Konten dari Pengguna
MBG Korea: Investasi 70 Tahun untuk Generasi Emas
24 Oktober 2025 17:52 WIB
·
waktu baca 5 menit
Kiriman Pengguna
MBG Korea: Investasi 70 Tahun untuk Generasi Emas
Belajar dari Korea, Indonesia harus menyadari bahwa kesuksesan program ini terletak pada kerangka sistem yang kuat, komitmen terhadap standar kualitas, dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan.Al Sandy Suharjono
Tulisan dari Al Sandy Suharjono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Membedah Konsep Layanan Makanan Sekolah Korea Selatan dan Pelajaran Krusial bagi Indonesia
Gelombang kasus keracunan makanan dan tantangan logistik yang menyertai implementasi awal Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Indonesia telah menimbulkan pertanyaan besar: Apakah kita siap menjalankan program sebesar ini? Untuk menjawabnya, ada baiknya kita menengok ke Asia Timur, di mana Korea Selatan telah membuktikan bahwa program serupa bisa menjadi tulang punggung pembangunan manusia, namun prosesnya memerlukan komitmen politik, sistem yang ketat, dan waktu hingga lebih dari tujuh dekade.
MBG Korea, atau secara resmi dikenal sebagai School Meal Service, bukan sekadar pemberian makanan, melainkan proyek ambisius yang bermula dari bantuan kemanusiaan pasca-Perang Korea tahun 1953, hingga kini bertransformasi menjadi salah satu sistem nutrisi sekolah paling terstruktur dan universal di dunia.
Evolusi Panjang MBG Korea: Dari Bantuan hingga Universalitas
Perjalanan panjang MBG Korea membuktikan bahwa kesuksesan tidak datang dalam semalam. Konsep ini melalui fase evolusi yang panjang, dan penting untuk diingat: perjalanan ini tidak bebas dari kegagalan sistem.
Salah satu titik balik paling krusial yang mengubah total sistem pengawasan MBG Korea terjadi pada tahun 2006. Ketika itu, lebih dari 1.700 siswa dari puluhan sekolah di Seoul dan Provinsi Gyeonggi mengalami keracunan massal setelah mengonsumsi katering yang terkontaminasi dari satu pemasok. Insiden ini, diikuti oleh insiden signifikan lainnya seperti keracunan 2.000 lebih siswa pada tahun 2018 akibat kue cokelat yang terkontaminasi bakteri, menjadi "alarm sistem" bagi pemerintah Korea.
Kegagalan yang menyakitkan ini memaksa reformasi total, mengubah pengelolaan katering dari perusahaan swasta besar menjadi pengawasan langsung oleh sekolah yang diawasi oleh ahli gizi profesional.
Waktu 60 hingga 70 tahun yang dibutuhkan Korea untuk menyempurnakan program ini menunjukkan sebuah pelajaran fundamental: MBG adalah maraton, bukan sprint. Kegagalan di awal harus menjadi pemicu reformasi, bukan penghentian program.
Lima Pelajaran Kunci untuk Indonesia
Untuk membenahi program MBG di Indonesia agar menjadi fondasi pembangunan manusia yang kuat—sejalan dengan peran Anda di kebijakan publik dan manajemen proyek—ada lima prinsip utama dari Korea yang harus diadopsi:
1.Memprioritaskan Keamanan dan Gizi: Peran Ahli Gizi dan Dapur Terstandar
Korea Selatan memosisikan MBG sebagai intervensi kesehatan dan pelajarannya tegas: Keamanan Pangan adalah Gerbang Utama Kualitas.
* Transisi dari Katering Terpusat: Pelajaran terbesar dari insiden keracunan massal Korea adalah kebutuhan untuk beralih dari model katering swasta terpusat (yang sulit diawasi) ke sistem dapur sekolah atau SPPG yang terstandar. Dapur yang berada di bawah pengawasan langsung sekolah atau otoritas pendidikan lokal jauh lebih mudah untuk dipastikan kepatuhannya terhadap standar higienis.
