul catatan perintah (sintaks) dari setiap analisis. Ini penting, karena waktu sidang dosen bisa saja bertanya, "Angka ini asalnya dari mana?" Dengan sintaks, Anda punya bukti yang jelas.
Selain soal lupa langkah, kemudahan klik ini juga punya bahaya lain: godaan untuk "memancing data". Maksudnya? Karena gampang, kita jadi iseng mencoba berbagai uji statistik sampai menemukan hasil yang 'signifikan' (angka p < 0.05). Ini praktik yang kurang sehat dalam riset. Nah, membiasakan diri pakai sintaks bisa jadi rem, karena memaksa kita untuk lebih terencana dan tidak asal coba-coba.
STATA: Untuk yang Mau Lebih Serius
Begitu masuk pascasarjana, saya kenalan dengan STATA. Awalnya jujur saja, saya agak malas. Tampilannya tidak seramah SPSS dan lebih banyak mengandalkan ketik perintah. Rasanya seperti pindah dari mobil matic ke mobil manual, perlu sedikit adaptasi.
Tapi begitu terbiasa, baru terasa kekuatannya. STATA ini andalan untuk riset yang lebih dalam. Kalau Anda mahasiswa S2 atau berencana lanjut S3 di bidang Ekonomi, Kebijakan Publik, atau riset kuantitatif lainnya, menguasai STATA itu hampir wajib.
Kekuatan utamanya ada pada do-file, yaitu skrip yang merekam semua langkah kita, dari membersihkan data sampai jadi tabel akhir. Ini seperti resep masakan yang detail. Siapa pun yang punya resep dan bahan yang sama, pasti hasil masakannya sama. Itulah inti dari riset yang bisa dipercaya.
Satu lagi kekuatan super STATA adalah "ekosistem"-nya. Bayangkan ada sebuah perpustakaan online raksasa tempat para peneliti top dunia berbagi 'alat' analisis terbaru buatan mereka. Butuh metode yang sangat spesifik? Tinggal ketik satu baris perintah, dan alat itu langsung terpasang di STATA Anda. Ini yang membuat STATA selalu relevan dan terdepan.
EVIEWS: Sang Spesialis Data Runtut Waktu
Nah, kalau EVIEWS ini beda lagi. Dia ini pemain spesialis. Kalau SPSS dan STATA itu ibarat pisau serbaguna, EVIEWS ini seperti pisau fillet ikan, tajam sekali untuk satu tugas spesifik: analisis data deret waktu (time-series).
Data deret waktu itu contohnya data inflasi bulanan, harga saham harian, atau pertumbuhan ekonomi kuartalan. Pokoknya, data yang diukur dari waktu ke waktu. Mahasiswa Ekonomi atau Keuangan yang penelitiannya soal peramalan (forecasting) atau analisis pasar modal pasti akan sangat terbantu dengan alur kerjanya yang efisien. Kalau penelitian Anda tidak memakai data jenis ini, mungkin tidak perlu meliriknya.
Bukan Sekadar Alat, Tapi Cara Berpikir
Penting untuk disadari, pilihan software ini ternyata juga membentuk cara kita berpikir sebagai peneliti.
SPSS, dengan kemudahan kliknya, mendorong kita untuk berpikir eksploratif. Kita jadi sering 'berdialog' langsung dengan data: "Coba uji ini, deh. Kalau variabel itu dibuang, gimana ya?" Ini bagus untuk tahap awal.
Sebaliknya, STATA, dengan keharusan memakai skrip, melatih kita untuk berpikir lebih terstruktur dan terencana. Sebelum mulai, kita sudah merancang seluruh alur kerja. Ini adalah disiplin berpikir yang sangat mahal harganya.
Jadi, Baiknya Pilih yang Mana?
Kalau dari pengalaman saya, sarannya sederhana saja:
Ingat, software ini cuma alat bantu. Kunci utamanya tetap ada di kepala kita: pemahaman teori yang kuat, pertanyaan penelitian yang jelas, dan cara kita menafsirkan hasil analisis.
Pilihlah alat yang paling pas dengan kebutuhan Anda. Selamat berjuang, semoga lancar sampai wisuda!
P.S. Kalau nanti Anda mau lebih mendalami dunia data, R dan Python adalah petualangan selanjutnya yang seru untuk dicoba.
Trending Now