* Perekrutan Ahli Gizi: Setiap sekolah diwajibkan memiliki ahli gizi bersertifikat. Tugas mereka bukan sekadar menyusun menu, tetapi juga memberikan konseling gizi kepada siswa dan menjadi pengawas kualitas internal harian di dapur.
* Standar Higienis Mutlak dan Sertifikasi: Pemerintah memperketat Undang-Undang Makanan Sekolah dan mewajibkan pemasok memiliki sertifikasi HACCP. Indonesia harus mengadopsi langkah serupa, memastikan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memiliki sertifikat higienis dan sanitasi yang ketat sebelum beroperasi.
2.Digitalisasi Rantai Pasok dan Transparansi
Di negara kepulauan seperti Indonesia dengan tantangan logistik yang besar, pelajaran dari Korea tentang digitalisasi menjadi sangat vital.
* Sistem Pelacakan Real-Time: Korea menggunakan sistem digital untuk memantau inventaris, jadwal pengiriman, dan suhu makanan. Ini memastikan bahan baku segar dan meminimalkan risiko basi. Indonesia dapat mengadopsi aplikasi sederhana untuk mencatat suhu dan bahan secara real-time dari dapur hingga ke tangan siswa, menutup celah pengawasan yang terbukti lemah pada kasus keracunan saat ini.
* Akuntabilitas Publik: Memberikan akses kepada orang tua untuk melihat menu, sumber bahan baku, dan laporan keamanan pangan secara daring membangun kepercayaan publik yang sempat anjlok akibat insiden keracunan.
3.MBG sebagai Pendidikan Karakter dan Gizi (Shokuiku model Jepang)
Makan siang sekolah di Korea (dan juga Jepang) jauh melampaui urusan logistik; itu adalah sarana pendidikan.
* Keterlibatan Siswa: Anak-anak di Korea dilibatkan dalam proses penyajian dan pembersihan. Hal ini menanamkan nilai kemandirian, tanggung jawab, dan penghargaan terhadap makanan.
* Menggunakan Pangan Lokal dan Segar: Menu Korea fokus pada kesegaran, pangan lokal, dan minim olahan. Prinsip ini harus diterapkan di Indonesia untuk mendukung petani dan UMKM lokal, sambil menjamin makanan yang disajikan aman dan mudah diawasi.
4. Visi Universalitas untuk Menghilangkan Stigma
Arah kebijakan MBG Korea adalah universalitas, yaitu makan gratis untuk semua.
Mengurangi Kesenjangan: Ketika semua siswa makan makanan yang sama, tidak ada lagi stigma atau rasa malu bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, menciptakan lingkungan sekolah yang lebih setara dan inklusif.
5. Kompensasi dan Pelatihan Tenaga Kerja
Suksesnya MBG membutuhkan tenaga kerja yang kompeten dan berdedikasi (ahli gizi dan juru masak).
Kompensasi Kompetitif: Korea memberikan kompensasi yang layak dan pelatihan rutin bagi staf dapur sekolah. Indonesia harus memandang juru masak MBG bukan sekadar pekerja harian, tetapi sebagai personel penting dalam rantai kesehatan nasional.
Kesimpulan
Program Makan Bergizi Gratis adalah sebuah niat baik yang memiliki potensi besar untuk mengatasi stunting dan membentuk generasi penerus yang lebih sehat. Namun, niat baik tidak cukup.
Mengutip pelajaran dari Korea, Indonesia harus menyadari bahwa kesuksesan program sebesar ini terletak pada kerangka sistem yang kuat, komitmen terhadap standar kualitas, dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan. Kasus keracunan massal Korea di masa lalu membuktikan bahwa kelemahan pengawasan akan selalu memicu krisis kepercayaan dan mengancam kesehatan anak.
Dengan memadukan prinsip digitalisasi, akuntabilitas, dan profesionalisme ahli gizi—serta secara bertahap mentransisikan sistem katering ke dapur terstandar—MBG dapat bertransformasi dari potensi krisis menjadi pilar utama pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang cerdas dan produktif.

